Suara Adzan Ketuk Hati Hernandez Jadi Mualaf

Reporter : Sandy Mahaputra
Minggu, 28 September 2014 09:00
Suara Adzan Ketuk Hati Hernandez Jadi Mualaf
"Inilah yang membuat saya yakin untuk menjadi muslim."

Dream - Aaminah Hernandez tumbuh di Amerika Serikat pada 1980-an, masa di mana informasi tentang Islam sangat minim. Bersama adik laki-lakinya, Aaminah tinggal di keluarga yang suka membaca.

Saat itu, media menggambarkan Islam sebagai agama yang keras, agama yang tidak menghormati hak-hak wanita.

Suatu hari, Aaminah membaca otobigrafi Malcom X. Memang, bacaan itu belum menuntunya pada Islam. Namun, sejak itu, ia tak lagi menolak konsumsi babi. Perubahan ini tidak disadarinya.

Selama bertahun-tahun, Aaminah tidak merasa bahagia. Ia dilecehkan, dianiaya dan hidup dalam lingkungan yang keras. Ia pun mengonsumsi narkoba, dan berpesta minuman keras.

Ada satu waktu yang membuat terkejut, adiknya yang dahulu terlibat narkoba dan telah bebas dari penjara telah menjadi pribadi yang berubah.

Adiknya lalu memberitahu Aaminah, bahwa ia kini menjadi seorang muslim. Padahal adiknya itu sebelumnya telah didiagnosis mengidap Skizofrenia, termasuk halusinasi dan depresi akut.

Namun Aaminah melihat sejak dia memeluk Islam, adiknya itu sudah tidak menunjukkan gejala dan tidak membutuhkan pengobatan lagi.

Adiknya itu kemudian menceritakan tentang pengalaman hidupnya sebagai seorang muslim kepada Aaminah. Adik Aaminah juga mengenalkan istrinya yang memakai hijab.

Awalnya, Aaminah merasa risih dengan adik iparnya itu. Namun adik iparnya itu ternyata bersikap lembut dan bahkan bersedia menjaga anak Aaminah selagi dia bekerja.

Aaminah sangat terharu melihat sikap keluarga adiknya itu. Apalagi adik iparnya itu sering berbagi tentang Islam. Dia mulai mengerti busana muslim dan hijab bukan bentuk penindasan terhadap kaum wanita. Tapi sebagai cara Allah menghormati dan menjaga martabat wanita.

Selama tinggal di rumah adiknya, Aaminah kerap mendengar adzan. " Inilah yang membuat saya yakin untuk menjadi muslim," kata dia.

Sebagai mualaf, Aaminah perlu beradaptasi dengan identitas barunya. Beruntung, ia banyak dibantu oleh adiknya. Diajari, wudhu, salat dan zikir.

Setelah mendapatkan pekerjaan yang memungkinkannya mengakses internet. Ia sering membaca informasi tentang Islam dan muslim, termasuk masalah hijab.

Di dunia maya, Aaminah membuat jaringan komunikasi dengan muslimah yang lain. " Jujur iman saya kerap naik turun. Tapi teman-teman saya yang muslim membantu saya untuk berubah," kata dia. Setelah menjadi mualaf, ia merasa menjalani hidup lebih baik setiap harinya. 

(Sumber: Onislam.net)

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik