Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
(Foto: Dompet Dhuafa Di Palu)
Dream - Dalam setiap pekerjaan kemanusiaan, terdapat kisah menarik di baliknya yang begitu inspiratif untuk disimak. Setiap relawan memiliki cerita tersendiri di setiap keberangkatannya dalam misi kemanusiaan.
Banyak dari mereka rela meninggalkan rutinitasnya, berpisah sejenak dengan keluarga di rumah, keluar dari zona nyaman serta melepaskan pekerjaannya demi membantu para pengungsi. Hal inilah yang sedang dialami oleh beberapa relawan dari Dompet Dhuafa.

Dokter Muhammad Syahrimal Ishak salah satunya. Dokter relawan Dompet Dhuafa yang berani melepas kenyamanan sebagai dokter di puskesmas untuk berangkat ke medan bencana.
Kini ia resmi melayani para korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi tengah.
“Saya merasa ini adalah panggilan hati untuk menjadi relawan di kawasan bencana. Mungkin ini juga karena cinta, yang menguatkan terjun sebagai relawan. Bismillah,” ucap dr. Muhammad Syahrimal Ishak.

Di sisi lain, Absharina Izzaty sempat mengalami kegundahan hati karena beratnya meminta izin ke mertua. Di sisi lain, ia harus segera menangani trauma masyarakat di pengungsian. Kuatnya keinginan untuk menangani trauma pengungsi, membuatnya penuh yakin untuk misi kemanusiaan ini.
“Alhamdulillah akhirnya saya bisa berangkat sebagai relawan tim Psycological First Aid Dompet Dhuafa dengan beragam upaya izin, dan suami mengijinkan. Dari sanalah (Lombok), saya mendapatkan insight luar biasa bagi kehidupan. Itu yang menambah kebahagiaan saya, bisa berbagi dan bermanfaat untuk orang lain,” tutur Izzaty, berkaca-kaca.

Kemudian ada cerita dari Narwan, salah satu tim respon Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa harus meninggalkan istri tercintanya untuk membantu proses evakuasi korban gempa dan tsunami di Sulawesi tengah.
Narwan baru saja menikahi istrinya dua hari sebelum keberangkatan. Sebagai pengantin baru, tentu saja ada rasa berat saat meninggalkan sang pujaan hati.
“Kamis pagi saya nikah, terus Jumatnya dapat kabar Palu gempa dan tsunami. Eh, Sabtu Subuhnya, saya sudah harus terbang kesana. Dibilang rindu ya pastilah, tapi alhamdulillah istri sudah memahami pekerjaan ini,” cerita Narwan.
Langkah kebaikan tersebut yang mempersatukan tekad kuat dari dr Imal, Izzaty, Narwan dan ratusan bahkan ribuan relawan lainnya. Atas nama kemanusiaan, mereka bersatu membantu sesama.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya