3 Desainer Usung Kekayaan Indonesia

Reporter : Gladys Velonia
Senin, 23 Oktober 2017 10:31
3 Desainer Usung Kekayaan Indonesia
Ada yang terinpirasi dari aksara Jawa, namun ada juga yang mengaku mendapat ide dari balik jendela kamar.

Dream - Keindahan yang terkandung dalam kebudayaan Indonesia menginspirasi tiga desainer yaitu Luthfi Madjid, Yogiswari Pradjanti, dan Sugeng Waskito, untuk menampilkannya dalam rancangan desain fashion menarik. Ketiga desainer tersebut memutuskan untuk berkolaborasi menampilkan koleksi bertajuk 'Origin Diversity' dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2018.

Tiga desainer tersebut pun sepakat menunjukkan perbedaan DNA brand masing-masing dalam garis desain yang menonjolkan keindahan kain Indonesia.

Yogiswari Pradjanti memilih mengusung tema 'Cerita Para Nyonyah', terinspirasi dari kegemaran wanita Indonesia untuk berjelajah. Yogis menggambarkan para wanita Indonesia sebagai sosok yang mandiri, kerap traveling hingga keluar negeri namun tak kehilangan jati diri.

 Yogiswari Pradjanti© dream.co.id

" Jadi dalam koleksi ini bentuk gambar saya itu menceritakan wanita Indonesia berkeliling ke wilayah-wilayah di Indonesia seperti Borobudur, lalu ke New York dan lain sebagainya. Karakter dari wanita Indonesia dalam setiap desain saya itu benar-benar khas budaya Indonesia dengan mengenakan kebaya dan kain panjang," tutur Yogis di Senayan City, Jakarta Selatan, Minggu, 22 Oktober 2017.

Dalam 16 looks yang ditampilkan, Yogis menggambarkan gaya ibu muda yang diterapkan dalam pemilihan bahan dan potongan baju ringan. Kemudian dikolaborasikan dengan memasukkan 350 gambar wanita Indonesia, tanpa pengulangan motif.

Hal itu terlihat jelas dari keindahan ilustrasi wanita bergelung konde yang menggendong bakul berisi botol-botol jamu. Tetapi, yang membuat jadi lebih menarik adalah latar belakang menara Eifel di Perancis. Ada pula corak lain yang menampilkan perempuan berkebaya sedang naik sepeda di depan kincir angin Belanda.

Keindahan alam ikut menjadi sumber inspirasi Lutfi Madjid dalam merancang 25 articles terbarunya. Desainer yang telah 25 tahun bermukim di New York ini bakal menghabiskan waktu setahun ke depan untuk berkarya di Indonesia.

 Aveue A© dream.co.id

Di bawah label Aveue A, Luthfi siap menggebrak panggung mode Tanah Air dengan rancangan ready to wear bekarakter urban. Namun tetap diperindah dengan ornamen payet, rendra, manik dan kristal.

Luthfi mengakui keindahan alam Kota Kembang menjadi daya magis dalam merancang koleksi kapsul Ode to the Earth. Inspirasi datang tanpa terduga, saat ia sedang menikmati pemandangan alam dari balik jendela kamarnya di Bandung.

" Saya merasa senang dan terinspirasi dari pemandangan alam seperti lembah, sungai, gunung, langit sampai ke hal-hal yang abstrak dari alam tersebut," jelas Luthfi.

Berbeda dengan Yogis, Luthfi justru menyasar pasar kelompok usia 25 tahun hingga 60 tahun ke atas. Sehingga sangat mempengaruhi pemilihan warna yang lebih banyak ke nuansa earth tone, indigo, hijau, biru hingga putih.

Lebih lanjut Luthfi menyebut koleksinya ini merupakan busana Gender Bender, atau lebih dikenal unisex.

" Dalam JFW ini saya siapkan 25 koleksi, 16 koleksi untuk perempuan, sembilan koleksi untuk laki-laki," katanya menambahkan.

 Gee Batik© dream.co.id

Sedangkan Sugeng Waskito, sebagai desainer Gee Batik mengaku desainnya kali ini terinspirasi dari huruf aksara Jawa. Dituangkan dalam 16 looks busana malam, yang terangkum dalam gaun bersiluet A-line dan terusan tent.

" Tema desain saya terinspirasi dari elemen budaya terutama batik dan ingin mengangkat aksara Jawa yang merupakan huruf kuno asli Jawa," ucap Sugeng.

Kekuatan rancangannya terletak pada pemilihan motif klasik dan abstrak kontemporer. Sehingga setiap busananya bisa dipadupadankan untuk mendapatkan look yang lebih stylish baik untuk acara formal maupun non-formal.

" Saya ingin batik tidak dianggap kuno, saya ingin orang yang mengenakan batik bisa tetap terlihat fashionable, makanya kali ini saya keluarkan 16 koleksi dengan konsepnya sama yaitu gaun menggunakan siluet A, terusan tent, dengan motif klasik dan kontemporer," tegas Sugeng. (ism) 

Beri Komentar