Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Vaksin AstraZeneca
Dream - Vaksinasi Covid-19 di Indonesia masih terus gencar dilakukan oleh pemerintah. Dalam kondisi tersebut sebuah kabar mengagetkan diumumkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 16 Mei kemarin, yaitu vaksin AstraZeneca Batch (Kumpulan Produksi) CTMAV547 distribusi penggunaannya dihentikan sementara.
Hal tersebut karena BPOM akan melakukan pengujian toksisitas dan sterilitas untuk memastikan keamanan vaksin. Dikutip dari Kemkes.go.id, tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya.
Hanya Batch CTMAV547 yang dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi dan pengujian dari BPOM yang kemungkinan memerlukan waktu satu hingga dua minggu. Ketahui 4 fakta terkait vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 yang digunakan di Indonesia.
Didistribusikan di Jakarta dan Sulawesi Utara
Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 saat ini berjumlah 448.480 dosis. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 3,852,000 dosis AstraZeneca yang diterima Indonesia pada tanggal 26 April 2021 melalui skema Covax Facility/WHO. Batch ini sudah didistribusikan untuk TNI dan sebagian ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.

Muncul laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius yang diduga berkaitan dengan AstraZeneca Batch CTMAV547. Hal ini membuat Komnas KIPI merekomendasikan BPOM untuk melakukan uji sterilitas dan toksisitas terhadap kelompok vaksin tersebut. Pasalnya, tidak ada cukup data untuk menegakkan diagnosis penyebab dan klasifikasi dari KIPI yang dimaksud.

Diketahui bahwa vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca-Oxford dengan nama AZD1222 dikembangkan dengan platform vektor adenovirus. Artinya, vaksin ini dikembangkan dari virus yang biasanya menginfeksi simpanse dan dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia. Virus tersebut membawa sebagian materi dari virus Corona yaitu protein spike.
Kemenkes mengungkap seperti vaksin pada umumnya, vaksin AstraZeneca juga memiliki efek samping. Juru bicara vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan efek samping vaksin AstraZeneca salah satunya yakni demam, tapi akan mereda selama 1-2 hari.
" Iya efek sampingnya demam, pusing, mual. Jadi kalau demam bisa saja. Tapi itu akan hilang dalam 1-2 hari," kata Nadia, dikutip dari Merdeka.com.
Sumber: Kemenkes/ Merdeka.com
Dream - Vaksin Covid-19 buatan Sinopharm, perusahaan farmasi berbasis di Beijing, China, resmi mengantongi Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin ini nantinya akan digunakan untuk Vaksinasi Mandiri atau Gotong Royong.
" Hari ini kami menyampaikan pengumuman bahwa sudah diberikan Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin produksi Beijing by Institute Biological Products," ujar Kepala BPOM, Penny K Lukito, dalam konferensi pers disiarkan kanal YouTube BPOM RI.
Penny mengatakan vaksin Sinopharm dikembangkan dengan platform inactivated virus atau virus yang dimatikan. Vaksin ini didaftarkan di Indonesia dengan hak distribusi dipegang oleh PT Kimia Farma Tbk.
Dia juga memastikan pemberian EUA untuk vaksin Sinopharm sudah melalui tahapan evaluasi secara mendalam terhadap data uji klinik tahap 3.
Dari hasil evaluasi data mutu, produksi, dan studi praklinik dan klinik didapat kesimpulan pemberian vaksin Sinopharm dengan jeda antara 21-28 hari menunjukkan profil keamanan yang dapat ditoleransi.
" Efikasi serta respons untuk meningkatkan imun yang baik," kata Penny.
Vaksin ini menjalani uji klinis tahap 3 di Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain, melibatkan 42 ribu subjek. Tingkat efikasi vaksin ini mencapai 78 persen, dengan persentase antibodi yang terbentuk dalam 14 hari setelah suntikan dosis kedua berbeda pada tiap relawan.
" Pengukuran imunogenisitas setelah 14 hari penyuntikan dosis kedua atau zero positive rate persentase subjek, persentase relawan yang terbentuk antibodinya pada saat uji klinik, netralisasinya adalah 99,52 persen pada orang dewasa dan 100 persen pada lansia," kata dia.
Menurut Penny, vaksin ini akan digunakan untuk orang dewasa usia 18 tahun ke atas. Jeda antara suntikan dosis pertama dan kedua sekitar 21 hingga 28 hari.
" Indikasi yang disetujui adalah untuk membentuk antibodi yang memberikan kekebalan untuk melawan virus SARS-CoV2 dan mencegah Covid-19 pada orang dewasa di atas 18 tahun," ucap dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya