Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Ilustrasi Vaksin (Foto: Shutterstock)
Dream - Tertularnya seseorang yang sudah sembuh dari Covid-19 bukanlah hal yang tidak mungkin. Menurut ahli, belum ada kajian yang menyebut penyintas Covid-19 memiliki antibodi untuk selamanya.
Kejadian terinfeksinya kembali pasien yang sudah sembuh disebut reinfeksi. Menurut Vaksinolog dan Spesialis Penyakit dr. Dirga Sakti Rambe, reinfeksi sangat mungkin terjadi.
" Durasi proteksi antibodi Covid-19 ini kelihatannya tak bertahan lama. Tidak seumur hidup. Makanya, sekalipun kita pernah kena Covid-19 kita harus tetap lakukan 3M yaitu Menjaga Jarak, Mencuci Tangan dan Memakai Masker,” kata Dirga Sakti Rambe lewat live streaming YouTube Kemkominfo TV, Selasa 3 November 2020.
Ia mengungkapkan, cara pasti untuk mendapatkan kekebalan terhadap Covid-19 yaitu hanya dengan menggunakan vaksin.
Vaksin menjadi salah satu upaya mencegah penyakit infeksi yang paling efektif. Hal ini karena sifat prlindungan vaksin yang bersifat spesifik.
" Inilah keunggulan yang tidak dimiliki oleh alat-alat pencegahan lainnya," ujarnya.
Oleh karena itu dr. Dirga meminta masyarakat untuk tidak bersikap gegabah.
" Jangan mentang-mentang saya sudah kena Covid-19, sudah punya antibodi, jangan. Karena ternyata kit abisa kena infeksi virus dari jenis yang berbeda," sebutnya.
Ia pun memberikan salah satu contoh kasus reinfeksi yang pernah terjadi di Amerika Serikat, tertuang dalam laporan di jurnal medis The Lancet.
Seorang pria berusia 25 tahun, terkena kembali Covid-19, dinyatakan positif Covid-19 pertama kali pada April dengan gejala batuk dan mual. Setelahnya, ia dinyatakan negatif Covid-19 pada Mei.
Hanya saja, pada akhir Mei, pria tersebut mengunjungi UGD karena mengalami gejala batuk, demam, dan pusing. Awal Juni, ia kembali dinyatakan positif Covid-19.
Saat terinfeksi, pria tersebut mengalami hipksia atau kadar oksigen rendah, sesak napas, sehingga memerlukan bantuan oksigen.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan