Cuci Tangan (Foto: Shutterstock)
Dream - Penyakit akibat virus corona yang menyebar dengan sangat cepat ke 20 negara tentunya menimbulkan kekhawatiran. Terutama pada mereka yang negaranya sudah ditemukan kasus virus corona.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah mengeluarkan peringatan kalau kasus virus corona merupakan kondisi darurat global. Standar rekomendasi pun dibuat untuk mencegah penularan corona secara lebih masif.
Antara lain dengan memakai masker, hindari kontak langsung dengan penderita, makan makanan yang sehat, dan tak lupa untuk menjaga kebersihan tangan.
Selain WHO, banyak juga praktisi kesehatan yang turut menganjurkan masyarakat untuk hidup dan berperilaku sehat agar tidak terkena virus corona, salah satunya Dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu, Sri Dhuny Atas Asri.
Dokter Dhuny mengatakan, hal yang tak kalah penting adalah dengan menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan. Ia menjelaskan, ada langkah mencuci tangan dengan tepat agar terhindar dari virus corona.
" Ada 6 langkah cuci tangan yang dianjurkan. Ada kata kuncinya yang mudah untuk diingat, yaitu Tepung Selaci Puput," ucap dokter Sri.
Untuk 'Te' maksudnya adalah telapak. Cuci telapak tangan lebih dulu di bawah air mengalir dengan sabun.
" Jadi, yang pertama kali dicuci yaitu telapak tangan," kata dokter spesialis paru itu.

'Pung' itu artinya punggung tangan yang berarti cuci punggung tangan setelah selesai mencuci telapak tangan. 'Sela' artinya sela-sela jari, jadi bersihkan sela-sela jari dengan benar sampai tidak ada kotoran yang tertinggal dan biasanya dilakukan sebanyak empat kali.
'Ci' yang mempunyai arti mengunci jari. Itu maksudnya kunci jari-jari secara bersamaan dengan rapat.

'Pu' memiliki arti putar-putar ibu jari dan pastikan mencucinya dengan bersih kiri dan kanan.
'Put' sebagai langkah terakhir yang mana memiliki arti untuk putar-putar telapak tangan.
Ia juga mengingatkan untuk mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer. Setelah selesai melakukan 6 langkah di atas, keringkan tangan.
Laporan Vina Muthi A/ Sumber: Liputan6.com
Dream - Saat makan di restoran, seringkali disediakan wadah berisi air serta potongan jeruk nipis sebagai pencuci tangan sebelum dan setelah makan. Air dan jeruk nipis disediakan agar pengunjung bisa mencuci tangan secara praktis dan tidak perlu repot ke wastafel.

Cara cuci tangan ini ternyata sangat tidak disarankan. Pasalnya, air kobokan tak mampu membasmi bakteri yang ada di tangan secara optimal.
“ Cuci tangan pakai air kobokan itu nggak bagus. Harusnya pakai sabun dan air mengalir,” kata Kanya Fidzuno, seorang dokter spesialis anak, dalam acara Perayaan Hari Cuci Tangan Lifebuoy di SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 15 Oktober 2019.
Bahkan penggunaan hand sanitizer tidak disarankan jika tidak dalam keadaan mendesak. Jika masih ada air, lebih baik gunakan air.

“ Paling efektif pakai sabun dan dibilas dengan air mengalir. Hand sanitizer hanya digunakan ketika nggak ada air atau di lingkungan rumah sakit yang gudangnya kuman," ungkap Kanya.
Bila ingin menggunakan hand sanitizer, lebih baik jika dibilas kembali dengan air mengalir. Cuci tangan yang baik dan benar sangat penting untuk mencegah infeksi seperti diare atau influenza.
“ Angka penyakit infeksi sudah meningkat, salah satunya diare. Dan dengan cuci tangan yang benar bisa mengurangi angka kematian akibat diare, yang tadinya 1,7 miliar bisa menurun,” pesan Kanya.
Dream - Selama ini, kita diajarkan untuk selalu mencuci tangan sebelum makan agar makanannya tidak terkontaminasi kuman.
Cuci tangan bukan hanya membilas dengan air mengalir, tapi juga memakai sabun antiseptik seperti hand sanitizer yang banyak dijual di apotek dan supermarket.

Hand sanitizer hadir dalam berbagai ukuran dan bentuk yang lucu karena diperuntukkan bagi anak-anak. Maka tidak heran, hand sanitizer juga dipasarkan dalam warna yang menarik dengan bau buah-buahan.
Tapi, apakah hand sanitizer aman digunakan terus-terusan? Berikut beberapa hal seputar hand sanitizer yang dilansir dari Reader's Digest:
Banyak orang mengira bahwa semua hand sanitizer memiliki kandungan dan khasiat yang sama. Padahal, tidak semua pabrik memproduksi hand sanitizer yang sama.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC menyarankan, untuk menggunakan hand sanitizer yang alkoholnya minimal 60 persen.
Hand sanitizer dengan alkohol 60 persen lebih efektif dalam membunuh kuman. Sementara hand sanitizer non alkohol akan lebih berbahaya dan dapat menyebabkan berkembangnya kuman yang kebal terhadap antiseptik.
Selain itu, penting untuk menghindari hand sanitizer yang mengandung triclosan. Triclosan merupakan bahan kimia aktif yang awalnya digunakan sebagai pestisida atau pembunuh hama.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA melarang penggunaan hand sanitizer berbahan triclosan.
" Triclosan dosis tinggi dikaitkan dengan penurunan kadar berbagai jenis hormon tiroid dan mungkin menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antiseptik" .
Hand sanitizer tidak dapat membunuh bakteri jika kamu tidak menggunakannya dengan benar. Selalu gunakan dalam dosis yang tepat, usapkan atau gosokkan ke permukaan tangan dan biarkan mengering.
Jangan lap atau membilas tangan setelah memakai hand sanitizer. Ketika digunakan dengan benar, hand sanitizer berbahan dasar alkohol membunuh setidaknya 99,9 persen virus, jamur maupun bakteri.

Jadi setelah menyentuh pegangan tangga atau keranjang belanja, gunakan hand sanitizer untuk menghindari dari virus selesma atau flu.
Sayangnya, beberapa jenis virus penyebab penyakit juga bisa menular lewat udara. Dalam hal ini, hand sanitizer kurang efektif digunakan.
Meskipun hand sanitizer terdengar seperti cara praktis dan efektif untuk membersihkan tangan, ternyata masih tidak ada yang mengalahkan sabun dan air.
CDC mengatakan cara terbaik untuk mencegah penyebaran infeksi dan mengurangi risiko penyakit adalah dengan mencuci tangan secara teratur.
Hanya gunakan hand sanitizer jika kamu tidak bisa mencuci tangan dengan sabun dan air biasa. Seperti, ketika berada di dalam mobil, berbelanja, menonton di bioskop atau di rumah sakit.
CDC memperingatkan bahwa hand sanitizer tidak boleh digunakan setelah memegang bahan kimia atau ketika tangan sangat kotor. Pada dalam kondisi demikian, gunakanlah sabun dan air biasa.
(ism, Sumber: rd.com)