Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Source: Shutterstock.com
Dream - Hepatitis atau radang hati merupakan penyakit yang menyebabkan cukup banyak kematian, terutama, di negara di Asia serta Afrika.
Menurut sebuah penelitian, kematian secara global yang disebabkan oleh hepatitis B sebanyak 500-700 ribu per tahun dengan 75 persen pasiennya tinggal di Asia Tenggara dan Timur. Inilah yang membuat warga Indonesia sangat berpotensi mengidap hepatitis.
“ Karier kronik hepatitis memiliki risiko sirosis dan hepatoma. Dan belum ada pengobatan efektif yang dapat digunakan secara luas,” ungkap Wiendra Waworuntu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Ditjen P2P Kemenkes RI dalam webinar ‘Ayo Deteksi Dini Hepatitis B’, Senin 27 Juli 2020.
Selain belum adanya pengobatan efektif yang dapat digunakan luas, hepatitis bisa bersifat asimtomatik. Sehingga, pengidapnya tidak menyadari betul terhadap kondisinya.
Biasanya, gejala ini terjadi pada masa prodromal, setelah tubuh terpapar virus hepatitis. “ Masa prodromal merupakan masa dimana keluhan mulai muncul dalam bentuk kumpulan gejala. Tapi, gejalanya masih belum khas. Seperti sakit influenza,” jelas Fardah Akil, Spesialis Gastroenterologi-Hepatologi.
Yang termasuk gejala tidak khas di antaranya adalah demam, menggigil, mual & muntah, tidak nafsu makan, nyeri pada perut kanan atas, merasa letih, mata serta kulit berwarna kekuningan.
Bahkan pada sebagian kasus hepatitis, gejalanya tidak muncul pada minggu pertama setelah infeksi akut. Pada gejala hepatitis kronik yang dialami lebih dari 6 bulan, gejalanya bisa tidak muncul.
“ Kalaupun bergejala, itu jadi tanda hati sudah mengalami kerusakan,” imbuh Fardah. Oleh karena itu, perlu melakukan pencegahan penularan virus hepatitis.
Kamu bisa melakukannya dengan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan, menjalani pola hidup sehat serta melakukan vaksinasi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya