Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menahan lapar bisa sangat menyiksa bagi seseorang. Badan lemas dan perut terasa nyeri karena asam lambung naik. Tak hanya itu, rasa lapar bisa membuat seseorang lebih emosional. Ini bukanlah mitos.
Sebuah studi dari University of Guelph, Kanada, menyatakan bahwa emosi yang memuncak di kala lapar adalah reaksi dari penurunan kadar glukosa drastis atau hipoglikemia.
" Kami menemukan bahwa perubahan kadar glukosa bisa menyebabkan efek besar pada suasana hati," ungkap Francesco Leri, seorang ahli psikologi.
Pada awalnya, Leri meragukan sikap seseorang yang lebih emosional ketika belum makan. Tapi kini dia percaya bahwa hipoglikemia memiliki dampak pada kondisi psikologis dan fisiologis.
Jurnal Psychopharmacology membuat penelitian akibat penurunan kadar glukosa terhadap sikap pada sejumlah tikus. Sebagian tikus sudah disuntik terlebih dahulu sehingga kagar glukosanya menurun dan mengalami hipoglikemia. Di ruang lainnya, tikus tersebut diberikan air.
Ketika diberikan kesempatan untuk memilih ruangan, sebagian besar tikus menghindari tempat dimana mereka mengalami hipoglikemia.
" Mereka menghindar karena merasa stres dan takut. Mereka tidak mau mengalami hipoglikemia lagi," ungkap Leri.
Riset membuktikan darah tikus yang mengalami hipoglikemia mengandung zat kortikosteron. Zat tersebut merupakan zat pengindikasi stres.
Para peneliti percaya bahwa kebiasaan menunda lapar atau makan, bisa membuat sifat menjadi lebih emosional. Namun, mereka masih akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang efek jangka panjangnya.
" Suasana hati dan pola makan yang buruk bisa menjadi kebiasaan jika seseorang tidak memenuhi kebutuhan asupannya. Suasana hati akan memburuk dan napsu makan hilang," ujar Thomas Horman, kepala penelitian tersebut.
Sumber: The Independent
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang