Gejala Lebih Terasa Saat Sedang Berdiri Atau Berjalan Lama. (Foto: Shutterstock)
Dream - Proses penuaan tidak hanya terjadi pada kulit, tapi juga otot penyangga rahim. Kondisi peranakan yang turun biasa disebut prolaps uterus dan disebabkan oleh melemahnya otot penyangga rahim.
Selain penuaan, beberapa kali melahirkan secara normal juga bisa menyebabkan kondisi ini. Dilansir dari Sehatq.com, prolaps uterus bisa terjadi parsial (sebagian) atau total.
Jika mengalami prolaps uterus total, jaringan rahim bisa menonjol hingga keluar dari miss V. Terdapat beberapa gejala yang umum dirasakan oleh pengidap prolaps uterus:
- Rasa berat atau tertekan di panggul.
- Nyeri di panggul, pinggang serta perut.
- Merasa ada sesuatu yang keluar dari miss V.
- Nyeri saat berhubungan intim.
- Sering mengalami infeksi kandungan kemih.
- Keluar dari dari miss V di luar siklus menstruasi.
- Sembelit.
- Gangguan buang air kecil.
Gejala tersebut bisa lebih terasa ketika sedang berdiri atau berjalan untuk waktu lama. Bahkan, rasa nyeri atau sakitnya meningkat dari pagi hingga malam.
Berkonsultasilah dengan dokter ketika mengalami gejala di atas agar tidak menyebabkan kerusakan organ lainnya seperti kandung kemih maupun sistem reproduksi.
Sebelum pergi ke dokter, berikut tindakan yang biasa dilakukan ketika mengalami prolaps uterus:

Jika belum terlalu parah, kamu bisa mencoba menurunkan berat badan dan tidak membawa beban berat agar beban di panggul lebih ringan.
Melakukan senam kegel untuk memperkuat otot panggul dan miss V. Memakai pesari untuk miss V serta memcegah sembelit dengan mengonsumsi makanan kaya serat juga bisa mengatasinya.

Biasanya, dokter akan memberi obat dengan kandungan hormon estrogen untuk mengatasi prolaps uterus pada pasien menopause. Ini bertujuan untuk memperkuat jaringan pada miss V.

Terdapat dua jenis operasi yang bisa dilakukan untuk mengatasi prolaps uterus, yaitu mengganti jaringan lemah pada rahim dan panggul, serta pengangkatan rahim jika tidak berencana untuk memiliki anak lagi.
(Sumber: Sehatq.com)