Isolasi Saat Pandemi Juga Berdampak Pada Kondisi Fisik

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 3 Oktober 2021 12:00
Isolasi Saat Pandemi Juga Berdampak Pada Kondisi Fisik
“Seiring bertambahnya usia, berisiko lebih besar mengalami kesepian".

Dream – Dalam situasi pandemi yang belum mereda, beberapa orang sudah bisa bepergian karena sudah mendapat vaksin Covid-19. Ada juga yang memilih tetap berada di rumah karena kondisinya tak memungkinkan untuk divaksin.

Tak bisa bertemu dengan orang terdekat hanya di rumah saja, tak dipungkiri membuat kita kesepian. Mental jadi bermasalah, stres dan mungkin saja menjadi depresi. Bukan hanya berdampak pada kesehatan psikis, isolasi saat pandemi juga berdampak pada kondisi fisik.

Dikutip dari Martha Stewart, ada perbedaan antara kesepian dan isolasi sosial. Merupakan situasi yang berbeda dari keterhubungan seseorang.

“ Kesepian didefinisikan sebagai perasaan subjektif dari kesendirian – persepsi terisolasi,” kata dr. VJ Periyakoil, profesor di Stanford University School of Medicine.

Menurutnya, kesepian berkaitan dengan tekanan yang dihasilkan dari perbedaan antara hubungan sosial yang ideal dengan yang dirasakan. Ini berarti, kita mungkin dikelilingi oleh banyak orang saat berada di pesta namun tetap merasa kesepian ketika tidak menemukan orang yang cocok

Sementara isolasi sosial bukan hanya tentang perasaan terputus. “ Isolasi sosial mengacu pada kurangnya kontak dengan masyarakat secara lengkap dan terkait dengan sejumlah hubungan yang dapat diukur,” ujar dr. Periyakoil

Isolasi sosial dapat menyebabkan kesepian pada beberapa orang. Sementara yang lain dapat merasa kesepian tanpa terisolasi secara sosial.

 

1 dari 5 halaman

Perubahan Drastis

Orang dewasa dapat merasa kesepian atau menemukan diri mereka terisolasi secara sosial. Beberapa penyebab umum meningkat seiring bertambahnya usia seperti pasangan atau teman ada yang meninggal, pindah ke komunitas yang jauh dari orang yang dicintai atau memiliki masalah kesehatan yang mengganggu mobilitas.

“ Seiring bertambahnya usia, mereka berisiko lebih besar mengalami kesepian dan isolasi sosial. Ini berdampak negatif pada kesejahteraan mereka,” kata dr. Periyakoil.

Ia menambahkan, jika mereka tidak memiliki circle atau aktivitas sosial yang berhubungan dengan pekerjaan, maka kesehatan dapat memburuk. Jika diabaikan, kesepian memiliki konsekuensi serius bagi kognisi, emosi, perilaku, dan kesehatan.

 

2 dari 5 halaman

Risiko Penyakit yang Muncul

Sebuah studi 2018 yang diterbitkan dalam Journals of Gerontology menggunakan data dari 12 ribu peserta yang dikumpulkan selama sepuluh tahun untuk menghitung 40% peningkatan risiko demensia pada orang dewasa yang merasa kesepian. Penelitian ini terlepas dari jenis kelamin, ras, etnis, atau pendidikan mereka.

Ditemukan bahwa isolasi sosial terbukti meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas serupa dengan faktor-faktor seperti tekanan darah tinggi, merokok, dan obesitas. Rasa kesepian dan isolasi sosial telah dikaitkan dengan tingkat penyakit jantung, stroke, depresi, kecemasan, bunuh diri, serta kardiovaskular, dan kematian.


Laporan Elyzabeth Yulivia

3 dari 5 halaman

Level Stres Tinggi? Coba Redakan dengan Cara Ini

Dream – Kesehatan mental kerap kali dipandang sebelah mata. Nyatanya, kondisi mental yang sakit bisa berdampak signifikan pada fisik dan aktivitas sehari-hari.

Orang sering merasa stres/depresi karena beban pikiran yang berat dan masalah yang sulit untuk diselesaikan. Mulai dari masalah yang ada di rumah, hingga lingkungan kerja.

Untuk meredakan stres, banyak yang menyarankan untuk relaksasi atau liburan. Dalam situasi pandemi yang serba tak pasti seperti sekarang, hal tersebut agak sulit dilakukan.

Ada cara lain untuk membantu menurunkan level stres dan membantu tubuh lebih tahan terhadap stres, yaitu mengonsumsi suplemen atau vitamin. Beberapa vitamin dipercaya bisa membantu mengurangi stres. Apa saja?

1. Vitamin D
Vitamin D memainkan banyak peran penting pada tubuh. Tampaknya tak banyak orang tahu bahwa vitamin D itu sangat penting bagi kesehatan mental. Berdasarkan sebuah penelitian mengatakan, orang yang kekurangan vitamin D lebih berpotensi untuk terpapar depresi.

Vitamin D dapat membantu melawan depresi, mengurangi peradangan, mengatur suasana hati, dan melindungi dari kerusakan neuron. Pada 2020, 61 studi mengungkap bahwa vitamin D dapat menyembuhkan gejala depresi, dan dapat menjadi obat untuk meredakan depresi.

 

4 dari 5 halaman

2. Vitamin B
Vitamin B termasuk folat, B12, dan B6 yang dibutuhkan untuk meregulasi neurotransmitter seperti serotonin, asam gamma-aminobutyric (GABA), dan dopamin. Mempunyai manfaat untuk mengendalikan suasana hati, dan fungsi neurologis. Penelitian menunjukan vitamin B12 dapat meminimalisir risiko depresi, mengurangi gejala depresi, dan dapat melengkapi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Rutin Konsumsi Vitamin B12 untuk Menjaga Level Kesuburan© MEN

3. Zat besi
Zat besi merupakan mineral yang penting untuk kesehatan otak. Fungsi zinc bersifat antioksidan, dan anti inflamasi. Jika tubuh kekurangan zat besi, akan meningkatkan risiko depresi, dan memperparah stres. Sebuah analis dari 17 studi observasi menemukan bahwa orang yang memiliki kadar zat besi kurang dari 0,12g/mL, lebih berpotensi mengalami depresi.

 

5 dari 5 halaman

4. Magnesium
Magnesium juga merupakan mineral penting, dan bermanfaat bagi orang yang mengalami depresi. Kekurangan magnesium sering terjadi pada orang yang mengalami depresi. Sebuah penelitian meneliti sekitar 126 orang yang mengkonsumsi magnesium dalam ukuran tertentu secara rutin, kadar depresinya menurun.

Vitamin b9© Pixabay.com

5. Kreatin
Kreatin merupakan asam organik yang bereperan penting untuk menjaga energi otak. Otak yang mengalami depresi akan berubah tingkat energinya. Untuk mencegahnya, kamu bisa meminum suplemen berkandungan kreatin 2-10 gram per hari, agar dapat mengurangi gejala pada orang yang depresi.


Laporan Delfina Rahmadhani/ Sumber: Healthline

Beri Komentar