Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Ilustrasi: Shutterstock)
Dream - Bagi yang ingin memiliki tubuh langsing, berburu tip dan trik mungkin menjadi menu tiap hari. Setiap ada teknik baru menurunkan berat badan, rasanya ingin langsung mencoba.
Salah satu masalah yang dihadapi perempuan, banyak pula pria, adalah timbunan lemak yang menumpuk. Zat ini dianggap biang keladi masalah kegemukan.
Tapi, pernahkah kamu penasaran ke mana larinya lemak yang selama ini menumpuk di tubuh mereka? Mungkin hanya segelintir saja yang penasaran karena terlalu sibuk dengan metode penurunan berat badan.
Menurut survei di laman The Conversation, sebagian besar orang, termasuk yang berkecimpung di dunia kesehatan sekalipun, tidak tahu ke mana lemak itu pergi.
Hal itu diungkapkan oleh asisten peneliti Ruben Meerman bersama pakar bioteknologi dan biomolekul Andrew Brown di University of New South Wales, Australia, setelah mereka menganalisis hasil sebuah survei.
Mereka melakukan survei dengan membuat pertanyaan, " Ketika berat badan berkurang, ke mana perginya lemak orang tersebut?" Survei tersebut diberikan kepada 150 dokter, pakar diet, dan pelatih pribadi.
Hasilnya sungguh mengejutkan. Hanya tiga responden yang menjawab dengan benar. Jawaban yang paling banyak dikemukakan adalah lemak diubah menjadi energi. Sedangkan jawaban kedua terbanyak adalah lemak berubah menjadi otot atau dikeluarkan melalui usus besar.
Namun Meerman dan Brown mengatakan bahwa ketiga jawaban tersebut semuanya salah. Lantas, jawaban yang benar apa ya? Simak berikutnya.
© Dream
Menurut Meerman dan Brown, jawaban yang benar adalah lemak benar-benar menguap ke udara. Lemak tidak berubah menjadi apa pun, kecuali karbon dioksida dan air.
" Lemak dikonversi menjadi karbon dioksida dan air. Anda menghembuskan karbon dioksida, sementara air bercampur ke dalam sirkulasi tubuh hingga hilang sebagai air kencing atau keringat," jelas mereka.
" Jadi, jika Anda kehilangan lemak 10 kilogram, sebanyak 8.4 kg akan keluar melalui paru-paru sebagai karbon dioksida. Sementara 1,6 kg sisanya berubah menjadi air. Dengan kata lain, sebagian besar lemak itu akan keluar dari tubuh sebagai udara.," tambah mereka.
Dan satu-satunya yang tertinggal di usus besar adalah serat makanan. Segala sesuatu yang kita makan atau minum akan diserap ke dalam aliran darah atau organ sebelum diuapkan ke udara.
© Dream
Kalau begitu, semakin banyak kita menghembuskan karbon dioksida, semakin banyak lemak yang akan terbakar? Belum tentu juga.
Menurut Brown, jika kita menarik dan mengeluarkan napas dengan cepat, ini hanya akan menyebabkan hiperventilasi dan membuat kita merasa pusing.
Agar berat badan kita cepat turun, cara satu-satunya adalah menggerakkan otot-otot untuk memproduksi karbon dioksida dalam jumlah besar.
Dengan kata lain, jelas Brown, kita harus rajin-rajin berolahraga untuk membakar lemak sehingga menjadi uap dan air.
(Sah, Sumber: worldofbuzz.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya