By: Najoua Bijjir
Dream-Perhelatan Passion for Kaftan di Belgia tahun ini menjadi sangat istimewa. Sebanyak 24 designer Eropa, Maroko, dan Dubai ikut terlibat. Mereka memamerkan busana muslim hasil karyanya di ajang tahunan ke enam yang berlangsung di kota Antwerpen, akhir Maret lalu.
Istimewa, karena acara kali ini sekaligus memperingati 50 tahun masuknya imigran Maroko ke Belgia. Imigran Maroko ini membawa pengaruh pada mode busana muslim bukan hanya di Belgia, tetapi juga Eropa yang menjadi jendela mode dunia. Kaftan sendiri bersumber dari pakaian tradisional Maroko. Dalam perkembangannya, mode gaun terusan ini mengalami berbagai modifikasi hingga menjadi mode yang biasa dikenakan pada acara resmi keagamaan namun juga elok dipakai ke kantor.
Nasim Tesoudali, penggagas Passion for Kaftan, mengungkapkan rahasia di balik suksesnya pesta ini. Lebih dari sekadar peragaan busana, acara ini fokus menampilkan model-model elegan utamanya dari Maroko dan Arab. “ Kami ingin memberikan kontribusi kepada industri fashion,” kata Tesoudali pada Morocco World News, menjelang acara dibuka.
Sejak digelar pertamakali, acara ini terus mengalami pertumbuhan pesat. Penggemar datang dari berbagai etnis. Amine M'rani, desainer yang juga menjadi duta Passion for Kaftan menyebut kaftan sebagai gaun yang sangat langka tetapi fleksibel. Kaftan tidak pernah hilang meski sudah menjadi mode selama berabad-abad.
Harta karun ini terus mengalami modernisasi dan modifikasi. “ Kaftan cocok dipakai di semua negara,” kata Amine. Rahasianya, mode gaun yang satu ini mudah dipadu dengan pakaian lokal dari budaya yang berbeda. (ism)
© Dream
Busana Arab-Barat
Selama Passion for Kaftan, para pengunjung tidak hanya mengagumi karya-karya perancang busana Maroko. Tetpai juga hasil karya dari perancang busana asal Belanda, Irving Vorster, yang juga kepala desainer di IRVINX label. Irving Vorster memang diminta kontribusinya untuk memeriahkan gelaran ini.
" Saya diminta merancang gaun kaftan khusus. Saya tak sabar untuk merancang kaftan yang begitu unik dengan fitur desain saya. Ini merupakan garis asimetris khas saya dalam setiap gaun," ucap Vorster.
Bagi Vorster, 'Passion for Kaftan' merupakan konsep yang indah di mana fashion Arab bertemu Barat. Sebagai seorang desainer, Vorster mengaku sangat bersemangat mengeksplorasi budaya Maroko. " Saya bahkan mempertimbangkan untuk merancang koleksi eksklusif kaftan dalam koleksi reguler."
Satu hal yang tak kalah berkesan di mata Vorster. Wanita-wanita muslim di Barat selalu terlihat sangat rapi dan indah. Ditekankan Vorster, seorang wanita tidak selalu harus tampil telanjang untuk terlihat bagian terbaiknya. Wanita yang rapi dan bersih, bisa menjadi sangat feminim. Hal ini jelas tercermin dalam budaya Islam," ucapnya lagi. (ism)