5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Photo By: Dian Pelangi
Dream - Di usia 26 tahun, Restu Anggraini menjadi seorang desainer handal busana muslim. Restu mengawali itu semua saat memuat foto pakaian muslim sederhana pada blognya di tahun 2010. Kemudian orang-orang mulai bertanya pada Restu.
" Darimana mendapat pakaian itu?" kutip Restu, seperti dilansir The Interpreter. Sejak itu, wanita lulusan Phalie Art Studio and ESMOD Jakarta pada 2011 ini mulai memproduksi sendiri rancangannya. Dengan nama produk sesuai nama dirinya.
" Kami mencoba untuk meniru strategi Zara," tambah Rahmat Ramadhan, suami merangkap mitra bisnis Restu. " Setiap minggu kami mencoba menampilkan model baru. Kadang-kadang yang harus kita lakukan adalah memasangnya di Instagram. Tak jarang, sebelum kita melakukan pemotretan, rancangan baru itu sudah ludes terjual."
Restu melihat popularitas busana muslim terus menanjak, termasuk mengenakan jilbab yang menjadi 'kewajiban' kaum hawa. " Tapi kenapa tidak saya tidak melihat ini sebagai peluang bisnis?" ungkap Restu.
Seiring booming fashion busana muslim, itu juga memicu pertumbuhan gaya hidup muslim, majalah, produk perbankan syariah, pariwisata, hingga media muslim. Pada dua dekade lalu, jarang terlihat ada wanita mengenakan busana muslim yang bergaya. Tapi hari ini, bentuk ekspresi pribadi dari keimanan terhadap Islam jauh lebih mencolok dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Senada bagi desainer muslim kondang lainnya. Adalah Dian Pelangi, desainer muslim papan atas Indonesia ini memadukan tenun tradisional mewah dengan bordir dalam rancangannya. Dalam karya-karyanya, rancangan Dian Pelangi tidak hanya sekadar menutup aurat. Seperti rancangan rok yang 'menyapu' nan-menjulur dari atas kepala hingga pergelangan tangan dan kaki.
Desainer seperti Dian Pelangi dan Restu Anggriani, yang menggunakan namanya sendiri untuk produk-produknya, ingin menunjukkan bahwa karya-karyanya layak menjadi rujukan. Mereka justru tidak ingin disebut sebagai pencari perhatian. Keduanya juga sebagai blogger yang kerap mempromosikan produknya dengan penuh kebanggaan.
Para perancang muda busana muslim itu berpendapat, menciptakan karya busana muslim justru lebih menarik. Mereka justru mempermudah para muslimah di Tanah Air untuk mengenakan busana muslim yang trendi.
Kelompok komunitas online Hijabers Community juga punya cara lain. Dengan membuat tutorial tata cara memakai jilbab gaya baru. Komunitas ini juga menjadi ajang berbagi kisah bagaimana mereka pada akhirnya memutuskan untuk berjilbab. Satu keputusan besar untuk menjalankan kewajiban agama selain salat lima waktu.
" Mengenakan jilbab adalah proses belajar tentang diri Anda. Sebenarnya, wanita yang memakai jilbab tidak diperbolehkan untuk memakai celana ketat. Apa pun yang mengeksploitasi tubuh. Tapi itu tentang kesiapan individu. Aku belum siap untuk memakai rok setiap hari. Jadi saya memakai celana palazzo, yang lebih lebar dan tidak ketat," tutur salah satu anggota komunitas, Dian Firlany dari DeeAndra.
Sangat mudah melihat perkembangan mode busana muslim di Indonesia. Tapi itu juga seiring dengan munculnya para pengkritik yang vokal sampai kelompok Islam garis keras. Tapi ini menjadi bukti penguatan akar tradisional yang moderat. Dan itu juga membuktikan, muslim Indonesia begitu toleran. Para perancang muda itu seperti mendemonstrasikan bahwa negara ini begitu pluralis. Islam dapat hidup berdampingan dengan baik. Pengamat Indonesia dari Australia National University (ANU), Greg Fealy menilai, daripada memuat efek radikal, para pembuat produk Islam harus dapat menarik pasar tradisional moderat yang massal. Ini juga bisa memperkuat toleransi dan menjadi ciri khas Islam Indonesia.
Indonesia mengalami perkembangan ekspor budaya busana muslim yang cukup signifikan. Diperkirakan, pasar fashion global pada 2018 akan mencapai US$322 juta. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus mengampanyekan Jakarta menjadi ibukota busana muslim dunia pada tahun 2020. Dian Pelangi pun diutus menjadi duta fashion muslim Indonesia di sebuah acara eksklusif kerajaan di Timur Tengah. Restu Anggraini juga memiliki reseller di Singapura dan Malaysia, Treimee memiliki klien di Jerman.
Dalam memperluas pasar internasional busana muslim, Indonesia mengekspor merek sendiri yang moderat dan toleran. Di mana kreativitas dan ekspresi diri menjadi prinsip utama. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?