Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
(c)shutterstock
Indonesia kaya akan rempah. Hal ini sudah jadi fakta yang tak terbantahkan mengingat rempah memiliki pengaruh yang kuat dalam sejarah bangsa ini. Di era kolonial dulu, rempah menjadi harta yang paling berharga yang membuat para penjajah datang menguasai negeri.
Hingga saat ini, rempah tetap jadi komoditas yang banyak dicari di dunia, di mana bahan-bahan tersebut bisa memperkaya rasa masakan. Hal ini juga yang sering menjadi pembanding kuliner di Indonesia dan luar negeri karena membuat makanan dan minuman Indonesia jadi memiliki ciri khas tersendiri. Menelusuri kembali jejak rempah di tanah air, di mana saja sih daerah penghasil rempah terbesar di Indonesia?

Menelisik lebih dalam jalur rempah pertama di Pulau Sumatera, Aceh adalah jawabannya. Di masa abad ke-15 sebelum masuk masa era kolonialisme, aktivitas perdagangan di Aceh berjalan sangat baik dan dikelola oleh Kerajaan Aceh. Rempah-rempah menjadi komoditas yang sangat berharga di masa tersebut.
Kawasan tersebut dikenal sebagai pusat perdagangan lada dan kayu manis. Letak geografisnya sendiri berada di tepi Selat Malaka, jadi sangat strategis menjadi lalu lintas perdagangan sejak abad pertama. Nggak heran jika saat itu Aceh dikenal mampu menguasai pasar rempah dunia yang berada di bawah pengawasan Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Lamri.

Kawasan Ternate dan Tidore yang berada di Maluku Utara dikenal sebagai sumber penghasil rempah di dunia. Menurut sejarah, daerah ini sudah berhasil ditemukan bangsa Portugis pada abad ke-15. Kemudian lahan cengkeh dikembangkan di kawasan tersebut di bawah perintah salah satu Gubernur Jenderal Belanda.
Hingga saat ini kedua kawasan tersebut masih tetap berjaya sebagai salah satu sumber rempah di tanah air. Bahkan, pemerintah kota Ternate membuat Kawasan Cengkeh Afo sebagai destinasi tujuan wisata di daerah tersebut. Di tempat tersebut, pengunjung bisa menyaksikan pohon cengkeh tertua yang jadi daya tarik wisata tersendiri.

Di masa era kolonialisme, pala adalah salah satu harta yang paling berharga dan banyak diincar oleh bangsa Eropa. Di abad ke-19, pala dan fuli menjadi komoditas yang banyak diperdagangkan di kawasan tersebut. Bahkan, Banda Neira sempat menjadi kawasan yang diperebutkan oleh Bangsa Eropa karena menurut cerita harga pala setara dengan logam mulia saat itu.

Sering menggunakan kayu manis sebagai salah satu bahan membuat kue? Tahu nggak dari mana asal bahan yang satu ini? Ternyata, Jambi menjadi kawasan berburu kayu manis, yaitu di daerah Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin Kota Sungai Penuh. Hebatnya lagi, produksi kayu manis dari Jambi memenuhi 45% kebutuhan kayu manis dunia. Produksinya dipasarkan ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan Singapura.
Meskipun bukan penghasil kapulaga terbesar di dunia, tapi Jawa Barat dan Jawa Tengah tetap menjadi salah satu sumber rempah potensial, lho. Khusus kapulaga yang beredar di Indonesia ada dua jenis, yaitu kapulaga Indonesia dan kapulaga seberang yang berasal dari India. Rempah yang termasuk golongan Zingiberaceae ini cukup familiar dan menjadi bahan dasar pembutan bir pletok dan bir Jawa. Fakta uniknya, kapulaga menjadi rempah dengan harga termahal ketiga setelah saffron dan vanilla. Keren banget!
Makin percaya kan kalau Indonesia kaya akan rempah-rempah! Terbukti, banyak daerah dengan komoditas rempah berbeda yang menguasai pasar rempah dunia. Untuk melestarikan kekayaan rempah sebagai salah satu warisan bangsa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI menghadirkan program Jalur Rempah, yaitu platform bersama untuk menumbuhkan kebanggaan akan jati diri daerah di Indonesia dan memperkuat jejaring interaksi.
Ada misi mulia di balik program yang dilaksanakan oleh Kemendikbud ini, yaitu meningkatkan awareness masyarakat untuk berpartisipasi melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya Jalur Rempah untuk pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, Kemendikbud punya tujuan yang lebih besar lagi, yaitu mengajukannya sebagai warisan dunia ke UNESCO. Hal ini berperan untuk memperkuat posisi dan diplomasi Indonesia jika sudah mendapatkan pengakuan UNESCO. Sebanyak 20 titik awal rekonstruksi Jalur Rempah di tanah air disiapkan yang tersebar dari Raja Ampat hingga Mandeh. Temukan informasi selengkapnya di sini.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama


3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan