Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Fashion Show Busana Muslim (Foto: Shutterstock)
Dream - Sebanyak 16 desainer Indonesian Fashion Chamber (IFC) bakal tampil di kapal pesiar di Paris, Prancis dalam acara " La Mode" Sur La Seine à Paris, 1 Desember 2018 mendatang.
Kementrian Perindustrian yang turut berpartisipasi dalam event itu juga menggelar International Muslim Fashion Festival.
Pameran fashion muslim yang bakal digelar 2019 mendatang dengan menghadirkan buyer dan desainer dari berbagai negara, khususnya anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Rancangan Lisa Fitria dan Lia Mustafa dari Indonesian Fashion Chamber
(Foto: Ava Haprin/Dream.co.id)
Peluncuran International Muslim Fashion Festival 2019 ini akan dihadiri penampilan busana muslim karya dua desainer Indonesia, Lisa Fitria dan Lia Mustafa.
" Kementerian Perindustrian akan melaksanakan launching International Muslim Fashion Festival sebagai kick off dalam mewujudkan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, di kantornya, Jakarta, Rabu 21 November 2018.

Rancangan Lisa Fitria dan Lia Mustafa dari Indonesian Fashion Chamber
(Foto: Ava Haprin/Dream.co.id)
Mereka yang akan meramaikan La Mode Sur La Seine a Paris itu sendiri berasal dari negara-negara anggota OKI. Juga bakal hadir para tamu dari Italia, Australia, Jeman, Taiwan, Korea, dan Amerika Serikat.
Momen ini diharap menjadi kesempatan besar bagi Indonesia agar bisa menjadi kiblat fashion muslim dunia.

Rancangan Lisa Fitria dan Lia Mustafa dari Indonesian Fashion Chamber
(Foto: Ava Haprin/Dream.co.id)
" Event ini sangat tepat bagi kami untuk melakukan launching International Muslim Fashion Festival dan mendeklarasikan Indonesia siap menjadi kiblat fashion muslim dunia tahun 2020." ujar Gati.
Target dari acara ini, kata Gati, meningkatkan nilai ekspor produk fashion khususnya fashion muslim di Eropa dan negara lainnya. Karena saat ini Indonesia hanya menyumbang 16%. (ism, Laporan: Ava Haprin)
Dream - Industri kreatif tengah jadi perhatian pemerintah Indonesia. Salah satu industri yang mendapat perhatian besar dan berhasil meningkatkan kualitasnya di mata dunia adalah fashion.
Jika dulu Indonesia masih berusaha mengikuti tren dunia, kini desainer lokal mulai membentuk tren tersendiri.
Hal ini ditunjukkan pada pagelaran Jakarta Fashion Trend 2019 yang diadakan Indonesia Fashion Chamber (IFC) Chapter Jakarta.
" Ini merupakan event pertama kami yang mengacu pada hasil riset trend forecastinguntuk 2019. Desainer kami pun berkolaborasi dengan pengrajin daerah untuk menciptakan dan mensosialisasikan tren," Hannie Hananto, Ketua Indonesia Fashion Chamber Jakarta Chapter di Gran Melia, Jakarta Selatan, Kamis 8 November 2018.

Hasil riset yang diperoleh sebagai inspirasi desain adalah kemajuan teknologiArtificial Intelligence. Lalu, dibuatlah tema besar 'Singularity: The Paradox of Human Vs Artificial Intelligence'.
Tema tersebut dibagi lagi menjadi empat bagian, di antaranya Exuberant (keceriaan optimisme) yang didominasi warna cerah, Cortex (paradox kecerdasan artifisial) yang diwarnai warna 'dingin' seperti teknologi.
Neo Medival (romantisme abad pertengahan) yang diwarnai percampuran unsur masa lalu dan masa kini serta Svarga (keindahan spiritual) yang colorful dan disertai unsur budaya.
" Bicara tren adalah bicara tentang pola pikir. Kita lihat kecenderungan global, yaitu Artificial Intelligence. Kita coba buat konsep sendiri, 'Singularity' yang diterjemahkan lagi oleh member IFC," tutur Dina Midiani, salah satu pencetus Trend Forecasting.
Tren global tersebut dituangkan dalam karya lebih dari 21 desainer lokal seperti Khanaan, Hannie Hananto, Ali Charisma, Billy Tjong, Itang Yunasz, Novita Yunus, Ichwan Thoha dan masih banyak lagi.
" Kami tidak hanya membangkitkan semangat teman-teman untuk buat koleksi, tapi juga berkolaborasi dengan pengrajin untuk menonjolkan budaya khas tiap daerah di Indonesia," kata Ali Charisma, National Chairman IFC.
Maka dari itu, beberapa desainer seperti Chaera Lee, Wignyo, Neera Alatas dan Billy Tjong ikut berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Kalimantan Barat, Dekranasda Sulawesi Barat, Dekranasda Kutai Barat dan Dekranasda Maluku Tenggara Barat, untuk menghasilkan busana yang cantik serta memiliki nilai cukup tinggi untuk bersaing di skala internasional.
Berikut salah satu hasil kolaborasi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Barat dengan desainer Chaera Lee dan Wignyo.

Kain khas Kalimantan Barat menjadi lebih menarik dan indah dengan dominasi warna merah muda dan cutting loose.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya