Nyi Ageng Serang (Ilustrasi)
Dream - Tuturnya santun, langkahnya luwes, bahkan adabnya pun mulia. Raden Ayu Kustiah Wulangningsih Retno Edi memang menjadi bunga di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Tak pelak Sultan Hamengkubuwono II, sampai dua kali membujuknya untuk mau menjadi istri Sultan. Kalau bukan kerabat yang terus mendesaknya, RA Kustiah tak pernah menerima suntingan Sang Raja.
Namun siapa menyangka muslimah ayu dan lembut itu berubah total saat meninggalkan tembok Keraton Yogyakarta. Diluar keraton dia lebih tenar dengan nama gaul Nyi Ageng Serang.
Dia menghabiskan 50 tahun hidupnya menjadi 'siluman cantik' yang menteror pasukan Belanda. Menggalang kekuatan petani dari wilayah pantai utara hingga pantai selatan Pulau Jawa.
Mereka terkenal sebagai pasukan keladi. Menyamar layaknya pohon keladi dan langsung menyergap patrol Belanda hingga kocar-kacir.
Bahkan di usia 73 tahun, Nyi Ageng Serang masih memimpin pasukan yang bergabung dengan Pangeran Diponegoro. Beliau menjadi penasehat dalam taktik Perang Diponegoro 1825-1830 hingga membuat bangkrut penjajah.
Hanya tiga tahun menjelang wafat di usia 81 tahun, Nyi Ageng Serang mundur dari laga peperangan karena tubuhnya yang semakin renta.
Namun semangatnya tak pernah surut. Bayangan wajah cantik diatas pelana kuda dengan membawa panji-panji Kerajaan Mataram masih terus berkibar membakar semangat kaum wanita dan pejuang di Indonesia.
Bagaimana sepak terjang Nyi Ageng Serang hingga membuat kumpeni gemetar ketakutan? Simak halaman berikut!
(Diriset dari berbagai sumber)
© Dream
Dream - Sejak menikah dengan Hamengkubuwono II, RA Kustiah mendapat gelar Bendoro Raden Ayu (BRA.) Kustiah Wulangningsih Retno Edi. Namun ada satu permintaannya pada sang Raja penguasa Tanah Jawa itu, dia enggan tinggal di dalam bangunan keraton.
Penguasa wilayah Yogyakarta itu tidak kuasa menolak permintaan istrinya yang dia kenal punya kemauan keras. Sang istri memilih tinggal di Kademangan, di luar tembok keraton. Bendoro Ayu bertugas mendengarkan suara rakyat dan memberikan masukan kepada Raja.
Gelimang kemewahan keraton bukan iming-iming yang menggiurkan bagi BRA. Kustiah. Terlahir pada 1752 dengan nama Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi, besar di lingkungan yang anti-Belanda. Dia lahir di desa Serang (terletak 40 km sebelah utara Solo dekat Purwodadi, Jawa Tengah).
Ayahnya, Pangeran Natapraja atau dikenal sebagai Panembahan Serang merupakan panglima dari Pangeran Mangkubumi. Mereka memberontak atas kemapanan dan persekutuan Belanda dengan Pakubuwono II yang berkuasa di Surakarta.
Perang Jawa yang membuat bangkrut Belanda, menghasilkan kesepakatan. Pakubuwono III yang menggantikan ayahnya mendapatkan kekuasaan di wilayah Surakarta, sementara Pangeran Mangkubumi menjadi Raja dengan wilayah Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi mengubah gelarnya sebagai Hamengkubuwono I.
Pembagian wilayah itu membuat keluarga Panembahan Serang dan kerabat harus pindah ke wilayah Yogyakarta. Pada usia 16 tahun, R.A Kustiah disarankan bibi dan pamannya untuk pindah ke keraton Yogyakarta.
Di dalam lingkungan keraton, Kustiah belajar ilmu kepribadian dan berbagai pengetahuan. Kepandaian dan kecakapannya yang mengagumkan untuk seorang wanita membuat Hamengkubuwono terkesan.
Menonjolnya Kustiah ini membuat Hamengkubuwono II tertarik untuk memperistrinya. Kustiah tidak pernah mengiyakan atau menolak ‘lamaran’ itu. Raja kemudian memerintahkannya untuk tinggal di Kademangan. Tugasnya mengetahui situasi dan kondisi diluar tembok kraton, sehingga bisa menjadi masukan yang baik bagi Sultan Hamengku Buwono II dalam menentukan sikap.
Tak berselang lama, Kustiah dipanggil lagi ke keraton. Kerabat kembali mendesak dia untuk menerima pinangan Sang Sultan. Kali ini Kustiah tak lagi menolak. Dia menerima dengan syarat, tidak tinggal seatap dengan Sultan. Sultan tak bisa menolak permintaan Kustiah, hingga pernikahan pun digelar.
Namun pernikahan itu tidak berlangsung langgeng. BRA. Kustiah berpisah dengan Sultan dan memilih tinggal di bumi Serang, Jawa Tengah. Selama di Serang, masyarakat memanggilnya Bendoro Ayu Nyi Ageng Serang.
Di sanalah Nyi Ageng Serang menyebarkan bibit-bibit nasionalisme dengan selalu membakar semangat melawan penjajah.
Atas persetujuan keraton dan kerabat, Bendoro Nyi Ageng Serang menikah lagi dengan Pangeran Mutia Kusumawijaya. Bahkan keraton memberikan gelar Panembahan untuk pejuang wanita ini hingga mempunyai puteri bernama R.A Kustinah.
Namun hubungan antara Nyi Ageng Serang dan keraton tidak pernah putus. Sultan Hamengkubuwono II menjalankan strategi politik untuk terus merepotkan Belanda.
Sementara di luar keraton, perlawanan terus dilakukan oleh Nyi Ageng Serang. Diatas pelananya, dia terus memimpin pasukan dari Traju Mas, perbukitan Menoreh, Kulon Progo.
Berkali-kali muslimah tanpa urat takut itu menghancurkan pasukan Belanda. Banyak orang tidak percaya, bagaimana pasukan Nyi Ageng Serang bisa menang?
Dari kemampuan dan senjata, para petani itu kalah jauh dibandingkan pasukan militer Belanda. Taktik kamuflase daun keladi, jadi rahasianya. Itu adalah strategi yang dibuat Nyi Ageng Serang selama perang.
Daun keladi wajib dibawa setiap prajurit dan rakyat yang ikut berperang. Nantinya digunakan sebagai payung ataupun bersembunyi.
Daun yang berbentuk simbol hati ditempel di kepala buat penyamaran, sehingga tampak seperti kebun tanaman keladi jika dilihat dari kejauhan. Target diserang bila sudah dekat dalam jarak sasaran. Dalam keadaan tak siap, musuh biasanya kelabakan.
© Dream
Dream - Nama besar Nyi Ageng Serang makin membuat ciut Belanda dan penguasa Surakarta, ketika dia bergabung dengan pasukan Diponegoro.
Saat perang Diponegoro pecah pada 1825, Nyi Ageng Serang berjuang bersama suaminya, tapi lagi-lagi ia harus kehilangan orang yang disayangi, suaminya Raden Mas Kusuma Wijaya gugur ditangai serdadu Belanda.
Nyi Ageng Serang meneruskan perjuangan, bahkan ketika usianya menginjak 73 tahun ia dipercaya memimpin pasukan.
Pasukannya diberi nama Laskar Gula Kelapa. Laskar ini sangat diperhitungkan Belanda karena gerakan yang cepat ketika menyerang dan berani mati.
Ia memimpin dengan melakukan long march dari Serang ke Barat menyusuri Sungai Progo, kemudian bermarkas di Traju Mas Perbukitan Menoreh.
Dalam pertempuran ini, dia menggunakan daun keladi sebagai taktik penyamaran. Strategi itu rupanya membuat Pangeran Diponegoro kagum dan mengakui keandalannya. Ia kemudian mengangkat Nyi Ageng Serang menjadi salah seorang penasihatnya.
Kedudukan Nyi Ageng sebagai penasihat sejajar dengan Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Joyokusumo dalam siasat perang.
Di bukit ini diketahui dia menyusun strategi hingga wafat pada usia 76 tahun, tepat dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir pada 1828. Dia jatuh sakit karena wabah penyakit malaria.
Perjuangan Nyi Ageng Serang pun diteruskan cucunya, Raden Mas Papak. Dia bergabung dengan laskar Menoreh yang dipimpin Raden Mas Singlon, salah seorang Putra Pangeran Diponegoro yang bergelar Pangeran Menoreh.
Nyi Ageng Serang dimakamkan di daerah tersebut, tepatnya Dusun Beku, Pagerarjo, Kalibawang, Kulonprogo, 30 kilometer barat dari Kota Yogyakarta.
Atas jasa-jasanya pada negara, Nyi Ageng Serang diberi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 084/TK/Tahun 1974.
Kisah Nyi Ageng Serang meninggalkan banyak contoh. Semangat pengabdian, meninggalkan kemewahan demi perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan.
(Diriset dari berbagai sumber)