© 2021 Shutterstock
Virus Corona memang menjadi momok mematikan, namun jangan menyepelekan penyakit Tuberkulosis (TBC) yang telah ada jauh sebelum pandemi dan bisa menyerang siapapun. Indonesia sendiri menjadi negara kedua di dunia dengan penderita TBC terbanyak, loh.
Berdasarkan data Subdirektorat Tuberkulosis Kementerian Kesehatan RI, setiap tahun diperkirakan 845.000 orang di Indonesia jatuh sakit akibat teserang TBC, namun hanya 568.987 pasien TBC yang terlaporkan ke Kementerian Kesehatan pada tahun 2019.
Tingginya angka kasus TBC di Indonesia sebaiknya menjadi perhatian kita bersama. Dalam momentum Hari Kesehatan Nasional tahun ini, mari kita lakukan pengenalan penyakit TBC sejak dini.

Sebagai penyakit yang tidak boleh disepelekan, kita perlu mengenali ciri penyakit Tuberkulosis (TBC), Sahabat Dream. Tuberkulosis sendiri disebabkan infeksi akibat bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri penyebab TBC ini bersifat airborne alias bisa melayang di udara dan menempel di permukaan sehingga dapat membuat orang yang menghirup bakteri tersebut tertular oleh TBC. Jadi, jangan biarkan lingkungan kamu kotor, ya.
Sementara itu, Tuberkulosis Resistan Obat atau biasa disebut TBC RO memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan bakteri yang masuk ke dalam tubuh menjadi lebih kebal akibat pasien kurang disiplin dalam menjalani pengobatan. Dengan demikian, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan penanganan yang lebih serius untuk mengobati penyakit Tuberkulosis Resistan Obat.

Saatnya meningkatkan kepekaan terhadap kondisi tubuh sendiri, Sahabat Dream. Meskipun masa pandemi ini membuat pikiran terfokus pada COVID-19, pahami pula gejala Tuberkulosis yang dapat mengancam jiwa.
Beberapa gejala mendasar dari Tuberkulosis cenderung mudah dikenali, seperti batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu, batuk berdarah, sering berkeringat saat malam hari, tubuh terasa lemas, nyeri dada saat bernapas, hingga demam dan menggigil. Jika kamu merasakan gejala tersebut, segera lakukan penanganan pertama dan berobat ke tempat pelayanan kesehatan, ya.

Tidak semua bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang masuk ke paru-paru langsung menimbulkan gejala, namun bisa mengendap dan berubah menjadi aktif. Pada periode tersebut, penularan ke orang lain pun menjadi susah dicegah.
Perilaku hidup bersih dan sehat adalah kunci dalam mencegah penularan TBC dan TBC RO. Menjaga kebersihan serta membiarkan sinar matahari masuk ke dalam rumah akan sangat membantu. Perkuat juga sistem kekebalan tubuh dengan menerapkan perilaku hidup yang sehat seperti rajin berolahraga, mengonsumsi makanan bernutrisi, hingga istirahat yang cukup. Saat keluar rumah, tetap jaga kesehatan diri dengan memakai masker dan menjaga jarak dengan orang lain.
Untuk menekan angka penularan dan penyebaran penyakit TBC, Kementerian Kesehatan RI kembali menggaungkan kampanye Ayo TOSS TBC (Temukan TBC, Obati Sampai Sembuh) dengan dukungan penuh PT Johnson & Johnson Indonesia. Kampanye ini merupakan kegiatan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat seputar penyakit TBC.
Ingat selalu, kita semua berisiko terkena TBC. Mumpung masih dalam suasana Hari Kesehatan Nasional, yuk, saatnya menjadi agen perubahan dengan mengambil aksi nyata dalam pencegahan TBC demi mewujudkan Indonesia Bebas TBC 2030. Dapatkan informasi lengkapnya dengan klik di sini!