4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Selesma atau common cold sering disalahartikan dengan flu. Jika dibandingkan, sifatnya lebih ringan dibandingkan dengan flu. Meski demikian, saat terserang selesma tubuh jadi sangat tidak nyaman.
Aktivitas terganggu, bahkan produktivitas menurun. Selesma disebabkan oleh virus namun biasanya akan hilang sendiri, tanpa diobati, dalam waktu sekitar seminggu.
Umumnya, selesma menyebabkan sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau berair, bersin dan batuk, tapi dengan suhu tubuh normal. Demi sembuh lebih cepat jika terserang selesma, jangan percaya dengan mitos berikut dan ketahui faktanya.
1. Selesma bisa sembuh dengan antibiotik
Banyak yang mengobati selesma dengan minum obat antibiotik. Faktanya, antibiotik tidak bisa menyembuhkan selesma. Selesma disebabkan oleh virus, dan antibiotik merupakan obat untuk membasmi bakteri.
Jangan sembarang minum antibiotik saat pilek dan flu, selalu konsultasi dengan dokter untuk mengonsumsinya.
" Selain percuma, sering mengonsumsi antibiotik sembarangan saat terserang selesma akan membuat penyakit tersebut menjadi kebal," kata dr Sarah Jarvis, seperti dikutip dari The Sun.
Banyak yang menganggap berolah raga, mandi sauna, atau tidur di bawah selimut tebal agar berkeringat bisa mempercepat penyembuhan menyembuhkan selesma. Jarvis tidak sependapat dengan mitos tersebut.

" Berolah raga dan keluar keringat saat menderita selesma akan menyebabkan tubuh mengalami dehidrasi, yang justru membuat sakit kepala dan kehilangan konsentrasi menjadi makin parah," katanya.
Pernyataan ini salah. Selesma tetap menular meski pasien sudah menuju sembuh. Dari beberapa hari sebelum muncul gejala sampai benar-benar pulih, selesma tetap menular.
![]()
" Selesma sangat menular saat penderita mengalami gejala pertama, yaitu ketika dia cenderung bersin dan batuk tidak henti-henti," kata Jarvis
Tidak juga. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan kita harus makan makanan panas agar sembuh dari selesma. Sebenarnya makanan panas hanya bisa membuat napas lebih lega dan tubuh lebih nyaman.

Bukan untuk menyembuhkan. Jarvis menyarankan untuk tidak berbagi alat makan dengan orang sehat jika kita menderita selesma.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
