Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mall Di Palu Ambruk (Twitter)
Dream - Gempa 7,4 Skala Richter dan tsunami yang melanda Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018 pekan lalu tak luput dari perhatian ilmuwan dunia.
Salah satu hal yang disoroti adalah sistem peringatan dini tsunami yang hingga saat ini masih dalam status pengujian.
Pakar manajemen bencana dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat, Louise Comfort, sangat menyayangkan dampak tsunami tersebut.
Dia menyebut dampak hebat tsunami Palu terjadi akibat lemahnya sistem peringatan yang ada serta rendahnya kesadaran masyarat dalam menanggapi bencana.
" Bagi saya, ini merupakan tragedi sains. Terlebih tragedi bagi masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di kawasan Sulawesi," kata Comfort, dikutip dari Sydney Morning Herald.
Comfort menjelaskan Indonesia memiliki sistem deteksi gelombang dasar laut teknologi tinggi, yang dipasang usai tragedi tsunami Aceh yang menewaskan lebih dari 250 ribu jiwa pada 2004 lalu.
Sayangnya, sistem yang dirancang melalui kerja sama dengan US National Science Foundation tersebut masih dalam tahap prototipe.
Timbul tarik-ulur terkait rencana pengembangan sistem tersebut hingga siap dipakai untuk jangka panjang yang menelan biaya mencapai US$4,1 juta, setara Rp61,1 miliar. Akhirnya, dana yang bisa dicairkan hanya sebesar Rp1 miliar.
" Sungguh miris mengetahui seperangkat jaringan yang bisa memberikan informasi kritis," kata Comfort.
Usai tsunami Aceh, diluncurkan upaya internasional untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya tsunami, terutama di kawasan Samudra Hindia. Bagi Indonesia bahkan dunia, tsunami 2004 adalah bencana terbesar yang pernah ada.
Sejumlah negara tergerak memberikan bantuan untuk membangun sistem peringatan dini, termasuk Jerman di dalamnya. Sudah ada 22 buoy (alat terapung penanda kedalaman laut) yang terhubung dengan sistem pendeteksi dasar laut.
Gempa Padang pada 2016 membuktikan tidak ada satupun pelampung deteksi tsunami yang berfungsi. Alat-alat tersebut rusak akibat aksi vandalisme, pencurian, atau tidak ada dana perawatan.
Sistem peringatan dini tsunami di Indonesia saat hanya mengandalkan 134 stasiun pengukur pasang surut air laut yang terhubung dengan seismograf di darat, sirine yang tersebar di 55 titik, serta sistem yang mampu menyebarkan pesan tertulis.
Saat gempa terjadi pada Jumat lalu, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami, mengingatkan bakal ada gelombang setinggi antara 0,5 sampai 3 meter. Peringatan dini dikeluarkan beberapa menit setelah gempa, namun dinyatakan selesai pada pukul 18.36 WITA.
Penghentian peringatan tersebut menuai kecaman dari media sosial. Tetapi, Kepala BMKG menyatakan peringatan dinyatakan berakhir setelah terjadinya tsunami.
" Alat pengukur air pasang itu beroperasi, tetapi tidak dapat memberikan informasi. Tidak ada satupun dari 22 bouy yang berfungsi," ucap Comfort.
" Pada insiden Sulawesi, BMKG membatalkan peringatan tsunami terlalu cepat, karena tidak punya data dari Palu. Ini merupakan data yang disediakan oleh sistem pendeteksi tsunami," kata dia melanjutkan.
Tetapi, pakar tsunami dari Earth Observatory of Singapore, Adam Switzer menilai lain. Menurut dia, sangatlah tidak adil menyalahkan BMKG sepenuhnya atas insiden ini.
" Ini menunjukkan model penanganan tsunami yang kita miliki saat ini terlalu sederhana," kata dia.
Sistem apapun, kata dia, harus memprioritaskan imbauan agar setiap orang menuju tempat tinggi ketika gempa besar terjadi. Mereka diharuskan tetap di sana dalam beberapa jam.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya