BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
Sperma Tertua Didunia (Foto: Merdeka.com)
Dream - Tim paleontologi menemukan sel sperma hewan yang diduga yang tertua di dunia. Para ahli menemukannya di Myanmmar.
Sperma tertua yang diperkirakan berusia 100 juta tahun, ditemukan membeku dalam hewan krustasea kecil yang terjebak di getah pohon di Myanmar. Tak hanya tertua, sel sperma tersebut juga berukuran besar.
Tim ahli yang dipimpin oleh Wang He dari Chinese Academy of Science, Nanjing, mengatakan, sampel sprema tertua sebelum penemuan tersebut berusia 17 juta tahun.
Sperma tersebut ditemukan dalam Ostracod, sejenis krustasea yang telah hidup sekitar 500 juta tahun yang lalu dan masih dapat ditemukan di banyak samudera saat ini. Penemuan ini dikemukan dalam jurnal Royal Society's Proceedings.
Sperma yang ditemukan berada di tubuh Ostracod betina. Kemungkinan sperma itu membeku menjadi amber (damar) sebelum terjadi pembuahan oleh si pejantan.
Dalam penemuannya, penelitian mengatakan sel sperma tersebut berukuran raksaksa. Berukuran 4,6 kali lebih besar dibandingkan Ostracod jantan.
Penemuan fosil cangkang Ostracod sudah banyak dilakukan, tetapi menemukan spesimen dengan sperma di dalamnya merupakan hal yang langka.
" Ini setara dengan sekitar 7,3 meter (24 kaki) pada manusia 1,7 meter, sehingga membutuhkan banyak energi untuk memproduksinya," Renate Matzke-Karasz dar Ludwig Maximilian University of Munich, salah satu penulis studi tersebut, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 17 September 2020.
Ostracod juga merupakan spesies baru yang oleh para ilmuwan dinamai " Myanmarcypris hui" .

Selama periode Cretaceous (sekitar 145 hingga 66 juta tahun yang lalu), Ostracod yang dimaksud kemungkinan hidup di perairan pesisir Myanmar, mereka terjebak dalam gumpalan getah pohon.
Kebanyakan pria di dunia hewan (termasuk manusia) umumnya menghasilkan puluhan juta sel sperma kecil. Akan tetapi bagi Ostracod, kualitas melebihi kuantitas.
Dikutip dari Merdeka.com, dilansir dari AFP, ada beberapa teori yang saling bertentangan tentang nilai evolusi sperma raksasa.
" Misalnya, percobaan menunjukkan bahwa dalam satu kelompok, tingkat persaingan yang tinggi antar laki-laki dapat menyebabkan kehidupan sperma lebih lama, sementara di kelompok lain, tingkat persaingan yang rendah juga menyebabkan kehidupan sperma yang lebih lama," kata Matzke-Karasz.
Penemuan ini menunjukkan bahwa reproduksi dengan sperma raksasa bukanlah pemborosan evolusioner di ambang kepunahan, tetapi keuntungan jangka panjang yang serius bagi kelangsungan hidup suatu spesies.
(Sah, Sumber: merdeka.com)
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
