7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Virus corona baru penyebab Covid-19 tidak hanya merusak paru-paru dan sistem pernapasan, tetapi juga otak dan jantung. Fakta ini terungkap dalam sebuah kasus di China.
Dr Teerawat Hemachuta, kepala Pusat Informasi untuk Penyakit Menular di Universitas Chulalongkorn, Thailand, memposting di akun Facebooknya bahwa ada kasus pasien Covid-19 yang mengalami demam, sakit kepala, dan kantuk.
Penelitian lebih lanjut menemukan Covid-19 terdapat dalam cairan serebrospinal di otak. Selain itu, virus tersebut juga merusak medula oblongata pasien sehingga sulit bernapas.
Pada 31 Maret, ada laporan seorang pasien seperti terkena influenza, tapi mengalami kelainan pada otak pusat dan ensefalopati nekrotik hemoragik akut yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang gagal melawan virus.
Sehingga ada dugaan bahwa Covid-19 mungkin tidak hanya menyebabkan masalah pada paru-paru tapi juga otak dan jantung, ujar Dr Teerawat.
Kasus yang lebih mendalam diungkap dalam sebuah artikel di New York Times edisi 1 April 2020.
Di artikel disebutkan pada awal Maret 2020, seorang pria berusia 74 tahun datang ke ruang gawat darurat di Boca Raton, Florida.
Pria itu mengalami batuk dan demam, tetapi pemeriksaan sinar-X mengesampingkan pneumonia dan ia dipersilakan pulang.
Keesokan harinya, ketika demamnya melonjak, anggota keluarga membawanya kembali ke rumah sakit.
Pria itu sesak napas dan tidak bisa memberi tahu namanya atau menjelaskan apa keluhannya. Dia kehilangan kemampuan untuk berbicara.
Pasien, yang menderita penyakit paru-paru kronis dan Parkinson, menggapai-gapaikan lengan dan kakinya dengan gerakan tersentak-sentak, dan terlihat seperti mengalami kejang.
Dokter mencurigai pria itu menderita Covid-19. Belakangan diagnosis dokter terbukti benar setelah dia menjalani tes.
Kasus lainnya melibatkan seorang wanita di usia akhir 50-an yang bekerja di sebuah maskapai penerbangan.
Pada hari Selasa, 31 Maret 2020, para dokter di Detroit melaporkan wanita itu positif Covid-19. Wanita itu terlihat bingung, dan mengeluh sakit kepala.
Dia bisa menyebutkan namanya kepada dokter tetapi tidak banyak, dan menjadi kurang responsif seiring berjalannya waktu.
Pemindaian otak menunjukkan adanya pembengkakan dan peradangan yang tidak normal di beberapa daerah, dengan area yang lebih kecil di mana beberapa sel telah mati.
Dokter mendiagnosis kondisi berbahaya yang disebut ensefalopati nekrotik akut, sebuah komplikasi langka antara influenza dan infeksi virus lainnya.
Sumber: Nation Thailand, New York Times
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?