Terhapusnya Peradaban Manusia

Reporter : Puri Yuanita
Sabtu, 15 April 2017 20:07
Terhapusnya Peradaban Manusia
Tak hanya manusia. Warisan peradaban tempo dulu juga turut merana akibat perang Suriah.

Dream - Bangunan itu porak-poranda. Rangka besi berkarat berserak. Lantai luas pun sudah kusam, berselimut debu tebal. Sebagian bahkan terkelupas. Padahal dulu hamparan ubin itu kinclong.

Gazebo di tengah halaman tak kalah suram. Kantong pasir bertumpuk di sela enam pilar kurus. Membentuk benteng. Bagian kubah tak lagi cantik. Cemong di sana-sini. Sungguh memprihatinkan.

Di bagian sudut, batu-batu bertumpuk. Enam tahun silam, tempat itu jadi lokasi menara berdiri. Menjulang, gagah. Tapi kini sudah rebah. Tak berbentuk, tinggal puing dan serbuk.

Itu baru lanskap luar. Di dalam gedung, lebih mengerikan. Tak ada dinding mulus. Semua bopeng. Bukan karena lapuk dimakan zaman, tapi berlubang bekas terjangan peluru.

Seluruh langit-langit menghitam. Rata, dari ujung ke ujung. Dan kelir itu bukan cat, melainkan jelaga sisa kebakaran. Bagian dalam tak kalah hancur lebur. Itulah pemandangan memilukan Masjid Agung Umayyah di Aleppo, Suriah.

 Masjid Umayyah© dream

Oktober 2012, pertempuran pecah di masjid yang dibangun abad ke delapan itu. Pasukan pemerintah dan kaum oposan jual-beli tembakan. Peluru hingga mortir berhambur. Meninggalkan kehancuran itu.

" Kita kehilangan warisan besar peradaban dunia, yang berumur ratusan atau bahkan ribuan tahun, akibat peperangan ini," kata Direktur Badan Pelatihan dan Riset PBB, UNOSAT, Einar Bjorgo.

Bukan hanya kaum Muslim. Siapapun akan teriris hatinya melihat kerusakan itu. Masjid Umayyah bukan sekadar tempat ibadah saja. Melainkan bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan Islam dari masa ke masa.

Sejak dibangun, tempat ini telah menjadi tempat terjadinya banyak peristiwa bersejarah. Berawal dari kompleks katedral, Khalifah Umayyah Al Walid I lalu menginisiasi pembangunan Masjid Agung ini.

 masjid umayyah© huffington post

Proyek ini selesai pada tahun 717, ketika kekuasaan Dinasti Umayyah berada di tangan Sulayman bin Abdul Malik. Setidaknya sejak abad ke delapan hingga 2012, Masjid Agung Umayyah telah mengalami kerusakan sebanyak sembilan kali dan 14 kali direnovasi.

Masjid ini pernah terbakar tiga kali dalam kurun waktu terpisah, yakni tahun 1169 akibat gempa bumi, 1260 akibat serbuan bangsa Tatar, dan 1280 oleh penguasa Sis. Gempa bumi pada 1822 juga menghancurkan bagian muka di selatan masjid ini.

Kali ini, Masjid Umayyah benar-benar " tumbang" . Perang kali ini menyumbang kerusakan paling fatal. Masjid terbesar di Aleppo yang dulu menjadi simbol kejayaan Islam di bumi Syam itu, kini tinggal puing-puing yang tersisa.

Perang Suriah memang berlarut. Sejak pecah enam tahun silam, hingga kini belum ada tanda usai. Selama itu kengerian terus mendera rakyat negeri itu. Data Syrian Observatory for Human Rights menyebut sekitar 386 ribu orang tewas, 14.000 di antaranya anak-anak. Lebih enam juta rakyat merana di dalam negeri. Lima juta lainnya kabur ke mancanegara. Sungguh mengiris hati.

Tak hanya manusia. Warisan peradaban tempo dulu juga turut merana. Dan Masjid Umayyah itu hanya salah satu saja. Berdasar citra satelit UNOSAT diketahui setidaknya 290 situs warisan budaya lumat akibat perang Suriah.

Berikut sejumlah situs bersejarah yang rusak selama perang Suriah:

1 dari 6 halaman

Kota Kuno Palmyra

Selain Masjid Umayyah di Aleppo, situs bersejarah lainnya yang luluh lantak akibat perang Suriah adalah Kota Kuno Palmyra. Situs bersejarah peninggalan masa Romawi yang sudah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO itu hancur akibat aksi saling serang antara tentara Suriah yang dibantu pasukan udara Rusia dengan para pasukan militan.

Selain menyimpan jejak peradaban Romawi, Palmyra merupakan kota kuno yang dijuluki " Bride of the Desert" . Yakni kota yang dulunya menjadi tempat perhentian para kafilah atau pedagang yang melintasi gurun Suriah dalam jalur perdagangan sutera.

2 dari 6 halaman

Al Madina Souq

Al Madina Souq ikut menjadi salah satu situs bersejarah yang rusak parah akibat Perang Suriah. Al Madina Souq adalah satu dari sejumlah situs Warisan Dunia UNESCO yang berdiri sejak tahun 1986 dan merupakan bagian dari kota kuno Aleppo.

Al Madina Souq adalah pasar tertutup bersejarah paling besar di dunia, yang membentang sekitar 13 kilometer. Sayangnya, pasar kebanggaan publik Suriah itu kini telah hancur akibat sengitnya pertempuran antara pasukan FSA (Free Syrian Army) melawan angkatan bersenjata rezim Assad.

3 dari 6 halaman

The Citadel of Aleppo

Kejayaan sebagai benteng tertua dan terbesar di dunia rasanya tak bisa lagi disandang The Citadel of Aleppo. Pasalnya, situs bersejarah satu ini telah luluh lantak.

Bangunan ini menjadi salah satu situs bersejarah yang dilindungi karena di dalamnya terdapat istana yang pernah ditempati oleh orang-orang Yunani, Bizantium, Ayyubiyah dan Mamluk.

Ironisnya, pada 2012 The Citadel mengalami kerusakan sangat parah akibat pertempuran Aleppo. Bahkan, gerbang luar benteng juga hancur tatkala tentara oposisi FSA bentrok dengan tentara rezim Assad.

4 dari 6 halaman

Kota Kuno Bosra

Bosra (Bozrah, Bostra, Busra al-Syam) adalah kota lama yang letaknya 108 km dari Damaskus. Kota ini dahulunya adalah tempat tinggal bagi orang-orang Nabatea. Kota ini kemudian ditaklukkan oleh kerajaan Romawi.

Pada awal abad ke-4, Bosra menjadi kota Kristiani yang kemudian takluk pada kekuasaan Muslim pada tahun 634/635 Masehi. Dulu, kota ini juga merupakan tempat singgah bagi para calon haji yang menuju Mekah dan Madinah.

Bangunan-bangunan di Bosra merupakan perpaduan bangunan Romawi, Bizantium, dan Islam. Bosra, terkenal dengan teater Romawinya yang lengkap dengan panggung seluas 45 m dan setinggi 8 m. Teater ini mampu menampung 15.000 orang.

Terdapat puing-puing gereja di sekitarnya dan beberapa masjid. Masjid Al-Omari yang dibangun tahun 720 adalah salah satunya. Bangunan-bangunan di Bosra mulai hancur pada akhir tahun 2015 saat berlangsung perang sipil di Suriah.

5 dari 6 halaman

Kota Kuno Apamea

Kota kuno di pinggir Sungai Orontes ini letaknya 55 km dari Kota Hama. Kota ini merupakan kota perdagangan pada masa Romawi. Bangunan penting di kawasan ini yaitu Panggung Teater Romawi yang mampu menampung 20.000 orang.

Ada pula Colonnade (bangunan tiang) di Apamea, berderet sepanjang 2 km, menjadikannya sebagai bangunan Romawi terpanjang. Sejak awal pecah perang di Suriah pada 2011 silam, kawasan ini senantiasa tergerus oleh gempuran senjata.

6 dari 6 halaman

Benteng Crac des Chevaliers

Pada tahun 2006, benteng satu ini resmi diakui UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia. Namun, hanya selang beberapa tahun setelah itu, Benteng Crac des Chevaliers mengalami banyak kerusakan akibat Perang Suriah.

Beri Komentar