Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Dalam 15 tahun terakhir, penelitian terbaru menunjukkan pengetahuan dan perilaku laktasi ibu di Indonesia, terutama ibu pekerja tidak menunjukkan perbaikan signifikan.
Bertepatan dengan momentum Hari Ibu yang diperingati tiap 22 Desember, Health Collaborative Center ingin menegaskan kepada pemerintah dan masyarakat, untuk tidak menomorduakan upaya kualitas laktasi working mom.

“ Negara masih gagal untuk memproteksi hak ASI (Air Susu Ibu) di Indonesia," ungkap Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi di Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019.

Dr Ray/Foto: Dream-Michelle Rachel
Buktinya, kata dia, dari hasil Riskesdas 2003 hingga 2018, prevalenss ASI eksklusif nasional cuma berkisar antara 32 hingga 38 persen. " Yang sangat jauh dari target nasional yaitu 80 persen," terang Dokter Ray lagi.
Ia juga menegaskan, dukungan tempat kerja juga belum kondusif.
Melalui penelitian, ia menunjukkan bahwa sekitar 21 persen tempat kerja di Indonesia yang memberikan dukungan fasilitas memadai untuk laktasi, dan 7,5 persen pekerja di Indonesia yang bisa menikmati program promosi laktasi di tempat kerja.
“ Apabila pemerintah belum bisa memberikan cuti melahirkan hingga enam bulan, maka sangat penting bagi pemerintah untuk memastikan implementasi dukungan laktasi di tempat kerja menjadi maksimal,” tegasnya.

Efek laktasi dan menyusui sangat besar, bukan hanya terhadap kesehatan ibu dan bayi tetapi juga untuk kesehatan bangsa.
Oleh karena itu, Dr. Ray melalui Health Collaborative Center mengajak seluruh masyarakat fokus menjadikan ASI eksklusif dan laktasi sebagai prioritas pembangunan kesehatan nasional.

(Laporan: Michelle Rachel Evangelista Maramis)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya