Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Vaksinasi
Dream - Selama pandemi, Sahabat Dream mungkin pernah mendengar istilah herd imunity. Dikutip dari Kemenkes.go.id, herd immunity adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu.
Hal tersebut juga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut. Vaksinasi adalah salah satu cara untuk membentuk herd imunity.
Banyak yang beranggapan kalau vaksinasi hanya akan melindungi satu orang saja. Rupanya dampak vaksinasi lebih besar dari kesehatan individu. Justru dengan pemberian vaksinasi secara masif bisa membentuk herd immunity.
Untuk besaran cakupan vaksinasi tergantung kemampuan penularan virus atau bakteri. Makin cepat penularannya, maka makin membutuhkan cakupan yang besar.
" Kalau banyak orang di sekeliling kita diimunisasi, yang tidak bisa mendapatkan imunisasi karena berbagai sebab seperti, ada penyakit, terlalu muda untuk diimunisasi, atau tidak mendapat akses ke vaksin, jadi ikut terproteksi,” ujar Prof. Dr. dr. Cissy Rachiana Sudjana, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, beberapa waktu lalu.
Untuk kasus Covid-19 diperkirakan kecepatan penularannya atau Reproductive Number (Ro) mencapai 2 hingga 5 kali. Dengan daya penularan sebesar itu, imunisasi COVID-19 harus tercapai 60-70% dari populasi agar tercipta herd immunity.

“ Saya mengharapkan semua masyarakat terutama media yang bisa memberikan edukasi, untuk mengedukasi masyarakat kita bahwa vaksin adalah cara paling efektif untuk menurunkan kesakitan, kematian dan juga kecacatan. Biayanya juga paling cost effective. Kita lakukan demi Indonesia,” ujar dr. Cissy Rachiana.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Ilmuwan pengembang vaksin di seluruh negara di dunia kini tengah bekerja keras untuk membuat vaksin Covid-19. Virus yang berasal dari Wuhan, China itu memicu pandemi dan menyebabkan angka kematian yang sangat tinggi di banyak negara.
Vaksin Covid-19 sangat dibutuhkan demi menekan penambahan kasus serta kematian. Nantinya, vaksin bakal diberikan pada mereka yang sehat. Sampai saat ini sudah ada 10 jenis vaksin Covid-19 yang sudah sampai tahap uji klinis fase tiga.

Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira-Kartasasmita, Sp.A. (K), M.Sc, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dalam webinar " Mendalami soal Vaksin dan Imunisasi" yang digelar Selasa, 27 Oktober 2020.
Menurut Prof Cissy, jenis vaksin Covid-19 yang tengah dikembangkan cukup beragam. Ada yang berupa vaksin hidup yang dilemahkan, ada juga yang berupa inactivated dan masih banyak lagi.
" Untuk covid-19, ini satu vaksin dibuat dengan berbagai platform. Ada yang virus mati inactivated, virus hidup yang dilemahkan, ada DNA RNA, ada delapan macam platform, yang di Indonesia inactivated, yang sedang kita lakukan penelitiannya," ujar Prof Cissy.
Sebelum memasuki uji klinis fase tiga, vaksin Covid-19 melewati banyak tahapan untuk menjamin keamaan. Tahap pertama adalah Pra Klinik, berupa identifikasi calon vaksin yang dilakukan oleh tim peneliti antigen. Uji antigen pada tahap ini dilakukan pada binatang.

Calon vaksin Covid-19 yang lolos kemudian melalui tahap uji klinis fase 1 dengan melibatkan 100 orang untuk pengujian respons imun. Setelah itu tahapan selanjutnya adalah uji klinis fase 2, untuk melihat keamanan dan efektivitasnya, yang melibatkan 400-600 orang.
Pada calon vaksin Covid-19 yang kini tengah diteliti di Indonesia, sedang dalam tahapan uji klinis fase 3, di mana pengujian dilakukan pada ribuan atau puluhan ribu orang. Nantinya, jika vaksin bekerja dengan baik dapat disetujui oleh pihak yang berwenang untuk diproduksi dan diedarkan.
Untuk di Indonesia, pihak yang berwenang adalah BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Menurut Prof Cissy, jika BPOM sudah memberi izi produksi dan izin edar maka bisa dikatakan aman.
" BPOM sudah melakukan hal yang baik, tidak kalah dengan FDA (Food and Drug Adminstration) di Amerika. Kalau BPOM sudah rilis sertifikat, dan diproduksi, percayalah itu aman," ungkap Prof Cissy.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya