Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Ilustrasi Vaksin COVID-19. (Foto: Shutterstock)
Dream – Munculnya varian baru virus Sars-CoV-2 atau Covid-19 memicu kekhawatiran publik dengan keampuhan vaksin yang sudah diproduksi. Diketahui virus baru ini berkembangan setelah para ahli dan pabrik farmasi memproduksi vaksin anti-Covid-19.
Pakar biologi molekuler dari Harvard Medical School, Amerika Serikat, Ahmad Rusdan Utomo, lewat akun Instagram @ahmadrusjdan, menjelaskan, konsep vaksinasi ini dilakukan dengan banyak cara. Misalnya menggunakan protein virus yang dimatikan, materi genetik yang dibawa oleh protein tanduk (spike) virus, atau adonovirus yang membawa materi genetik virus.
“ Setelah diinjeksi ke manusia, akhirnya timbul antibodi sebagai reaksi terhadap protein spike,” kata dia.
Saat antibodi mengenali antigen—protein spike—ada titik yang spesifik di lokasi protein tanduk virus, yaitu epitop. Epitop ini adalah lokasi titik antigen dan antibodi berikatan. Ada empat epitop yang dikenali oleh antibody manusia. Saat antibody bisa mengikat protein spike.
“ Saat antibodi bisa mengikat protein spike, tentu bisa menghambat ikatan (spike) dengan reseptor manusia. Di sinilah konsep vaksin,” kata dia.
Terkait kekuatan vaksin, terutama protein tanduknya, ketika virus COVID-19 bermutasi, Ahmad mengatakan antibodi tentu tak bisa mengenali satu tanduk yang sudah bermutasi.
“ Akan tetapi, ingat, ada sekitar tiga antibodi. Tiga ini mengenali epitop yang masih normal dan belum bermutasi,” kata dia.
Dengan begitu, kekebalan tubuh itu diharapkan bisa mendeteksi COVID-19 dan menghalanginya masuk ke tubuh.
“ Data-data yang ada sekarang dari berbagai macam variasi mutasi varian dari COVID-19. Sejauh ini masih bisa diblok,” kata Ahmad.
Ahmad meyakini vaksin Covid-19 yang ada saat ini mampu mencegah terjadinya penularan terhadap relawan. Dikatakan bahwa keefektifannya melebihi 90 persen.
“ Enam puluh lima sampai Sembilan puluh lima efektif,” kata dia.
Namun, lanjut Ahmad, dia tak bisa memastikan kemampuan vaksin ini mencegah penularan kepada orang lain dari seseorang yang telah mendapatkan injeksi.
“ Kita tidak tahu, oleh karena itu penting bagi kita semua untuk tetap menggunakan masker bahkan setelah divaksin,” kata dia.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya