Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Suasana Di Sudut Kota Di Mesir Menjelang Pilpres (abc.net.au)
Dream - Hari ini waktu setempat, Mesir menggelar pemilihan umum presiden, menyusul berakhirnya kekuasaan Abdul Fatah Al Sisi. Sayangnya, pesta demokrasi ini tidak disambut meriah oleh rakyat Mesir.
Sebanyak 60 juta rakyat Mesir akan memilih calon incumbent atau Pemimpin Partai El Ghad, Mousa Mostafa Mousa. Sejatinya, Mousa sendiri merupakan salah satu pendukung fanatik Sisi.
Muncul kekhawatiran akan adanya sikap apatis dari sebagian besar rakyat Mesir lantaran dua kandidat yang bertarung sebenarnya berada di pihak yang sama. Ditambah, sejumlah warga menyaksikan sendiri pelanggaran sebelum pelaksanaan pemilu.
Ada praktik pembelian suara. Sementara di distrik lain, pemilik toko dipaksa memasang spanduk dukungan kepada Sisi dan semua orang diminta menyembunyikan identitasnya dengan alasan keamanan.
Kekhawatiran tidak adanya pemilih juga dirasakan oleh pendukung Sisi, Nermin Nazim. Pria yang berprofesi sebagai pembaca berita ini telah berusaha keras menggalang dukungan bagi Sisi.
" Akan ada yang mendukungnya tapi mereka tidak mau repot-repot datang untuk memberikan suara," kata Nazim, dikutip dari The Guardian, Senin, 26 Maret 2018.
" Bagaimana dia bisa menang jika tidak ada yang datang (memberikan suara)? Dia tidak bisa menang dengan suara kecil dari mayoritas," kata dia melanjutkan.
Komisi pemilihan Mesir berupaya mengajak seluruh rakyat Mesir berpartisipasi dalam pemilihan presiden. Badan ini menyebarkan banyak iklan ajakan memilih yang disiarkan televisi dan radio. Mufti Agung Mesir pun sampai turun tangan mengajak orang Mesir memilih.
Penduduk kawasan tetangga Giza, Haram, mengatakan ada keluarga kaya mendatangi warga desa dan memberikan 100 pound Mesir, setara Rp79 ribu, agar mereka berpartisipasi pada pemilihan umum. " Mereka butuh dan senang menerimanya," kata wanita itu, yang tidak disebutkan namanya.
Sedangkan seorang penduduk kawasan Ain Shams, mengatakan beberapa pemilik toko yang menjual barang-barang subsidi pemerintah menawarkan tambahan belanja gratis. Syaratnya, penduduk harus menunjukkan jarinya yang dibubuhi tinta merah muda sebagai bukti telah menyalurkan suara.
" Saya sedang duduk di kafe dan melihat orang yang bertanggung jawab mendistribusikan barang subsidi berkata kepada kami dan seluruh keluarga agar memberikan hak suara," kata dia, yang enggan disebut namanya.
" Dia berkata jika kami kembali dengan jari yang dibubuhi tinta merah muda, kami akan mendapat sekotak ransum dan tambahan poin untuk belanja bulan depan," lanjut dia.
Apatisme rakyat Mesir terasa semakin menguat usai pernyataan Mousa. Dia sempat mengatakan di ajang ini, Mousa tidaklah sedang menantang Sisi.
Nama Mousa masuk dalam daftar kandidat presiden di detik-detik terakhir. Ini setelah lima figur potensial penantang Sisi diblok oleh otoritas.
Meski otoritas berwenang berupaya keras mengajak rakyat Mesir memilih, banyak yang merasa datang ke TPS hanya buang-buang waktu. " Pemilu telah kehilangan alasan yang mendasar," kata Samia dari Assiut.
Dia mengaku memilih Sisi pada 2014 lalu karena yakin calon yang didukungnya adalah sosok yang loyal pada orang-orang tidak mampu. " Nyatanya dia tetap memihak para orang kaya," ucap dia.
Hal serupa diungkapkan oleh Markos. Pria yang berasal dari komunitas Kristen Koptik, yang dulunya pendukung Sisi, menyatakan tidak akan memberikan suaranya pada pemilu kali ini.
" Rezim telah mengambil orang begitu saja. Ini lebih tepat disebut referendum ketimbang pemilu. Ini lebih rasional," kata Markos.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya