Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (www.static-ssl.businessinsider.com)
Dream - Warga Jerman, Greta Taubert, melakukan percobaan aneh. Dia ingin merasakan bagaimana hidup saat perekonomian dunia runtuh. Oleh sebab itulah, perempuan berusia 30 tahun ini hidup tanpa uang dalam setahun.
Dikutip Dream dari laman Gulf News, Rabu 13 Agustus 2014, selama percobaan tersebut Taubert membuat sendiri hampir semua barang untuk keperluan sehari-hari. Mulai dari sampo, pasta gigi, hingga sabun. Semua dijamin 100 persen dari bahan organik.
" Tapi saya mulai terlihat seperti Neanderthal," ujar Taubert sambil menunjukkan rambut pirangnya. Itu pertanda bahwa sampo buatannya menyebabkan rambutnya menjadi agak kumal.
Untuk pakaian, perempuan yang bekerja sebagai wartawati lepas ini melakukan barter dengan tetangga kanan kiri. Tentunya bukan pakaian baru, melainkan hanya baju bekas saja yang dia dapat. Sementara untuk memenuhi kebutuhan pangan, Taubert menanam kubis dan kentang di taman milik warga.
Hidup tanpa uang bukan berarti Taubert tidak bisa berlibur. Dia bahkan sempat berjalan-jalan hingga ke Barcelona, yang jaraknya sekitar 1.700 kilometer dari tempat tinggalnya di Leipzig, daerah yang dulu masuk Jerman Timur. Dia menumpang kendaraan orang, meski harus berjongkok di atas kendaraan, di sepanjang perjalanan. Sehingga gratis.
Setelah eksperimen ektrem itu, Taubert menulis sebuah buku berjudul " Apokalypse Jetzt! Atau Sekarang Kiamat. Buku itu diterbitkan Februari silam. Dalam buku tersebut, dia menceritakan hidupnya yang jauh dari produk-produk bermerek, benda-benda dari supermarket, dan juga limbah-limbah sisa konsumsi masyarakat yang dibeli dari jaringan bisnis raksasa.
Petualangan aneh ini bermula pada suatu hari saat dia berada di rumah sang nenek. Kala itu Minggu sore, Taubert melihat banyak makanan di meja. Semua menu yang tersaji itu produksi pabrik. " Saat saya meminta susu, nenek saya membuatkan susu bubuk rasa cokelat, pisang, vanila, atau stroberi," kata dia.
Saat itulah dia merenung. Dia menilai sistim ekonomi dunia saat ini didasarkan pada pertumbuhan yang tidak terbatas. Sementara, daya dukung alam ini sangat terbatas. Manusia, kata dia, selalu merasa kurang. Sehingga konsumsi berlebih-lebihan.
Dia mencatat, pada 2012 saja, Jerman menghasilkan tujuh ton sisa makanan. Itu berarti, setiap orang rata-rata membuang 81,8 kilogram sisa makanan. Semua berakhir di tempat sampah.
Argumen yang dibangun oleh Taubert dalam buku itu adalah, seberapa banyak kebutuhan yang dianggap manusia untuk merasa cukup. Dalam percobaan ini, Taubert bertemu dengan banyak orang. Di situ pula dia menerima banyak pelajaran.
" Sekarang saya mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari apa yang saya pelajari tahun ini. Tapi saya tidak lagi hidup secara radikal," ujar Taubert. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya