Polisi Belum Temukan Indikasi Terorisme Kasus Radioaktif Tangsel

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 17 Februari 2020 18:00
Polisi Belum Temukan Indikasi Terorisme Kasus Radioaktif Tangsel
Polisi mengamankan beberapa sampel tanah untuk diselidiki.

Dream - Polisi turut menyelidiki kejadian paparan radioaktif di tanah kosong Perumahan Batan Indah, Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Banten. Sejauh ini belum ditemukan indikasi keterlibatan teroris dalam kasus tersebut.

" Tidak seperti itu ya (ada keterlibatan teroris)" ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di kantornya, Jakarta Selatan, Senin, 17 Februari 2020.

Menurut Asep, polisi bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir (Batan) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dalam mengusut kasus paparan radioaktif di atas ambang batas normal. Sejauh ini, penyelidikan belum mengarah ke pelaku.

" Hasil olah TKP kemarin, kami mengamankan beberapa sampel tanah untuk dilakukan penyelidikan terhadap bahan tersebut, dan penyebab kenapa daerah tersebut terpapar radioaktif," ucap dia.

Sebelumnya, Batan dan Bapeten telah mengumpulkan 100 lebih drum tanah yang terpapar radioaktif Cesium-137 atau Cs-137 dari lahan kosong Perumahan Batan Indah, Setu, Tangsel.

Seluruh drum sampel tanah terpapar radioaktif itu langsung dibawa ke Kantor Batan di daerah Puspitek Serpong, Tangsel yang berjarak sekitar 3 kilometer. Lalu, tim gabungan tersebut akan menggelar rapat evaluasi mengenai pengerjaan tersebut.

Sementara, serbuk cesium 137 yang ditemukan di awal, sudah tersimpan khusus. Nantinya, serbuk tersebut akan menjadi barang bukti penyelidikan kepolisian.

Sebab ada dugaan pelanggaran pembuangan limbah radioaktif dengan sengaja di tengah-tengah permukiman warga tersebut. " Barang bukti ini kan punya resiko bahaya sendiri, jadi harus diletakan di lab khusus milik Batan," kata Kepala Biro Hukum, Humas dan Kerjasama Bapeten Indra Gunawan.

Sumber: Liputan6.com/ Nanda Perdana Putra

1 dari 4 halaman

Perumahan Batan Indah Terpapar Radiasi, Ini Penjelasan BATAN

Dream - Perumahan Batan Indah, Tangeran Selatan, diketahui terpapar zat radioaktif. Hal ini merupakan hasil pemantauan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) yang dilakukan pada 30 hingga 31 Januari 2020 lalu.

Dari rilis yang diterima Dream, Indra Gunawan yang merupakan Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten mengungkap kalau, secara umum nilai paparan radiasi lingkungan pada daerah pemantauan menunjukkan nilai normal (paparan latar).

" Pada saat dilakukan pemantauan di lingkungan Perumahan Batan Indah, ditemukan kenaikan nilai paparan radiasi di lingkungan area tanah kosong di samping lapangan voli blok J," ungkapnya.

Tim uji fungsi kemudian melakukan pengecekan ulang dan penyisiran di sekitar daerah tersebut.  Ditemukan nilai paparan radiasi lingkungan dengan laju paparan terukur signifikan di atas nilai normal.

Bapeten telah melakukan koordinasi dengan menginformasikan hasil pengecekan kepada RT setempat, dan memasang safety perimeter (garis pembatas) di lokasi dengan laju paparan yang tinggi, dengan disaksikan oleh ketua RT. Sampel tanah di sekitar lokasi juga diambil untuk dianalisa.

" Berdasarkan hasil analisa di laboratorium dan juga hasil pengukuran laju paparan sebelumnya, maka tim gabungan BAPETEN dan BATAN melakukan upaya pencarian sumber yang diduga menjadi penyebab kenaikan laju paparan di atas," ungkap Indra.

2 dari 4 halaman

Imbauan Penting untuk Warga

Kegiatan pencarian telah dilaksanakan pada tanggal 7-8 Februari 2020 yang menemukan beberapa serpihan sumber radioaktif. Setelah pengangkatan serpihan sumber radioaktif tersebut, dan dilakukan pemetaan ulang, ditemukan bahwa laju paparan mengalami penurunan, namun masih di atas nilai normal.

Ada Radioaktif, Batan Sterilkan Tanah Kosong Perumahan Batan Indah© MEN

" Berdasarkan hasil tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi kontaminasi yang sifatnya menyebar di area tersebut," kata Indra.

Untuk laju paparan pada batas trotoar jalan Perumahan Batan Indah blok H, I, J dan lapangan voli blok J terukur pada batas normal. Demi keselamatan, warga dihimbau untuk tidak memasuki lokasi terdampak kontaminasi hingga batas trotoar dan lapangan voli.

3 dari 4 halaman

Bocah 14 Tahun Bangun Reaktor Nuklir Sendiri

Dream - Bocah asal Memphis, Tennessee, Amerika Serikat, Jackson Oswalt, 14 tahun, berbeda dengan anak kebanyakan. Jika anak seusianya menghabiskan waktu dengan bermain video game atau melihat televisi, Oswalt punya kesibukan sendiri.

Kesibukannya bahkan melampaui usianya. Dia berhasil membangun reaktor nuklir mini yang diletakkan di ruang bermain di rumahnya.

Bocah 14 Tahun Bangun Reaktor Nuklir Sendiri© MEN

Dikutip dari Science Alert, Oswalt dijuluki sebagai insinyur nuklir termuda. Dia mulai membangun reaktor nuklir mandirinya ketika berusia 12 tahun.

Selama setahun, Oswalt mematangkan risetnya. Pada 19 Januari 2018, beberapa jam saja sebelum ulang tahunnya ke-13, Oswalt melaporkan misinya telah tercapai.

Menggunakan listrik dengan daya 50 ribu volt, Oswalt mampu memadukan dua atom gas deuterium. Dia dilaporkan berhasil menggabungkan inti atom di reaktor plasmanya.

Kelompok penghobi nuklir, The Open Source Fusor Research Consortium, baru-baru menganugerahi Oswalt penghargaan.

Selain berhasil menciptakan reaktor, Oswalt juga menghasilkan plasma dari fusi nuklir. Kondisi ini membuat atom yang diproses tak hancur.

4 dari 4 halaman

Uji Coba Beberapa Bulan

Dia sempat melakukan sejumlah uji coba tingkat lanjut selama beberapa bulan. Hasil yang didapat membuat Oswalt semakin yakin dia berhasil memadukan inti atom.

" Bagi mereka yang tidak pernah melihat unggahan saya belakangan, ini akan menjadi kejutan besar, saya bahkan percaya saya telah mencapai tahap penggabungan," tulis Oswalt di laman forum Fusor.net.

" Namun, selama sebulan terakhir saya telah membuat banyak kemajuan dari perbaikan kebocoran besar di sistem saya. Saya tahu, saya telah memiliki jawaban yang saya yakini sangat layak," tulis dia melanjutkan.

Remaja ceria ini telah mengubah ruang bermainnya dulu di rumah orangtuanya menjadi laboratorium nuklir. Dia menghabiskan biaya mencapai US$10 ribu, setara Rp699 juta.

" Proses dimulai dari hanya mempelajari apa yang sudah dihasilkan orang-orang dari reaktor fusi mereka," kata Oswelt.

Dia lalu mengumpulkan bagian yang diperlukan. Dia belanja bagian-bagian itu melalui e-commerce eBay.

" Seringkali bagian-bagian yang saya dapatkan dari eBay tidak sepenuhnya saya butuhkan, jadi saya harus memodifikasinya agar sesuai dengan apa yang saya butuhkan untuk projek saya," kata dia.

Meski demikian, para ilmuwan belum bisa yakin atas capaian Oswelt. Sehingga, hasil remaja ini belum dapat diverifikasi sebelum dipublikasikan dalam jurnal akademi. (ism)

Beri Komentar