Buyung dan Jas Musim Dingin untuk Teten

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 24 September 2015 15:02
Buyung dan Jas Musim Dingin untuk Teten
Teten mengaku memiliki kenangan begitu mendalam terhadap sosok Buyung. Di mata Teten, Buyung selalu membantu mereka yang kesusahan.

Dream - Berpulangnya advokat senior Adnan Buyung Nasution meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam diri Teten Masduki. Aktivis yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan itu mengaku memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Bang Buyung.

Bahkan, Teten merupakan orang yang membantu Buyung menyelesaikan penulisan disertasi saat menempuh pendidikan doktoral di Utrecht University. Teten dengan setia menulis setiap perkataan Buyung dalam lembar-lembar yang nantinya akan disusun menjadi disertasi saat keduanya sedang berada di Hamamet, Tunisia, untuk mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan sejumlah sarjana hukum internasional.

" Jadi hampir setiap hari seusai kursus atau pada malam hari, kami duduk berdua di depan komputer dan menulis disertasi beliau lembar per lembar dan dikirim ke sekretaris Bang Buyung di Belanda," ujar Teten melalui aplikasi percakapan online Whatsapp diterima Dream, Kamis, 24 September 2015.

Teten menjelaskan tidak jarang keduanya terlibat perdebatan cukup alot. Perdebatan itu menjadi bahan dalam penyusunan disertasi Buyung, yang kemudian dikirimkan melalui email ke dosen promotor.

" Kalau bahan disertasi sudah di-email ke Belanda, Bang Buyung biasanya mengajak jalan santai menikmati suasana petang yang indah di Hamamet dan mentraktir saya makan yang enak," kata Teten.

Suatu ketika, ada momen yang tidak mungkin dilupakan Teten. Tiba-tiba, Buyung bertanya apakah Teten memiliki jas, mengingat kala itu musim dingin hampir tiba.

" Saya bilang tidak punya, saya cuma bawa jaket sepotong, dan lalu dia buka jas yang dipakainya dan lalu dikasih ke saya. Jas itu pula yang saya pakai waktu saya menikah pada 1995 dan sampai sekarang saya koleksi sebagai kenangan dari tokoh pergerakan kemanusiaan yang saya hormati," ungkap Teten.

Satu lagi kenangan tentang kebaikan Buyung di mata Teten. Sebelum kedua terpisah lantaran Buyung harus meninggalkan Tunisia untuk kembali ke Belanda, dia membekali Teten dengan uang saku 300 dolar AS dan memintanya membeli pakaian yang pantas.

" Soal ini saya tahu betul maksudnya, karena Bang Buyung selalu berpakaian necis," kenang dia.

Lebih lanjut, Teten berharap seluruh ajaran dan jasa Buyung tetap dikenang oleh segenap anak bangsa. " Semoga ajaran, jasa-jasa dan kebaikan Bang Buyung untuk kemajuan gerakan HAM dan demokrasi di Indonesia, tetap dikenang oleh kita semua dan mendapat tempat di sisi Allah SWT," ungkap Teten.

Beri Komentar