Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bombong (Merdeka)
Dream - Menjadi politisi bukanlah cita-cita Gus Bombong. Namun, pemuda asal Sragen, Jawa Tengah, itu haus melakoni peran sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setelah terpilih dalam pemilu leislatif April silam.
Pemilik nama lengkap Bombong Lukito Samudro ini memang terbilang beruntung terpilih sebagai anggota Dewan di Sragen. Sebab, semula tak berniat ikut pesta demokrasi lima tahunan itu. Dia dicalonkan oleh santri di Pondok Pesantren Nurul Huda. Ditambah lagi, dia tak mengeluarkan sepeser pun uang selama kampanye.
" Saya kan didaftarkan jadi DPRD oleh santri dan relawan ponpes Nurul Huda dan sudah rembukan sama Abah Syarif. Itu sudah telat 1 minggu. Terus saya disuruh ke PKB Sragen, terus dapat nomor urut satu," kata Bombong dikutip Dream dari merdeka.com, Senin 15 September 2014.
Putra pengasuh Pompes Nurul Huda, Abah Syarif Hidayatulloh, memang mengaku tak pernah terlibat langsung selama masa kampanye. Pemuda berusia 22 tahun ini lebih banyak dibantu leh para santri dari Ponpes Nurul Huda.
" Sebelum pencoblosan, santri pondok Nurul Huda dan relawan yang kampanye. Saya hanya ikut kampanye terbuka. Nggak pernah sama sekali keluarin dana. Buat apa nyalon (jadi caleg) kalau nyogok rakyat. Saya juga biasa saja pas lolos jadi DPRD," jelas Bombong.
Sementara itu, Abah Syarif mengaku majunya Bombong sebagai caleg DPRD sempat membuat lingkungannya geger. Cibiran juga banyak dilontarkan kepada anaknya.
" (Bombong nyaleg) dibilang aneh sama orang-orang. Tapi akhirnya jadi. kaget semua, ya Kapolres, Dandim, Bupati sekarang hormat. Seribu saja nggak keluarin duit saat kampanye," kata Abah Syarif.
Menurut Abah Syarif, saat ini Bombong tinggal baru lulus dari Universitas Nahdatul Ulama (UNU) dan tinggal menunggu wisuda. Dia sesumbar bahwa putranya ini memang sudah pintar sejak sekolah.
" Kuliahnya di UNU, jurusasn ekonomi. Sekarang tinggal wisuda. Memang dari dulu pas sekolah anak saya pinter, pada rangking 1 semuanya," ujarnya.
Meski putra keduanya ini lolos menjadi wakil rakyat, Abah Syarif menyayangkan gagalnya kakak Bombong, Suro Jogo, malah gagal sebagai DPD RI. " Di daerah Jawa Tengah, di mana-mana menang, tapi nggak lolos. Habis suaranya di pleno kecamatan," terangnya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya