Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Bocah Mati Tenggelam Di India (dailymail.co.uk)
Dream - Enam bocah di Alugunur, India, tewas tenggelam usai menceburkan diri ke Waduk Manair. Mereka bermaksud berencam untuk mendinginkan tubuh mereka akibat cuaca panas ekstrim dengan temperatur mencapai 48 derajat celsius yang telah menewaskan 1.400 orang.
Keenam bocah itu adalah Yachamaneni Pratheesh, 13 tahun, Pradyumna, 10 tahun, kembar Juvvadi dan Suhith Soumith, 8 tahun, Joginapalli Shiva Sai, 14 tahun dan Danaboina Sai Srijan Reddy, 14 tahun.
Awalnya mereka bermaksud mandi setelah bermain kriket. Tetapi, mereka tidak tahu ternyata waduk tersebut cukup dalam.
Inspektur Polisi G Narender mengatakan insiden tersebut terjadi pada Kamis, 8 Mei 2015. Menurut dia, hanya satu dari keenam bocah tersebut yang bisa berenang, yaitu Joginapallu Shiva Sai.
Kasus kematian enam bocah ini menambah jumlah korban meninggal akibat cuaca ekstrim yang tengah melanda India. Menurut pejabat Badan Metereologi India, temperatur tinggi masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Pemerintah India pun mengingatkan masyarakat agar mengenakan penutup kepala ketika berada di luar ruangan dan minum banyak air. Tetapi, kaum miskin India kebanyakan bekerja di luar ruangan.
"Kami harus bekerja meski harus menghadapi ancaman (cuaca panas), atau kami tidak bisa makan," kata petani di Distrik Nalgonda kawasan selatan Andhra Pradesh, Narasimha, dikutip Dream.co.id dari dailymail.co.uk, Jumat, 29 Mei 2015.
"Tapi kami berhenti bekerja saat sudah tidak tahan," lanjutnya.
Di kota Nizamabad, 149 Kilometer arah utara dari Ibu Kota Hyderabad, para pekerja bangunan masih tetap bekerja meski cuaca begitu ekstrim. Sementara di Telangana dan Andhra Pradesh, korban meninggal mencapai 1.412 orang akibat kepanasan.
Masyarakat yang kondisinya paling rentan adalah para lansia dan anak-anak, yang kebanyakan tinggal di daerah kumuh atau gubuk-gubuk pertanian. Mereka tidak sanggup memiliki pendingin udara, sehingga hanya bisa berteduh di bawah pohon.
Alhasil, sebagian besar dari mereka mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak keluar ruangan.
"Karena begitu banyak orang meninggal, kami tidak membolehkan anak-anak keluar," kata guru Satyamurthy di Kammam. (Ism)
Advertisement

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Apa yang Terjadi Jika Semua Hutan di Bumi Hilang? Bukan Cuma Hewan, Kehidupan Manusia Ikut Terancam

Buah Kalengan Ternyata Bisa Menyehatkan, tetapi Perhatikan 2 Hal Ini Sebelum Membelinya
