Ceburkan Diri ke Waduk, 6 Bocah Tewas Tenggelam di India

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 30 Mei 2015 08:02
Ceburkan Diri ke Waduk, 6 Bocah Tewas Tenggelam di India
Keenam bocah ini berniat berendam. Tetapi, mereka tidak tahu waduk terlalu dalam.

Dream - Enam bocah di Alugunur, India, tewas tenggelam usai menceburkan diri ke Waduk Manair. Mereka bermaksud berencam untuk mendinginkan tubuh mereka akibat cuaca panas ekstrim dengan temperatur mencapai 48 derajat celsius yang telah menewaskan 1.400 orang.

Keenam bocah itu adalah Yachamaneni Pratheesh, 13 tahun, Pradyumna, 10 tahun, kembar Juvvadi dan Suhith Soumith, 8 tahun, Joginapalli Shiva Sai, 14 tahun dan Danaboina Sai Srijan Reddy, 14 tahun.

Awalnya mereka bermaksud mandi setelah bermain kriket. Tetapi, mereka tidak tahu ternyata waduk tersebut cukup dalam.

Inspektur Polisi G Narender mengatakan insiden tersebut terjadi pada Kamis, 8 Mei 2015. Menurut dia, hanya satu dari keenam bocah tersebut yang bisa berenang, yaitu Joginapallu Shiva Sai.

Kasus kematian enam bocah ini menambah jumlah korban meninggal akibat cuaca ekstrim yang tengah melanda India. Menurut pejabat Badan Metereologi India, temperatur tinggi masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Pemerintah India pun mengingatkan masyarakat agar mengenakan penutup kepala ketika berada di luar ruangan dan minum banyak air. Tetapi, kaum miskin India kebanyakan bekerja di luar ruangan.

" Kami harus bekerja meski harus menghadapi ancaman (cuaca panas), atau kami tidak bisa makan," kata petani di Distrik Nalgonda kawasan selatan Andhra Pradesh, Narasimha, dikutip Dream.co.id dari dailymail.co.uk, Jumat, 29 Mei 2015.

" Tapi kami berhenti bekerja saat sudah tidak tahan," lanjutnya.

Di kota Nizamabad, 149 Kilometer arah utara dari Ibu Kota Hyderabad, para pekerja bangunan masih tetap bekerja meski cuaca begitu ekstrim. Sementara di Telangana dan Andhra Pradesh, korban meninggal mencapai 1.412 orang akibat kepanasan.

Masyarakat yang kondisinya paling rentan adalah para lansia dan anak-anak, yang kebanyakan tinggal di daerah kumuh atau gubuk-gubuk pertanian. Mereka tidak sanggup memiliki pendingin udara, sehingga hanya bisa berteduh di bawah pohon.

Alhasil, sebagian besar dari mereka mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak keluar ruangan.

" Karena begitu banyak orang meninggal, kami tidak membolehkan anak-anak keluar," kata guru Satyamurthy di Kammam. (Ism) 

Beri Komentar