Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pengambilalihan kekuasaan Afghanistan oleh kelompok Taliban menyisakan banyak kisah duka. Bukan damai yang terjadi, malah muncul ketakutan demi ketakutan.
Seorang gadis 18 tahun mengaku terpaksa menyembunyikan, bahkan sampai membakar, album musik idolanya, BTS. Sebagai ARMY (fans BTS), dia mengaku takut berurusan dengan Taliban karena mengidolakan grup vokal pria asal Korea Selatan itu.
" Situasi kami memaksa kami untuk membakar atau menyembunyikan foto dan album BTS kami," ujar gadis tersebut saat diwawancara JTBC News.
Di masa lalu, Taliban tidak mengizinkan masyarakat mendengarkan musik mainstream. Warga Afghanistan kala itu hanya boleh mendengarkan musik yang diakui Taliban.
Gadis lain mengaku terkejut ketika Taliban menguasia kotanya. Dia mengaku takut mendengar kabar Taliban akan menculik para gadis seusianya.
" Saya takut mendengar Taliban menculik gadis-gadis. Sejak Taliban mengambil alih, saya tinggal di rumah," kata dia.
Dia juga bercerita harus selalu hati-hati, bahkan sekadar untuk melihat ke luar jendela. Dia kini tak lagi bisa mendengarkan musik yang sering diputar di jalanan.
" Saya tidak bisa lagi mendengar musik yang saya dengar di jalanan sebelum Taliban mengambil alih. Saya hanya mendengar musik aneh Taliban sepanjang hari," kata dia.
Dia pun meminta perhatian dunia atas apa yang terjadi di Afghanistan saat ini. " Semua orang melihat kami mati, saya berharap komunitas internasional tidak meninggalkan Afghanistan sendirian," kata dia, dikutip dari Koreaboo.
Dream - Penumpang pesawat militer AS penuh sesak para pengungsi Afghanistan menuju ke pangkalan udara di Jerman. Bersama keluarga masing-masing, mereka berbondong-bondong melarikan diri dari Taliban.
Dilansir Daily Star, seorang wanita Afghanistan dikabarkan melahirkan bayi di sebuah pesawat militer Amerika beberapa saat setelah mendarat di Jerman.
Pengungsi itu terasa akan melahirkan saat pesawat yang ditumpanginya dengan penuh sesak itu hampir mendekati pangkalan udara AS Ramstein di barat daya Jerman.
Kemudian sang pilot diberitahu kondisi wanita tersebut. Lantas ia menerbangkan pesawat di ketinggian yang lebih rendah untuk mendapatkan lebih banyak oksigen.
Awak pesawat pun juga menghubungi tenaga medis di negara tujuan untuk mempersiapkan diri menolong wanita tersebut saat tiba di pangkalan udara.

Segera setelah pesawat berhasil mendarat, petugas medis langsung menuju ke pesawat dan membantu wanita untuk melahirkan bayinya. Akhirnya wanita itu melahirkan bayi perempuan dengan selamat.
Komando Mobilitas Angkatan Udara memuji keputusan pilot untuk menurunkan pesawat agar mendapatkan oksigen yang lebih banyak sebagai penyelamatan nyawa bayi tersebut, karena sang ibu mengalami komplikasi. Komando Mobilitas menggambarkan proses penyelamatan wanita itu berlangsung aman dan lancar.
" Setelah mendarat, Penerbang dari MDG ke-86 naik dan mengantarkan anak itu di ruang kargo pesawat. Bayi perempuan dan ibunya dievakuasi ke fasilitas medis terdekat dan dalam kondisi baik," kata mereka dalam pernyataan tertulis.
Tampak dari gambar, setelah pendaratan pesawat, terlihat wanita yang mau melahirkan itu dievakuasi menggunakan tandu.
Diketahui, Pangkalan Udara Ramstein di Rhineland akan menampung 7.500 pengungsi Afghanistan dari sekitar 17.000 yang dievakuasi oleh AS sejak konflik yang dimulai awal bulan Agustus ini.
Sementara itu, Pemerintah Inggris mengumumkan akan menerima maksimal 20.000 pengungsi Afghanistan dalam beberapa tahun mendatang.
Sedangkan Maskapai penerbangan komersial Amerika sedang menunggu pengumuman dari Pentagon untuk membantu menampung para pengungsi Afghanistan ke pangkalan udara AS.
Pasalnya program Armada Udara Cadangan Sipil Dunkirk yang dimanfaatkan oleh Departemen Pertahanan terakhir kali menampung ribuan orang Amerika yang terdampar di luar negeri saat pandemi virus corona bermula pada Maret 2020.
Sehingga program ini bisa diterapkan kembali untuk menampung para pengungsi Afghanistan yang melarikan diri dari Kabul. Para pengungsi tersebut sangat ketakutan karena telah menyaksikan pertempuran sengit dan kekacauan di hari-hari sebelumnya.
Awal pekan ini, mantan kolonel Angkatan Darat Inggris Richard Kemp memperingatkan tentara Inggris dan pasukan Taliban bisa bermediasi dalam konfrontasi bersenjata dalam waktu dekat.
" Situasi di mana Anda akan melihat pejuang Taliban dan tentara Inggris dalam jarak dekat dalam situasi yang bergejolak seperti itu dapat mengakibatkan semacam insiden yang tidak direncanakan, itu tidak diharapkan tetapi terjadi begitu saja," ujar Richard Kemp.
" Jadi saya pikir terjadi sesuatu yang serius di antara kedua belah pihak. Kesabaran mereka hanya akan bertahan untuk jangka waktu tertentu," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya