Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Jaksa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin menanyakan kasus pembunuhan di Amerika Serikat yang diduga menyeret nama Michael David Robertson, ahli toksikologi yang diajukan oleh terdakwa Jessica Kumala Wongso.
Kasus ini ditanyakan oleh Jaksa Ardito Muwardi kepada ahli dari Monash University, Australia, ini. Ardito menunjukkan artikel dari laman Daily Mail kepada majelis hakim.
Menurut Ardito, David ini diduga pernah terlibat pembunuhan di Amerika Serikat pada 2000 silam. Kasus yang menjerat David itu melibatkan seorang wanita bernama Kristin Rossum. David diduga berkonspirasi dengan Kristin untuk membunuh suaminya, Gregory De Villers.
© Dream
David adalah kekasih 'gelap' Kristin. Wanita itu bekerja untuk Michael yang menjabat sebagai kepala toksikolog di Office of the Medical Examiner (OME) di San Diego County.
Pada 2 November 2000, De Villers bertengkar dengan Kristin. Dia menuntut wanita itu untuk berhenti dari pekerjaannya atau hubungan gelapnya dengan David disebarkan.
De Villers juga mengancam akan membocorkan perilaku Kristin yang kecanduan shabu sejak masih remaja.
Pada 6 November, Kristin menelepon kantor suaminya mengabarkan De Villers sakit. Kristin kemudian pergi berangkat kerja, dan pulang ke apartemennya untuk makan siang. Dia terlihat membawa beberapa barang belanjaan.
Dia bolak-balik ke apartemennya, bertemu David dan menghabiskan waktu bersamanya sepanjang sore, baru kemudian pulang. Pada jam 9:22 malam, Kristin menelepon 911 dan melaporkan badan De Villers dingin dan sudah tidak bernapas lagi.
© Dream
Petugas medis yang datang melihat Kristin sedang menelepon sementara De Villers tergeletak di tempat tidur dengan tumpukan bunga mawar memenuhi tempat tidurnya.
De Villers dinyatakan meninggal jam 10:19 malam. Seorang petugas menyatakan bahwa 'korban tidak bisa bergerak dan bernapas kurang lebih 6-12 jam sebelum kematiannya'.
Sebuah keputusan kemudian dibuat untuk dilakukan uji toksikologi. Uji tersebut dilakukan oleh pihak di luar OME San Diego untuk menghindari konflik kepentingan. Namun, sebelum spesimen dikirim, beberapa di antaranya dipegang David.
Uji toksikologi menunjukkan organ tubuh De Villers mengandung fentanyl dalam konsentrasi tinggi. Fentanyl adalah obat penghilang rasa sakit yang lebih kuat 150 kali dari morfin.
OME San Diego kemudian melakukan audit terhadap persediaan obat-obatan dan menemukan 15 patch fentanyl dermal dan 10 miligram fentanyl hilang. Dalam catatan OME, Kristin Rossum terlihat menggunakan fentanyl yang hilang.
Dalam pembelaannya, Kristin mengatakan suaminya bunuh diri. Meski keluarga De Villers curiga terhadap Kristin, namun polisi San Diego tidak menahannya.
© Dream
Namun pada Desember, OME San Diego memecat Kristin dan David, yang kemudian kembali ke Australia.
Pada 25 Juni 2001, kepolisian San Diego menangkap Kristin dengan tuduhan pembunuhan. Dalam persidangan Oktober 2002, jaksa penuntut umum menduga Michael ikut terlibat dengan membantu kekasihnya itu mencuri fentanyl dari laboratorium.
Bukti-bukti yang diajukan termasuk lusinan email bernada mesra antara Kristin dan Michael. Selain itu ada sejumlah data dan tulisan ilmiah di komputer yang memperlihatkan keahlian David sebagai ahli toksikologi tentang fentanyl.
Satu bulan setelah pembunuhan itu, David pulang kembali ke Australia. Meskipun dianggap berkonspirasi dalam pembunuhan yang dilakukan kekasihnya Kristin, David tidak pernah dituntut, dan membantah terlibat.
(Sumber: Daily Mail)
© Dream
Dalam persidangan Jessica, David mengaku tidak tahu menahu soal pemberitaan itu. Dia beralasan mengetahui kasus itu hanya dari pemberitaan media online.
" Saya tidak tahu apakah informasi itu benar, karena itu dari situs internet," jawab David.
Terkait pertanyaan tersebut, Hakim Binsar Gultom mengatakan persoalan itu akan menjadi bagian dari penilaian hakim.
" Baik, biarkan kami dan majelis hakim yang menilai," ucap Binsar.
Binsar kemudian bertanya benarkah identitas yang tertera dalam pemberitaan itu adalah nama lengkap David atau bukan. David membenarkan identitas itu adalah namanya, tetapi dia menyangkal isi pemberitaan itu.
" Itu memang nama saya. Tapi saya tidak yakin itu cerita saya," ujar dia.
© Dream
Dream – Pengacara Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, menyayangkan sikap Jaksa Penuntut Umum yang menyebut ahli toksikologi forensik, Michael David Robertson, terlibatkasus pembunuhan di Amerika Serikat. Sebab, kabar kasus itu didapat dari berita media saja.
“ Jaksa ini saya tidak tahu bagaimana memercayai dokumen yang belum terevaluasi,” kata Otto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu 21 September 2016.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya