Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - China disebut tengah mengembangkan dosis booster (penguat) bagi orang-orang yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 menggunakan Sinopharm dan Sinovac. Dua vaksin produksi China mendapat tudingan kurang efektif menghadapi varian delta yang sedang melanda seluruh dunia.
Perusahaan farmasi berbasis di Shanghai, Fosun Pharmaceutical telah bermitra dengan BioNTech untuk mengembangkan vaksin booster mRNA. Suntikan tersebut saat ini sedang dalam tahap administrasi menyusul tinjauan panel ahli yang dilakukan oleh regulator obat China.
Booster yang akan diberi nama merek Comirnaty akan masuk tahap produksi uji coba pada akhir Agustus. Nantinya vaksin ditawarkan secara gratis kepada orang-orang yang telah menerima suntikan Sinopharm dan Sinovac.
Direktur Pusat Penelitian Infeksi Virus, Shih Shin-ru, mengatakan pengembangan suntikan booster merupakan pukulan bagi Pemerintah China yang telah menggembar-gemborkan efektivitas vaksinnya.
" Saya pikir para ilmuwan di China juga menyadari fakta rendahnya antibodi dalam serum vaksin Sinovac atau Sinopharm. Mereka mungkin menyarankan Pemerintah China untuk memberikan suntikan lain sebagai pendorong," kata Shin-ru.
Pembicaraan tentang vaksin booster di China muncul setelah sebuah penelitian di Hong Kong yang diterbitkan di The Lancet pada 15 Juli menemukan vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech meningkatkan antibodi 10 kali lebih banyak daripada vaksin Sinovac.
Para peneliti mengatakan tingkat antibodi pada 63 peserta yang menerima suntikan Pfizer meningkat secara substansial setelah dosis pertama. Kemudian meningkat lagi setelah dosis kedua vaksinasi.
Sebagai perbandingan, tingkat antibodi untuk 30 petugas kesehatan yang menerima suntikan Sinovac memiliki konsentrasi antibodi yang rendah setelah dosis pertama. Kemudian meningkat menjadi konsentrasi sedang setelah dosis kedua.
Dalam studi lain yang diterbitkan pada medRxiv Senin, para peneliti mendapat temuan vaksin Covid-19 Sinopharm memiliki respons antibodi yang lebih lemah terhadap varian Delta.
Menurut para ilmuwan, tingkat antibodi pada orang yang diberikan suntikan Sinopharm menunjukkan pengurangan 1,38 kali lipat pada varian Delta dibandingkan dengan strain asli Covid-19. Studi ini juga menemukan vaksin Sinopharm menunjukkan penurunan kemampuan antibodi 10 kali lipat pada orang terinfeksi varian Beta, dikutip dari International Business Times.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya