Blusukan Saat PPKM, Ridwan Kamil Tangkap 'Tahanan' Kabur

Reporter : Cynthia Amanda Male
Minggu, 25 Juli 2021 19:42
Blusukan Saat PPKM, Ridwan Kamil Tangkap 'Tahanan' Kabur
"Institusi yang merasa kehilangan harap menghubungi via DM".

Dream – Selama pandemi Covid-19, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil sering melakukan blusukan ke berbagai daerah. Seperti yang diunggah di Instagram pribadinya pagi ini.

Ia mengunggah foto sedang mengendarai motor di dengan menggunakan rompi bertuliskan 'Gubernur Jawa Barat' di depan seorang pria yang mengenakan T-shirt bertuliskan 'Tahanan Pacar Dilarang Keras Selingkuh'.

" Gubernur Jabar berhasil menangkap seorang tahanan yang kabur. Institusi yang merasa kehilangan harap menghubungi via DM," tulisnya di kolom caption.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ridwan Kamil (@ridwankamil)

Warganet pun menanggapi kelakarnya dengan mengomentari kaus yang dikenakan pria bertopi hijau tersebut.

" Dikawal tahanan pacar Pak Gub...," kata @budxxx.

" Mau beli ah bajunya. Tapi ga ada pacarnya, tapi selingkuhannya mah ada," ujar @poexxx.

Lulusan University of California itu kemudian menceritakan bahwa selalu ada hal ringan dan lucu ketika mengunjungi orang yang isoman dan isolasi terpusat.

Tak lupa, ia pun menyemangati usaha-usaha yang terdampak PPKM, membagikan masker, dan menyisir bantuan sosial bagi yang tidak terdata formal.

Di akhir unggahan tersebut, alumni Institut Teknologi Bandung itu juga mengungkapkan bahwa keterisian rumah sakit untuk Covid-19 menurun ke angka 70,2 persen dari 91 persen pada bulan lalu. (mut)

1 dari 5 halaman

Ridwan Kamil Minta Maaf Soal Pungli di TPU Cikadut Bandung

Dream - Gubernur Jawa, Barat Ridwan Kamil, bersama Kapolda Jabar, Irjen Pol Ahmad Dofiri, tengah menindaklajuti dan memproses hukum oknum yang diduga melakukan pungutan liar  di pemakaman khusus jenaza Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Bandung 

" Oknum tersebut sudah langsung dipecat dan sekarang diperiksa oleh kepolisian. Oknum-oknum tersebut ternyata melakukan modus tidak hanya kepada nonmuslim, namun kepada keluarga jenazah Covid yang muslim juga," tulis Ridwan Kamil dalam akun Instagram pribadinya, Minggu 11 Juli 2021.

Kang Emil, panggilan akrabnya, menegaskan pemakaman jenazah pasien Covid-19 tidak dipungut biaya. Petugas pemakaman pun sudah mendapat pembayaran dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten/Kota sebagai instansi pengelola. Oknum pungli, katanya, sudah mengembalikan uang kepada keluarga yang jadi korban.

" Kami memohon maaf atas dinamika yang terjadi di lapangan, karena seharusnya hal ini tidak terjadi," ucapnya.

2 dari 5 halaman

Imbauan Bagi Pemda

Setelah mendapat laporan tersebut, Kang Emil langsung menjalin komunikasi dengan Pemda Kota Bandung untuk melakukan perbaikan pengawasan.

" Sudah berkoordinasi dengan Pemkot Bandung melalui Wakil Wali Kota agar memperbaiki dan meningkatkan pengawasan terkait pemakaman Covid di wilayahnya. Agar kejadian serupa tidak terulang," katanya.

Pemda Kabupaten/Kota di Jabar diminta untuk terus memastikan pelayanan kepada publik berjalan optimal dan tidak ada pungli pemakaman jenazah pasien Covid-19.

" Juga arahan yang sama juga disampaikan kepada kota kabupaten lainnya agar memastikan pelayanan kepada publik harus optimal dan tidak berbayar," ucapnya.

3 dari 5 halaman

Keluarga Korban Diperas

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana juga meminta maaf kepada korban pungutan liar (pungli). Menurut keterangannya, pelakunya sudah dipecat dan segera diproses di kepolisian.

" Ad oknum inisial R melakukan sesuatu yang tidak baik. Oleh karena itu pemkot memberhentikan yang bersangkutan dan menindaklanjuti dengan diproses di kepolisian," kata Yana, dikutip dari Merdeka.com, 7 Juli 2021.

Tak hanya itu, Yana juga telah menjelaskan bahwa petugas yang mengurus jenazah pasien Covid-19 telah mendapat upah sesuai UMK dan tak pernah terlambat.

" Ini kan PHL (petugas harian lepas) kami rekrut pada saat Februari 2021. Kita bayarkan upahnya sesuai UMK, tidak terlambat, maka tidak ada alasan mereka melakukan yang tidak baik ini. Pemkot tidak menolerir peristiwa seperti ini," Yana melanjutkan.

4 dari 5 halaman

Kronologi Kejadian

Kasus pungutan liar ini bermula saat seorang perempuan bernama Yunita Megawati Tambunan mengungkapkan kisahnya melalui pesan berantai di media sosial, mengaku dirinya dimintai Rp4 juta saat hendak memakamkan jenazah ayahnya oleh petugas TPU Cikadut, Bandung, bernama Redi.

Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, perempuan berusia 47 tahun itu mengisahkan peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 6 Juli 2021 malam sekira pukul 20.00 WIB. Ayahnya yang bernama Binsar Tambunan meninggal dunia di RS Santosa, Bandung setelah berjuang melawan virus Covid-19.

" Papa meninggal karena Covid-19 di Rumah Sakit Santosa Bandung sekitar pukul 10.30 WIB dan harus dimakamkan di TPU Khusus Covid-19, TPU Cikadut hari itu juga," ucap dia.

Singkat cerita, saat jenazah sudah berada di kawasan TPU Cikadut, Yunita yang saat itu sedang mengantre, dipanggil salah seorang petugas. Dia diminta uang Rp4 juta untuk biaya administrasi dan jasa angkut hingga penguburan.

" Dia bilang saya nonmuslim, saya disuruh masuk ke dalam kantor terpisah dalam antrean. Nonmuslim itu tidak dibayar (biaya pemakaman oleh negara), hanya muslim yang dibayar," jelas dia.

Yunita kemudian meminta keringan terkait biaya pemakaman jenazah sang ayah. Akhirnya disepakati semua biaya sebesar Rp 2,8 juta. Rinciannya, jasa menggali kubur Rp 1,5 juta, jasa pikul jenazah Rp 1 juta, dan salib Rp 300 ribu.

Perempuan ini pun meminta kuitansi sebagai bukti dan tertib administrasi. Permintaan itu sempat ditolak Redi karena alasan kuitansi hanya tersedia pada pagi hari. Setelah sempat berdebat, bukti pembayaran tercatat dalam kertas biasa, lengkap dengan biaya rincian, hingga tanda tangan Redi yang ditulis sebagai koordinator.

Dalam pernyataannya, Yunita mengaku bahwa banyak oknum yang melakukan pungli untuk biaya pemakaman jenazah Covid-19.

" Kayaknya semua kena (pungli) ya. Tapi waktu itu yang meminta bukti kuitansi cuman saya. Redi mengaku koordinator. Bukan dia doang pelaku yah, kayaknya semua harus dicek, disadarkan, kalau memang harus bayar ga masalah, jangan dibeda-bedain, harus jelas," tegas dia.

5 dari 5 halaman

Sempat Takut

Keberanian Yunita untuk buka suara mengenai dugaan pungli sempat ditentang suami dan keluarga. Ada kekhawatiran hal ini bisa membuat ketenangan dan keamanan sebagai warga negara terusik.

" Saya takutnya nyawa saya melayang, ada teror, diculik dibunuh sama pihak-pihak pelaku. Itu yang kami takutkan. Suami saya, adik saya, keluarga saya ngomel-ngomel, minta ini ditutup. Tapi saya ingin ini dituntaskan. Biar nggak ada korban lagi," terang dia.

" Belum ada teror sekarang. Mudah-mudahan nggak ada. Intinya harus diperjelas biaya itu seperti apa," pungkasnya.

Sumber: merdeka.com

 

Beri Komentar