Ini Alasan Perlunya Konsensus Global untuk Kendalikan Pandemi

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 25 Juli 2021 10:46
Ini Alasan Perlunya Konsensus Global untuk Kendalikan Pandemi
Tak bisa dilakukan per wilayah atau per negara.

Dream - Sejak 2020 hingga saat ini pandemi Covid-19 boleh dikatakan belum terkendali. Beberapa negara memang sudah memperbolehkan warganya untuk melepas masker tapi protokol kesehatan tetap harus dilakukan.

Sayangnya, muncul varian baru Covid-19 yang baru dan mudah menular yaitu delta. Vaksin pun belum mencapai herd immunity dan tak terdistribusi merata di banyak wilayah. Pengendalian pandemi memang tak bisa dilakukan negara secara sendiri. Perlu kerja sama global, hal ini diungkapkan oleh Ketua Gerakan Pakai Masker, Sigit Pramono.

" Memperhatikan perkembangan penanganan pandemi di seluruh dunia dewasa ini, tampaknya sudah perlu adanya kesepakatan dan kekompakan seluruh pemimpin dunia untuk mengatasi pandemi secara global. Lock Down dengan beragam istilah penghalusannya, terbukti paling efektif memutuskan rantai penularan tetapi memang harus diterapkan secara disiplin dan ketat," ungkap Sigit dalam keterangan resminya.

 

 

1 dari 4 halaman

Menurutnya selalu ada saja pengaruh pada membuat kebijakan jika ingin menerapkan 'lock down'. Salah satunya karena alasan ekonomi, terutama bagi masyarakat golongan bawah dan yang bekerja di sektor informal. Tak menerapkan lock down secara total menurutnya akan menimbulkan kembali penularan yang kunjung berhenti.

" Bagaimanapun juga penerapan 'lock down' yang masih menimbulkan celah bocor akan menjadi titik penularan baru, dan virus akhirnya akan menyebar lagi.
Ini berlaku secara global. Akibat pengendalian pandemi tidak terkoordinasi dengan baik, virus hanya berhenti menyebar di satu negara, sedangkan di negara lain malah marak," ungkapnya.

 

2 dari 4 halaman

Hal ini terbukti dengan kondisi di India, Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya kasus positif meledak. Sementara negara-negara di Eropa kasusnya mereda.

" Sekarang Asia mulai mereda, tetapi Eropa dan Amerika konon mulai naik lagi.Begitu terus menerus bergantian. Jika diterapkan setengah hati dan tidak konsisten pada akhirnya hasilnya tidak optimal dan bersifat sementara. Terkendali tetapi hanya sementara. Sekali lagi perlu konsensus dan kesepakatan semua pemimpin baik pusat maupun daerah terutama gubernur, bupati dan walikota. Bahkan perlu konsensus global untuk melakukan pengendalian pandemi ini," kata sosok yang pernah duduk sebagai Chairman Indonesian Institute for Public Governance (IIPG) ini.

3 dari 4 halaman

Penularan Covid-19 Masih Tinggi, WHO Desak Indonesia Perketat Pembatasan Sosial

Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak Indonesia untuk menerapkan pembatasan lebih ketat dan lebih luas setelah PPKM Darurat berakhir, guna menekan angka infeksi dan kematian akibat Covid-19.

Indonesia telah menjadi salah satu episentrum pandemi global, dengan kasus Covid-19 yang melonjak lima kali lipat dalam waktu lima minggu terakhir. Minggu ini, kematian harian mencapai rekor tertinggi, di antara jumlah korban tertinggi di dunia, yakni lebih dari 1.300.

Dalam laporan terbaru tersebut, WHO menyatakan penerapan pembatasan sosial dan penerapan protokol kesehatan secara ketat penting dilakukan. Tak hanya itu, disarankan juga Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan tambahan guna mengatasi peningkatan tajam di 13 dari 34 provinsi di Indonesia.

" Indonesia saat ini menghadapi tingkat penularan yang sangat tinggi dan ini menunjukkan betapa penting penerapan kesehatan masyarakat dan langkah-langkah pembatasan sosial yang ketat, terutama pembatasan pergerakan di seluruh negeri," bunyi laporan terbaru WHO seperti, Kamis 22 Juli 2021.

Pada Selasa lalu, Presiden Joko Widodo mengatakan adanya tren penurunan infeksi dalam beberapa hari terakhir. Para ahli epidemiologi mengatakan, penurunan efek dari kebijakan PPKM.

“ Jika tren kasus terus menurun, maka pada 26 Juli 2021, pemerintah akan mencabut pembatasan secara bertahap,” kata Jokowi.

4 dari 4 halaman

Kasus Positif Tinggi

Ilustrasi© Shutterstock

Sementara itu, tingkat kasus positif COvid-19 Indonesia rata-rata 30 persen selama seminggu terakhir. WHO menyatakan bahwa tingkat positif Covid-19 di atas 20 persen berarti penularan virus corona " sangat tinggi" di wilayah itu.

Lebih jauh, data WHO juga menunjukkan semua provinsi di Indonesia kecuali Aceh, memiliki tingkat positif diatas 20%. Sedangkan Aceh, memiliki tingkat positif 19%.

Beri Komentar