6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Dream - Lubang biru di tengah lautan ini telah membuat banyak orang merasa kagum. Indah memang. Di tengah perairan biru terlihat lingkaran dengan air yang lebih pekat.
Inilah Great Blue Hole. Lubang runtuhan bawah air di lepas pantai Belize. Letaknya di dekat pusat Karang Lighthouse, atol kecil yang berjarak 70 kilometer dari daratan dan Belize City.
Great Blue Hole memiliki diameter lebih dari 300 meter dan kedalaman hingga 125 meter. Sinkhole ini menjadi lubang terdalam ke dua di dunia, setelah Dragon Hole di Laut China Selatan.
Lubang ini terjadi sejak zaman es, terbentuk saat permukaan air laut masih rendah. Tapi, jutaan tahun kemudian, saat air laut meningkat akibat es yang mencair, lubang itu terendam dan membentuk gua kapur yang sangat dalam di dasar laut.
Dari atas, memang indah. Tapi tahukah Anda bahwa dasar Great Blue Hole ini sangat memprihatinkan. Dasar lubang itu benar-benar jauh dari bayangan Anda.
Bos The Virgin Group --perusahaan berbasis di Inggris, Richard Branson, turut dalam misi penyelaman ke lubang biru itu. Dan, di dasar sana dia menemukan tumpukan plastik.
" Sayangnya, kami melihat botol plastik di dasar lubang itu, yang mengancam lautan," kata Branson, sebagaimana dikutip dari laman Metro.co.uk, Sabtu 19 Januari 2019.
Lubang ini bagaikan tong sampah raksasa dengan tumpukan botol plastik. Sampah plastik memang menjadi isu serius yang mengancam lingkungan, termasuk juga lautan. Diperkirakan 12 juta ton sampah masuk ke lautan kita setiap tahun.
Di samping botol plastik, ada juga sisa-sisa kepiting dan makhluk lain yang telah tenggelam ke dasar lubang. Binatang-binatang itu mati kehabisan oksigen.
Saat menyelam, jutawan itu ditemani oleh akivis konservasi lautan, Fabien Cousteau. Mereka bersama-sama menyelam ke dasar Great Blue Hole pada kedalaman 125 meter.
Menariknya, saat menyelam pada kedalaman 300 kaki, atau sekitar 90 meter, mereka menemukan dinding stalaktit, yang awalnya terbentuk di tanah kering.
" Ini adalah bukti bagaimana lautan dapat naik dengan cepat dan serempak. Permukaan laut dulunya ratusan kaki lebih rendah," tulis Branson.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
