Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Salah Satu Gadis Remaja Suriah Yang Terpaksa Mengemis Demi Bertahan Hidup Di Lebanon (saudigazette.com.sa)
Dream - Banyaknya pengemis di jalanan menjadi pemandangan baru di Libanon, terutama di Beirut. Kebanyakan pengemis tersebut masih berusia remaja.
Jumlah mereka tidak hanya satu-dua saja, melainkan puluhan. Mereka adalah remaja yang menjadi korban perang Suriah.
Mohammad Hussein, 13 tahun, merupakan salah satu dari ribuan warga Suriah melarikan diri dari perang saudara yang telah merusak negara mereka. Perang tersebut kini telah memasuki tahun keenam.
Libanon menjadi pilihan para pengungsi karena letaknya yang dekat sekaligus kondisinya yang aman. Banyak remaja putus sekolah dan akhirnya terpaksa mengemis untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.
Keadaan mereka menjadi pertanda nyata adanya krisis pengungsi, yang membawa gelombang migrasi besar-besaran dari Timur Tengah menuju Eropa.
Di jalanan pusat perbelanjaan, bundaran, dan di lampu lalu lintas di Beirut dan kota-kota lainnya di Libanon, anak-anak mengemis banyak terlihat, melekatkan wajah kecil mereka ke jendela mobil, menengadahkan tangan mereka demi mendapatkan recehan uang.
Tidak sedikit di antara mereka menjual permen karet atau bunga. Mereka melakukan itu di usia mereka yang seharusnya merasakan indahnya dunia sekolah.
" Saya berharap bisa kembali ke sekolah, saya suka sekolah ketika saya berada di Suriah," ujar Hussein.
" Tapi sekarang saya tidak bisa, saya terlalu tua dan saya harus membantu ibu dan adik-adik saya," ucap dia.
Ya, bersekolah adalah impian sederhana Hussein dan sebagian besar anak-anak pengungsi Suriah. Mimpi itu sulit terwujud karena keadaan memaksa mereka untuk mencari pendapatan.
Sebagai pengemis, Hussein kerap mendapat ancaman yang berbahaya bagi hidupnya. Dia pernah ditangkap dan ditahan polisi selama 10 hari dan sering dihina oleh orang lain yang dia mintai uang.
" Beberapa orang mengutuk saya dan orang-orang seperti saya dan negara saya," ucap dia.
Libanon menjadi rumah bagi lebih dari 1 juta pengungsi Suriah yang terdaftar. Jumlah tersebut setara dengan seperempat jumlah penduduk negara di kawasan Mediterania tersebut dengan total mencapai 4,5 juta jiwa, angka populasi pengungsi terbesar di seluruh dunia.
Otoritas Libanon memperkirakan terdapat lebih dari setengah juta pengungsi Suriah yang belum tercatat, yang tinggal di negara tersebut. Kehadiran mereka dinilai menjadi beban berat yang tidak bisa ditahan Libanon dalam waktu lama.
Kajian yang diluncurkan International Labor Organization (ILO), UNICEF, dan lembaga donor Save the Children menyebut lebih dari 1.500 anak-anak hidup atau bekerja di jalanan Libanon. Sedikitnya tiga perempat dari mereka adalah anak-anak Suriah yang kebanyakan mengemis atau menjual pernak-pernik di tepi jalan.
Keluarga Hussein sendiri meninggalkan rumah mereka di gunung Provinsi Latakia, Suriah tiga tahun lalu. Hussein merasa senang di Libanon, tetapi masih berharap bisa kembali ke tempat tinggalnya agar bisa bermain dengan anak-anak tetangganya.
Di Beirut, remaja ini mengatakan dia bisa mendapat uang antara 15 hingga 20 dolar sehari, setara Rp197.000 hingga Rp263.000, bergantung keberuntungan di hari itu.
" Tidak ada yang memberi saya pekerjaan karena saya terlalu muda. Dengan cara ini saya bisa mendapatkan uang," kata Hussein.
(Ism, Sumber: saudigazette.com.sa)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya