Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Levan Wee, Raih Sukses Berkat Hinaan Sang Guru (Worldofbuzz)
Dream - Marah dan dendam mungkin jadi reaksi yang wajar bagi seseorang yang jadi korban penghinaan. Meskipun tentu sebisa mungkin reaksi ini harus dihindari.
Tetapi, apa yang dilakukan Levan Wee ini justru sebaliknya. Pria asal Singapura ini tidak mendendam dan justru mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menghinanya.
Dikutip dari World of Buzz, Levan saat ini menyandang gelar PhD setelah lulus sebagai mahasiswa gelar doktoral filsafat terbaik. Selain itu, dia juga memimpin dua grup band rock tersohor Singapura, Ronin dan Astroninja, sekaligus menjalani profesi sebagai social media strategist.
Semua bermula pada 21 tahun lalu. Dia menjadi korban hinaan gurunya hanya karena Levan seorang albino.
Tetapi, apa yang dia alami tidak menjadikannya pendendam. Levan justru menyampaikan terima kasih lewat surat kepada gurunya.
Sebab, hinaan itu menjadi motivasi bagi Levan untuk melampaui penilaian orang. Meski cara yang dipakai si guru tidaklah tepat.
Levan mengunggah sejumlah foto berisi surat yang dia kirimkan ke guru penghinanya. Dia juga mendapat perlakuan diskriminatif dari sang guru hanya karena terlahir berbeda.
" Sepucuk surat yang saya kirimkan ke guru tua saya, yang telah memandang rendah saya, pada 21 tahun lalu," tulis Levan.
" Andalah yang menentukan siapa diri Anda, jangan sampai orang lain," tulis dia melanjutkan.
Levan mengatakan sebenarnya dia tidak ingin pamer. Tetapi, khusus untuk gurunya, dia tidak bisa tidak pamer.
" Saya benar-benar ingin menulis surat ini sejak beberapa dekade lalu. Saya pakai gelar 'Dr' saya hanya untuk menimbulkan efek dramatis, tolong jangan panggil saya seperti itu (Doktor)," tulis Levan.
Dalam surat tersebut, Levan ingin menunjukkan pandangan gurunya dalam menilai orang selama ini salah. Dia Juga ingin menunjukkan pada sang guru bahwa kini dia jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Levan mengawali suratnya dengan mengingatkan sang guru tentang kejadian 21 tahun lalu. Kejadian itu telah mengubah hidup Levan.
Intinya, sang guru ternyata memilih Levan sebagai sasaran kemarahan ketika seisi kelas tidak bisa diatur. Lewat amarahnya, guru itu ternyata hendak mendorong Levan untuk berusaha lebih keras agar meraih apa yang tidak bisa didapat oleh teman-temannya.
Levan juga mencatat semua capaian yang sudah diraihnya sejauh ini, yang tidak bisa dicapai oleh gurunya. Levan telah membuktikan kepada orang yang merendahkannya, bahwa pandangan mereka selama ini salah.
Sumber: worldofbuzz.com
Dream - Akhir Mei lalu jadi momen penuh bangga bagi Sophy Ron. Gadis asal Kamboja ini merayakan kebahagiaan diterima menjadi mahasiswi di University of Melbourne, Australia.
Tidak ada yang menyangka gadis lulusan Trinity College ini dulunya adalah bocah pemulung. Sophy bahkan hampir kehilangan mimpi bisa menempuh pendidikan.
Dikutip dari World of Buzz, Senin 17 Juni 2019, Sophy melewatkan masa kecilnya di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Kota Phnom Penh. Dia bekerja sebagai pemulung sejak kecil hingga berusia 11 tahun.

Waktunya habis untuk memungut sampah. Dia hampir tidak punya kesempatan merasakan bangku sekolah.
Berkat Cambodian Children's Fund (CCF), Sophy akhirnya bisa tersenyum bangga. Dia akhirnya bisa mewujudkan mimpi untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya lewat beasiswa dari lembaga donor tersebut.
Dulu, Sophy menghabiskan tujuh hari sepekan untuk duduk dan memilah-pilah sampah. Dia pun terpaksa menghirup asap beracun demi membantu kedua orangtuanya mengumpulkan uang untuk kebutuhan hidup.
Gadis ini dan keluarganya harus bertahan dengan hidup yang keras. Tidak jarang mereka makan makanan sisa yang didapat dari tumpukan sampah.

Kini, Sophy berdiri dengan bangga di panggung di hadapan teman-temannya. Dia pun memberikan pidato dalam bahasa Inggris yang lancar, berbeda jauh dengan masa lalunya yang menyakitkan.
Meski begitu, Sophy tidak melupakan masa kecilnya. Dia telah kembali ke lingkungannya untuk sementara waktu, merayakan keberhasilan bersama orang-orang sekitarnya, untuk kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Sumber: worldofbuzz.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya