5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Dubes AS Untuk PBB Nikki Haley Dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Rabble)
Dream - Amerika Serikat (AS) menegaskan kembali pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel di depan 14 anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Bahkan, untuk pertama kalinya di dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump, AS menggunakan hak veto.
Hak veto yang diajukan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley sebagai bentuk `penolakan` atas draf resolusi Dewan Keamanan PBB, yang menolak kebijakan Trump soal Yerusalem.
Mengutip Haaretz, Haley mengatakan pemungutan suara untuk menolak kebijakan Trump merupakan `penghinaan` dan tidak akan dilupakan AS.
" Kami melakukan veto tanpa suka cita, pun tanpa keengganan. AS tidak mau diberitahu oleh negara mana pun mengenai kedutaan kami," kata Haley.
" Hak veto ini dilakukan untuk membela peran Amerika dalam proses perdamaian Timur Tengah, bukan sumber rasa malu bagi kita; seharusnya menjadi malu dan pengingat bagi Dewan Keamanan."
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berterima kasih kepada Amerika Serikat.
" Terima kasih, Duta Besar Haley, dalam Hanukkah, Anda berbicara seperti Maccabi."
" Anda menyalakan lilin kebenaran, Anda menghilangkan kegelapan, seseorang mengalahkan banyak orang, Kebenaran mengalahkan kebohongan, Terima kasih, Presiden Trump."
Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengatakan, dengan hak veto ini AS telah melewatkan kesempatan untuk memperbaiki keputusan ilegal yang dibuatnya.
" AS tetap berada di sisi yang salah dalam sejarah. Palestina menegaskan kembali, keputusan (Trump) tidak memiliki pengaruh hukum terhadap status Yerusalem," kata Riyad.
Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyerang resolusi dengan menyebut, fakta sejarah Yerusalem sebagai milik Israel tidak akan berubah.
Sebelum menggelar sidang, utusan PBB untuk Timur Tengah Nickolay Mladenov berbicara tentang perkembangan di Israel, Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza, sejak resolusi 2334 sejak setahun yang lalu.
Mladenov mencatat pertumbuhan permukiman Israel, jumlah serangan teroris, dan statistik tentang kekerasan.
" Pihak berwenang (Israel) menghancurkan 61 bangunan yang berarti 110 orang, termasuk 61 anak-anak yang mengungsi dan penghidupan lebih dari 1.000 orang terpengaruh, lebih dari 10 komunitas Badui berada meningkatkan risiko pembongkaran dan pemindahan." (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?