Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak mengecam eksekusi mati terhadap 47 terduga teroris, termasuk ulama Syiah Syeikh Nimr Al Nimr oleh pengadilan Kerajaan Arab Saudi. Dia mengatakan eksekusi merupakan urusan hukum internal Saudi.
" Eksekusi di Arab Saudi merupakan materi hukum internal. Apakah Anda setuju atau tidak, itu merupakan persoalan terpisah," ujar Erdogan dalam sebuah wawancara di televisi.
Ini merupakan reaksi pertama Erdogan dengan kontroversi yang meningkatkan tensi ketegangan antara Saudi dengan Iran.
Bulan sebelumnya, Erdogan sempat berkunjung ke Riyadh dan berbincang dengan Raja Salman dan sejumlah elit politik Saudi. Pertemuan ini merupakan titik baru menghangatnya hubungan antara Ankara dengan kerajaan.
Turki dan Saudi memiliki pandangan yang sama dalam melihat konflik di Suriah. Baik Erdogan maupun Salman, keduanya yakin, tersingkirnya Bassar Al Assad dapat mengakhiri perang saudara yang berlangsung hampir lima tahun.
Sementara, ketegangan meningkat antara Turki dengan Iran, yang menjadi sekutu Rusia mendukung Assad.
Krisis bermula pada pekan ini saat Saudi mengeksekusi Al Nimr bersama 46 terduga teroris lainnya. Hal itu memicu sejumlah reaksi dari Teheran, salah satunya aksi protes dengan unjuk rasa.
Pengunjuk rasa Iran masuk ke dalam area kantor kedutaan Saudi dan melakukan perusakan serta pembakaran gedung. Saudi, Bahrain, dan Sudan memberi tanggapan dengan memutus hubungan diplomatik dengan Iran.
Selanjutnya, Erdogan menolak eksekusi tersebut bertujuan memprovokasi ketegangan dengan Muslim Syiah. Dia juga mengatakan serangan terhadap kantor kedutaan Saudi tidak dapat dibenarkan.
" Hanya tiga (dari mereka yang dieksekusi) merupakan penganut Syiah," kata Erdogan.
Perdana Menteri Turki Ahmed Davutoglu mendesak Iran dan Saudi untuk menenangkan ketegangan. Dia mengingatkan permusuhan antara dua kekuatan Muslim hanya akan memperumit masalah dan konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat meledak.
(Ism, Sumber: alarabiya.net)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya