Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Sebanyak 300 ribu etnis Rohingya mengungsi dan berlindung dari kekerasan yang dilakukan oleh Pemerintah dan militer Myanmar. Mereka dibantai, rumah-rumah dan masjid dibakar.
Fakta itu menjadi bahan pemberitaan sebagian besar media di dunia, termasuk di Indonesia. Jengah dengan pemberitaan itu, Pemerintah Myanmar kemudian mengajak 18 wartawan lokal dan asing untuk meninjau langsung desa-desa etnis Rohingya yang terbakar.
Kunjungan itu digelar untuk memberikan gambaran pembanding bagi pemberitaan. Salah satu jurnalis yang turut serta dalam kunjungan lapangan itu, Jonathan Head dari BBC, malah menemukan fakta yang bertolak belakang.
Head menuliskan temuan yang dia dapat saat berada di Maungdaw. Di sana, dia bersama 17 jurnalis lain diajak ke sekolah kecil yang disesaki oleh sejumlah keluarga Hindu.
Menurut Head, sejumlah umat Hindu itu berkisah mengenai pengalaman mereka diserang oleh kelompok Muslim. Tetapi, keterangan tersebut berbeda jauh dengan pengakuan warga Hindu yang berhasil melarikan diri ke Bangladesh.
" Anehnya, orang-orang Hindu yang kabur ke Bangladesh, semua mengatakan mereka diserang oleh umat Budha Rakhine, karena mereka dianggap mirip dengan Rohingya," tulis Head.
Sebagian umat Hindu di Myanmar dikenali sebagai etnis Bengali. Secara sepintas, fisik mereka tidak terlalu banyak berbeda dengan etnis Rohingya yang beragama Islam.
© Dream
Head melanjutkan di sekolah itu mereka ditemani sejumlah polisi bersenjata dan pejabat. Dia pun sempat bertanya mengenai pengalaman buruk yang dialami warga Hindu tersebut, tetapi menangkap kesan ada yang ditutup-tutupi.
" Salah satu orang mulai berbicara kepada saya bagaimana tentara menembaki desa mereka, dan dia segera diluruskan oleh tetangganya," kata Head.
Setelah itu, Head menulis rombongan jurnalis kemudian diajak mengunjungi sebuah wihara Budha. Di sana, dia mendapat keterangan dari salah satu pejaga wihara yang menggambarkan bagaimana para Muslim membakar rumah mereka sendiri.
Untuk menguatkan pendapat, Head mengatakan sumber tersebut menunjukkan foto pembakaran rumah. Tetapi, dia menangkap adanya keanehan dalam foto itu.
" Pria dengan peci haji tertangkap kamera mencoba membakar atap daun palem. Seorang wanita mengenakan taplak meja berenda di kepalanya secara melodramatis mengayunkan pedang dan parang," tulis Head.
" Kemudian, saya mendapati satu dari wanita-wanita itu ternyata adalah warga Hindu yang berlindung di sekolah kecil tadi, dan saya juga melihat pria dalam foto itu ada di antara orang-orang Hindu yang mengungsi," tulis dia melanjutkan.
© Dream
Selanjutnya, Head mengatakan dia sudah meminta penjelasan mengenai dugaan rekayasa fakta seputar konflik Rohingya kepada pejabat lokal di perbatasan, Kolonel Phone Tint. Sang kolonel membantah hal itu dan menyebut Pemerintah Myanmar sudah melangkah di jalan yang benar.
" Apa buktinya? Lihat pada wanita itu (sembari menunjuk pengungsi Rohingya), siapa yang membuat klaim tersebut? adakah orang yang mau memperkosa mereka?" kata Tint seperti ditulis Head.
Head juga sempat mewawancarai sejumlah Muslim yang terlihat masih bertahan di Maungdaw, salah satu distrik di Negara Bagian Rakhine. Mereka sangat takut memberikan keterangan di hadapan kamera.
Salah satu pemuda Muslim mengatakan sebenarnya mereka ingin menyelamatkan diri ke Bangladesh, tetapi pemimpin kelompoknya telah menjalin kesepakatan dengan otoritas setempat agar diizinkan tinggal. Di sebuah pasar Bengali yang tenang, pemuda itu mengaku kepada Head, dia sangat takut dengan pemerintah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya