Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengimbau masyarakat agar mewaspadai pasang surut air laut ketika terjadi gerhana bulan total malam nanti, Rabu 31 Januari 2018.
" Meskipun fenomena ini merupakan fenomena langka, namun masyarakat harap mewaspadai tinggi pasang maksimum hingga mencapai 1,5 meter karena adanya gravitasi bulan dengan matahari," ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dikutip dari setkab.go.id.
Tak hanya itu, kata mantan Rektor Universitas Gadjah Mada ini, Supermoon malam nanti juga mengakibatkan surutnya permukaan air laut mencapai minus 100-110 cm. Surutnya air laut ini terjadi pada 30 Januari-1 Februari di beberapa daerah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Menurut Dwikorita, pasang surut ini dapat mengganggu transportasi di sekitar pelabuhan dan kawasan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta bongkar muat kapal di pelabuhan.
Dwikorita mengatakan Super Blue Blood Moon ini merupakan fenomena langka. Nantinya, posisi matahari-bumi-bulan berada di garis sejajar.
" Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan terulang lebih dari 100 tahun untuk di Amerika, sementara wilayah Indonesia 36 tahun (30-31 Desember 1982) sehingga masyarakat diharapkan melihat atau mengamati fenomena ini dan bukan dijadikan sesuatu yang menakutkan," kata dia.
Dwikorita menambahkan, fenomena ini dapat dilihat di sejumlah daerah seperti perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga sebelah barat Sumatera. Kawasan barat Sumatera merupakan zona bulan terbit saat fase penumbra terjadi.
Selain itu, lokasi yang ideal untuk mengamati gerhana ini adalah Observatorium Boscha (Lembang), Pulau Seribu, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Planetarium, Museum Fatahilah, Kampung Betawi, Satu Babakan, serta Bukit Tinggi.
Pengamatan juga dilakukan di 21 titik pantau hilal. Di Makassar dan Bukit Tinggi, masyarakat menggelar nonton bareng. Sedangkan di Jakarta, masyarakat bisa menyaksikan gerhana di Planetarium Cikini, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya