Hadiah Rumah untuk Mbah Parno, Asisten Arsitek Masjid Istiqlal

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Jumat, 4 Januari 2019 16:00
Hadiah Rumah untuk Mbah Parno, Asisten Arsitek Masjid Istiqlal
Hingga usia senja Mbah Parno tak punya rumah tinggal.

Dream - Masyarakat yang sering sholat di Masjid Istiqlal pasti tak asing dengan sosok lelaki bernama Mbah Parno. Pria sepuh bernama asli Suparno ini kerap meminta para jemaah merapikan dan merapatkan barisan jelang sholat dimulai.

Mbah Parno sejatinya bukan hanya orang yang selalu mengingatkan jemaah untuk tertib dalam saf. Dia dikenal sebagai asisten Fredrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal.

Meski berdedikasi dalam proyek pembangunan masjid terbesar se-Asia Tenggara itu, kondisi ekonomi Mbah Parno tidak cukup beruntung. Hingga usia senjanya, Mbah Parno belum memiliki rumah.

Di acara perayaan Hari Amal Bakti ke-73 Kementerian Agama (Kemenag) Mbah Parno mendapat kado spesial. Dia dihadiahi rumah yang berlokasi di Panorama Kemang, Desa Tegal, Parung, Bogor, Jawa Barat.

Selain Mbah Parno, Kemenag juga memberikan hadiah motor kepada Syahrudin atau Udin. Pria paruh baya yang telah mengabdi di Kementerian Agama selama 34 tahun.

Udin dihadiahi satu unit motor© Kemenag

Udin dihadiahi satu unit motor (Kemenag)

Ketika diberi hadiah ini, Udin menceritakan motor pertama pemberian Kemenag. " Saya dulu dikasih motor GL100 (dari Kemenag), kondisinya rusak, saya betulkan. Dan alhamdulilah ini motor baru pertama saya," ujar Udin di Gedung Kemenag, Jakarta, Jumat 4 Januari 2019.

Perayaan Hari Amal Bakti Kemenag diisi dengan kegiatan bincang-bincang santai bersama Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Lukman mengatakan, kegiatan ini untuk mengakrabkan antara karyawan dengan para pejabat di Kemenag. Sebab, kata Lukman, orang-orang seperti Udin seringkali diabaikan para atasan.

" Orang-orang seperti Pak Udin sangat berjasa bagi kita, yang setiap hari menyiapkan minum, makan dan membersihkan ruangan kita," kata Lukman.

1 dari 2 halaman

Cerita Masjid Istiqlal Sempat Akan Dibangun di Jalan Thamrin

Dream - Masjid Istiqlal kini telah berusia 39 tahun. Masjid termegah bisa terlihat jelas saat melintasi kawasan stasiun Gambir atau pasar baru Jakarta Pusat. Selama usia itu pula tersimpan beragam sejarah dalam masjid ini. 

Namun mungkin banyak yang belum tahu, jika Masjid Istiqlal semula direncanakan bukan dibangun di lokasi dekat Lapangan Banteng Jakarta. Pemerintah kala itu berencana membangun Masjid Istiqlal di kawasan MH Thamrin.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika menghadiri seremonial puncak Peringatan Milad Masjid Istiqlal ke-39.

JK mengatakan rencana lokasi di Jalan Thamrin itu disampaikan Wakil Presiden pertama Mohammad Hatta. Pertimbangannya, Jalan Thamrin dekat dengan Tanah Abang yang ditempati mayoritas Muslim.

" Bung Hatta usul didirikan di Jalan Thamrin yang sekarang Hotel Indonesia. Alasannya sederhana, karena di Tanah Abang ini banyak Muslim," kata JK di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu, 22 Februari 2017.

" Tentu akibat di sini maka umat Islam datang juga ke sini. Setidaknya kalau di Tanah Abang akan datang itu saja (Muslim sekitar), tapi di sini beragam macam yang datang," ujar dia.

Namun Presiden pertama Soekarno ternyata punya pendapat lain. Dia mengusulkan pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan di Sawah Besar. Alasannya, kata JK, lokasi tersebut merupakan kawasan Pecinan yang juga menjadi lokasi Katedral.

" Kalau di sini karena banyak Pecinan. Bung Karno juga memiliki filosofi yang mendalam. Karena ada Katedral agar mampu bersanding dalam kerukunan berbangsa. Karena itu Istiqlal, Kemerdekaan," ucap dia.(Sah)

2 dari 2 halaman

Masjid Istiqlal, Simbol Toleransi Indonesia

Dream - Rabu 22 Februari 2017, Masjid Istiqlal merayakan milad. Tepat di tanggal yang sama, 39 tahun silam, masjid ini diresmikan oleh Presiden ke dua Indonesia, Soeharto.

Masjid Istiqlal merupakan bagian dari proyek mercusuar Presiden Soekarno. Pemancangan batu pertamanya dilakukan oleh presiden pertama Indonesia itu pada 21 Agustus 1961.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab, yang berarti merdeka. Ide penamaan itu disetujui Soekarno yang mulai aktif dalam pembangunan proyek tempat ibadah itu sejak menjadi Ketua Dewan Juri Sayembara Desain Masjid Istiqlal.

Dalam sayembara itu, terpilihlah nama Friederich Silaban dengan rancangan berjudul " Ketuhanan" . Friederich merupakan seorang arsitek beragama Kristen Protestan kelahiran Boandolok, Sumatera, 16 Desember 1912.

Baca juga: Istiqlal: Masjid Megah di Atas Benteng Belanda

Silaban merupakan lulusan terbaik Academie van Bouwkunst, Amsterdam, Belanda, 1950. Selain merancang desain arsitektur Masjid Istiqlal, dia juga merancang kompleks Olahraga Senayan.

Meski berbeda keyakinan, Silaban mempelajari aturan dan tata cara umat Muslim melaksanakan sholat. Dia mempelajari itu selama kurang lebih tiga bulan.

Kisah toleransi yang muncul tak berhenti sampai di situ. Lokasi pendirian masjid juga sempat menuai perdebatan. Wakil Presiden Mohammad Hatta meminta pendirian Masjid Istiqlal dilakukan di atas tanah di Jalan Mohammad Husni Thamrin, lokasi yang kini berdiri Hotel Indonesia.

Hatta memiliki pertimbangan tersendiri. Menurut dia, lokasi itu dekat dengan warga yang kebanyakan berkeyakinan Islam dan belum ada bangunan lain berdiri, sehingga menghemat biaya pembangunan.

Tetapi, Soekarno punya pendapat lain. Dia meminta pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang terletak di antara Gereja Wilhemina dan Gereja Katedral, terdapat reruntuhan benteng Belanda dan dekat dengan Istana Merdeka.

Semasa pembangunannya, Masjid Istiqlal sempat mengalami pasang surut. Kondisi itu lebih karena gejolak politik yang muncul waktu itu.

Bangunan utama Masjid Istiqlal selesai pada 31 Agustus 1976. Sebagai penanda, dikumandangkanlah azan Maghrib pertama. Pembangunan yang diprediksi akan memakan waktu selama 45 tahun ternyata selesai dalam waktu 17 tahun. Pada 22 Februari 1978, masjid itu diresmikan.

Beri Komentar