Jerit Pilu dan Pesan Terakhir dari Kereta Bawah Tanah yang Terjebak Banjir China

Reporter : Ulyaeni Maulida
Kamis, 22 Juli 2021 15:00
Jerit Pilu dan Pesan Terakhir dari Kereta Bawah Tanah yang Terjebak Banjir China
Mereka berusaha bertahan hidup dengan menjaga kepala mereka tetap berada diatas air akibat hujan paling deras dalam 1.000 tahun terakhir itu..

Dream – Hujan deras yang melanda Kota Zhengzhou, China, menyebabkan sedikitnya 25 orang tewas dan tujuh lainnya dilaporkan hilang. Sementara, sekitar 200 ribu orang harus mengungsi ke ibukota provinsi Henan.

Tak hanya itu, hujan yang disebut paling deras dalam 1.000 tahun terakhir itu juga menyebabkan rasa takut luar biasa bagi mereka yang terjebak di dalam kereta bawah tanah. Mereka berusaha bertahan hidup dengan menjaga kepala mereka tetap berada diatas air.

Sementara itu, hujan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut tersebut juga telah melumpuhkan sistem transportasi umum serta banyaknya toko-toko yang harus tutup.

" Kami terbiasa dengan hujan deras setinggi pergelangan kaki di musim panas. Tetapi hujan kali ini yang benar-benar menghancurkan segalanya,” ungkap seorang korban selamat.

1 dari 5 halaman

Peristiwa Dalam Kereta Bawah Tanah

Daerah yang paling parah terkena dampak adalah di Jalur 5 kereta bawah tanah. Dimana banyak penumpang dilaporkan terjebak selama berjam-jam di kompartemen kereta yang terendam.

Dalam video yang beredar di media sosial, para penumpang yang cemas tampak berdiri di tengah banjir setinggi dada orang dewasa. Dari luar kereta, air terus berdatangan hingga mencapai ketinggian diatas kepala.

Ditengah segala rasa putus asa, pada pukul 19.30 seorang wanita yang diidentifikasi sebagai pembawa acara mencoba mengirimkan bantuan melalui media sosial.

“ Semua unit penyelamat darurat dan petugas pemadam kebakaran, tolong datang selamatkan kami! Kami terjebak di terowongan Jalur 5. Tolong bantu sebarkan pesan ini. Air di dalam kereta setinggi dada. Saya tidak bisa lagi berbicara, tolong bantu! SOS,” tulisnya dalam unggahan media sosial.

Satu menit kemudian ia kembali memposting, “ Ada ratusan dari kami. Bagi kami waktu adalah kehidupan.”

Kemudian pukul 19.46 ia kembali menguggah postingan terakhir sebelum akhirnya baterai ponselnya habis. Saat itu, air telah mencapai leher.

Setelah satu jam berlalu, bantuan pun datang. Mereka pun berhasil diselamatkan sekitar pukul 20.50.

2 dari 5 halaman

Cerita Penumpang Selamat

Cerita lain datang dari salah seorang penumpang yang selamat. Ia mencoba mengungkapkan rasa takutnya saat melihat air yang sedikit demi sedikit mulai masuk kedalam kereta.

“ Mereka mulai menangis di sekitar saya. Kami pun membuat perjanjian bersama untuk menahan dari mengatakan sesuatu yang negatif. Sebagian besar dari kami tetap diam berusaha fokus agar bisa terhubung ke dunia luar untuk mendapatkan bantuan,” ungkapnya.

“ Syukurlah seorang wanita berhasil menemukan regu penyelamat di luar kereta. Ia memberitahukan kondisi kami yang masih terjebak di dalam kereta,” lanjutnya kembali.

“ Tetapi momen terburuk adalah sekitar pukul sembilan malam dimana ketinggian air diluar jendela kereta mencapai atas kepala orang dewasa. Saat kami melihat ke arah ekor kereta, sebagian besar kompartemen sudah terendam air,” ucapnya kembali mengingat kejadian mengerikan tersebut.

3 dari 5 halaman

Berusaha Bertahan Hidup

Namun, saat mereka berusaha bertahan hidup, saat itulah waktu yang tersisa semakin sedikit. Jika mereka menyerah, maka tak ada lagi harapan.

“ Beberapa gemetar, terengah-engah dan muntah. Ada anak-anak dan wanita hamil serta orangtua di antara kami. Banyak dari kami yang kelelahan karena berendam air selama berjam-jam,” ungkapnya.

“ Saya merasa putus asa. Mempersiapkan diri jika nantinya saya tidak berhasil keluar hidup-hidup. Ketika saya melihat ketinggian air telah mencapai kepala kami, saya mulai mengirimkan pesan perpisahan terakhir pada orang yang saya cintai,” lanjutnya kembali.

Saat itu, udara didalam kereta mulai habis. Mereka pun berjuang untuk membuka jendela yang letaknya lebih tinggi menggunakan alat pemadam kebakaran. Setelah udara mulai kembali mereka dapatkan, disaat itulah regu penyelamat pun tiba.

Ding Xiaopei, seorang penyiar radio, takut menelepon kedua anaknya yang masih berusia 13 dan 4 tahun. Dia tak mempu mengucap sepatah katapun. Xiaopei hanya bisa mengunggah video yang dia pikir menjadi pesan terakhirnya.

" Air di luar telah mencapai sini," kata dia sambil menunjukkan air telah mencapai batas dada, " dan baterai ponselku segera habis. Tolong selamatkan kami."

4 dari 5 halaman

Beberapa Dilaporkan Hilang

Namun, ada pula beberapa orang yang dilaporkan hilang. Salah satunya laporan dari seorang wanita yang mengaku jika suaminya belum ditemukan.

" Siapa pun yang melihatnya di rumah sakit atau dalam perjalanan ke rumah sakit, tolong hubungi saya. Saya dan anak kami sedang menunggunya pulang,” ungkapnya.

Video dan foto yang dibagikan di media sosial China menunjukkan orang-orang berjuang untuk tetap bertahan hidup dan menangis minta tolong. Sebagian bahkan harus disensor karena menampilkan mayat-mayat yang hanyut terbawa air.

(Sumber: koreatimes.co.kr)

5 dari 5 halaman

Beri Komentar