Demo Rusuh Kendari, Ibu Hamil Terkena Peluru Nyasar

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Jumat, 27 September 2019 18:02
Demo Rusuh Kendari, Ibu Hamil Terkena Peluru Nyasar
Korban tertembak di betis kanan.

Dream - Demonstrasi menolak Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) di Kendari, Sulawesi Tenggara pada Kamis, 26 September 2019 kemarin tak hanya membuat dua mahasiswa tewas.

Seorang ibu yang sedang hamil enam bulan, Putri Yulia, turut menjadi korban peluru nyasar.

" Korban diberitahu suaminya jika itu luka karena tembakan. Setelah dicek, ternyata benar," ujar
Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara, AKBP Harry Goldenhardt dikutip Liputan6.com.

Menurut Harrym Putri terkena tembakan sekitar pukul 16.25 WITA di bagian betis kanan. Mulanya korban mengira kalau mengalami luka biasa.

Dokter Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kendari kemudian melakukan pembedahan dan menemukan proyektil berukuran 9 milimeter atau 0,9 sentimeter.

Saat ini, Putri masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kendari terkait luka tembak yang dideritanya.

(Sumber: Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

1 dari 7 halaman

Hasil Autopsi Mahasiswa Korban Aksi Demo Kendari, Peluru Menembus Dada

Dream - Hasil autopsi kematian mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Randi saat unjuk rasa pada Kamis, 26 September 2019 telah keluar. Dokter Raja Alfath Atfath Widya Iswara memastikan korban meninggal akibat luka tembak.

Dari hasil autopsi, dokter menemukan peluru masuk melalui dada samping kiri dan keluar di dada kanan depan.

" (Peluru) tembus, jalurnya panjang, kedalamannya tak bisa kami ukur," ujar Alfath dikutip dari Liputan6.com.

Akibat peluru yang menembus di area dada itu, beberapa organ vital korban mengalami kerusakan seperti, bagian paru-paru kanan dan kiri terjadi pendarahan.

" Mengenai sedikit pembuluh darah, ada namanya Media Stinum, terletak di tengah paru-paru kanan dan paru-paru kiri," ucap dia.

Saat melakukan operasi, polisi tidak menemukan peluru bersarang di tubuh korban. Diduga, peluru tersebut sudah keluar saat menembus dada kanan.

" Lebar luka pada dada kiri yakni 0,9 sentimeter, sementara lebar lubang dada kanan sekitar 2,1 sentimeter," kata dia.

Tim dokter menduga, korban ditembak dari jarak jauh. Sebelum meninggal, korban mengalami pendarahan di paru-paru.

(Sumber: Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

2 dari 7 halaman

Polisi Bentuk Tim Investigasi Kasus Kematian Mahasiswa di Kendari

Dream - Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri, Irjen Pol Muhammad Iqbal menyatakan, Mabes Polri akan membentuk tim investigasi untuk mengusut penyebab kematian dua mahasiswa dalam aksi demonstrasi di Kendari, kemarin. 

" Pak Kapolri sudah membentuk tim investigasi gabungan untuk mencari tahu siapa pelakunya,"  ujar Iqbal dikutip dari Liputan6.com. 

Menurut Iqbal, jika hasil scientific menunjukan pelaku penembaakan adalah aparat keamanan, polisi memastikan akan melakukan proses hukum pidana sesuai mekanisme yang berlaku.

Mantan Kapolrestabes Surabaya ini mengungkapkan Polri sudah mengirimkan dua tim dari Propam dan tim pengawas yang dipimpin langsung oleh perwira tinggi berpangkat Brigjen.

" Mereka sedang bekerja memastikan apakah ada kesalahan SOP (standar operasional prosedur) atau tidak," ucap dia.

Terkait peristiwa aksi demonstrasi yang berakhir dengan kericuhan di Kendari, Iqbal mengimbau semua pihak untuk tidak terprovokasi dengan informasi yang disebarkan di media sosial terkait penyebab kematian dua mahasiswa Kendari.

(Sumber: Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro)

3 dari 7 halaman

Korban Demo Kendari Bertambah, 2 Mahasiswa Tewas

Dream - M Yusuf Kardawi, mahasiswa jurusan Teknik D-3 Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, dinyatakan meninggal dunia. Yusuf yang sempat kritis menjalani perawatan intensif di RSU Bahteramas, Kendari.

" Iya pasien Muh Yusuf Kardawi (19) menjalani perawatan intensif pascaoperasi di RSU Bahteramas Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia Jumat, 27 September 2019 sekitar pukul 04.00 WITA," kata Plt Direktur RSU Bahteramas, dr Sjarif Subijakto, dilaporkan Liputan6.com.

Antara melansir, Yusuf merupakan pasien rujukan dari RS Ismoyo Korem 143/Haluoleo yang menerima operasi karena cedera serius saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis, 26 September 2019.

Yusuf menjadi korban kedua yang tewas setelah aksi ini. Sebelumnya, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UHO, Randi meninggal saat bentrokan, Kamis, 26 September 2019.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaidi yang dikorfirmasi tidak bersedia memberikan penjelasan.

" Silahkan konfirmasi ke Polda Sultra," kata Kapolres Jemi melalui saluran telepon.

4 dari 7 halaman

1 Mahasiwa Kendari Tewas Saat Demonstrasi, 1 Kritis

Dream - Satu orang mahasiswa Universitas Halu Oleo tewas saat berunjuk rasa. Randi, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2016, meninggal.

Randi diduga tewas akibat luka tembak di bagian dada sebelah kanan. Satu mahasiswa lainnya dilaporkan kritis. 

Muhammad Yusuf Kardwi, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2018. Dilaporkan Inikata Sultra, Yusuf kritis akibat luka di bagian kepala.

Kepala Penerangan Korem 143/HO, Mayor Arm Sumarsono. Dia meninggal pukul 18.15 Wita.

" Benar. Satu korban kritis yang sempat ditangani RS TNI dan dirujuk ke RSUD Bahteramas sudah meninggal dunia," ujar Sumarsono.

Sesaat sebelum insiden, terjadi kericuhan antara mahasiswa dan polisi di depan Kantor DPRD Povinsi Sulawesi Tenggara sekitar pukul 16.40 Wita.

Saat itu, massa demo mahasiswa berusaha masuk ke depan gedung sekretariat DPRD sejak aksi mulai digelar pukul 13.00 Wita.

Polisi kemudian melepaskan ratusan tembakan gas air mata dan peringatan.

5 dari 7 halaman

Polda Metro Ungkap Fakta Baru Temuan Batu di Ambulans PMI

Dream - Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Raden Argo Yuwono, mengatakan, ada kesalahpahaman atas temuan batu dan kembang api di lima mobil ambulans.

" Jadi anggapan anggota Brimob diduga digunakan oleh perusuh, padahal bukan," kata Argo di Jakarta, Kamis 26 September 2019.

Argo menjelaskan duduk perkara anggota Brimob mengamanankan lima ambulans beserta sopir dan staf medisnya. Awalnya, katanya, perusuh melempari anggota Brimob dengan batu.

 Unggahan TMC Polda Metro Jaya

Unggahan TMC Polda Metro Jaya

Perusuh itu, tambah Argo, membawa batu dan petasan. Usai melempari anggota Brimob, perusuh bersembunyi di belakang ambulans di Gardu Tol Pejompongan Jalan Gatot Subroto.

" Dia (perusuh) itu mencari perlindungan dengan masuk ke mobil PMI, dia membawa batu, kembang api juga, masuk ke mobil jadi bawa dus ini," ujar Argo.

 Unggahan TMC Polda Metro Jaya

Unggahan TMC Polda Metro Jaya

Meski menganggap masalah ini sebagai kesalahpahaman, belum ada pernyataan maaf secara resmi yang disampaikan. Bahkan, dua unggahan video ambulans yang disebut membawa batu dan bensin masih terpampang di Instagram @TMCPoldaMetro.

6 dari 7 halaman

Akun Twitter TMC Polda Metro Hapus Cuitan Ambulans Bawa Batu

Dream - Akun Twitter Traffic Management Center Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, mengunggah video yang menyebut lima unit ambulans berlogo Pemprov DKI Jakarta dan PMI Kota Jakarta membawa batu dan bensin saat terjadi demo di depan Gedung DPR.

Cuitan yang dibuat @TMCPoldaMetro, itu berbunyi, " 02:14 Polri amankan 5 kendaraan ambulans milik Pemprov DKI Jakarta yang digunakan untuk mengangkut batu dan bensin yang diduga untuk molotov di dekat Gardu Tol Pejompongan Jl. Gatot Subroto."

Namun, video itu kini sudah tidak ada lagi di lini masa akun @TMCPoldaMetro. Menghilangnya cuitan tersebut sempat direkam pengguna Twitter @ivan_yanuarr.

" Upsss.. Udah didelete untung ada jejak dan gital," tulis Ivan.

Meski demikian, di Instagram @tmcpoldametro, unggahan itu masih ada. Beberapa warganet menanyakan barang bukti batu dan bensin yang dimaksud polisi.

" Manee batunya Pak Pol?" tulis seorang warganet.

7 dari 7 halaman

Polisi Belum Membeberkan

      View this post on Instagram

‪02:14 #Polri amankan 5 kendaraan ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang digunakan untuk mengangkut batu dan bensin yang diduga untuk molotov di dekat Gardu Tol Pejompongan Jl. Gatot Subroto.‬

A post shared by TMC Polda Metro Jaya (@tmcpoldametro) on 

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, mengatakan, ambulans itu diamankan saat berada dekat Gardu Tol Pejompongan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

"Ya benar (ada ambulans milik Pemprov DKI Diamankan," ujar Argo saat dikonfirmasi, Kamis 26 September 2019.

Selain ambulans, polisi juga turut mengamankan sopirnya untuk dimintai keterangan terkait masalah tersebut. Meski demikian polisi belum memberi informasi mengenai temuan batu dan bensin tersebut.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Yudi Dimyati, mengaku belum mengetahi alasan polisi mengamankan ambulans ini.

"Belum tahu sebentar ya," kata Yudi dikutip dari Merdeka.com.

Yudi mengatakan, pihaknya masih ingin memastikan apakah benar ambulans tersebut milik ambulans puskesmas Pademangan.

"Saya cari data dulu ya, belum ketemu bagaimana hasilnya karena belum ada konfirmasi dari Polda," ucap dia.

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone