IDAI Minta Sekolah Tak Dibuka hingga Desember 2020

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 31 Mei 2020 14:13
IDAI Minta Sekolah Tak Dibuka hingga Desember 2020
Anjuran ini mengacu pada masih terus bertambahnya jumlah kasus COVID-19.

Dream - Tahun ajaran baru akan dimulai pertengahan Juli 2020 mendatang. Sebagian besar orangtua merasa kebingungan, karena pandemi Covid-19 belum berakhir.

Risiko penularan jika anak kembali ke sekolah masih sangat tinggi. Terkait hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan sekolah setidaknya membuka kegiatan belajar secara langsung pada Desember 2020.

Anjuran ini mengacu pada masih terus bertambahnya jumlah kasus COVID-19 serta melonggarnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang memungkinkan terjadinya lonjakan kedua.

" Dengan mempertimbangkan antisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka setidaknya sampai bulan Desember 2020," kata Ketua Umum IDAI Dr dr Aman Pulungan SpA(K) FAAP, FRCP(Hon) dalam keterangan resminya, Sabtu 30 Mei 2020, dikutip dari Liputan6.com

Selama sekolah masih tutup, IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar dillaksanakan lewat skema pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kegiatan belajar mengajar dari rumah tentu berdasarkan modul yang sudah disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selama belajar mengajar jarak jauh, peran aktif siswa, guru, dan orangtua tentu jadi fakor penting.

 

1 dari 5 halaman

Analisis Epidemiologi

Bila suatu hari sekolah kembali dibuka harus sudah memenuhi syarat-syarat epidemiologi. Lalu, IDAI mengimbau semua pihak bisa bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI membicarakan mengenai perencanaan pembukaan sekolah.

" Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilens kesehatan untuk mendeteksi kasus baru dan pelacakan epidemiologi," kata Aman.

 

2 dari 5 halaman

Minta Pemeriksaan Lebih Masif

IDAI juga mengimbau pemerintah untuk melakukan pemeriksaan real time PCR secara masif. Yakni 30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi COVID-19. Pemeriksaan ini juga berlaku pada usia anak.

" IDAI akan terus melakukan pemantauan situasi langsung melalui cabang-cabang IDAI dan akan terus melakukan kajian dan akan memberikan rekomendasi perkembangan situasi terkini," tutup Aman.


Laporan Benedikta Desideria/ Sumber: Liputan6.com

3 dari 5 halaman

Tahun Ajaran Baru Tak Mundur, Sekolah Dimulai Juli 2020

Dream - Kondisi pandemi Covid-19 membuat para orangtua kebingungan. Terutama mereka yang memiliki anak baru lulus dan naik ke jenjang berikutnya. Pasalnya, sejumlah sekolah swasta sudah meminta orangtua untuk memenuhi syarat administratif, sementara kepastian soal pembuakaan sekolah belum dikeluarkan oleh pemerintah.

 Tahun Ajaran Baru Tak Mundur, Sekolah Dimulai Juli 2020© MEN

Banyak yang mengira kalau tahun ajaran baru dimundurkan karena pandemi. Rupanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan keputusan kalau tahun ajaran baru tetap dilakukan sesuai jadwal.

" Kita tidak memundurkan tahun ajaran baru ke Januari 2021. Kalau dimundurkan, maka akan ada beberapa konsekuensi yang harus disinkronkan," ujar Plt Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, di Jakarta, seperti dikutip dari Merdeka.com.

Hamid mengungkap beberapa alasan tahun ajaran baru tidak dimundurkan. Pertama, kelulusan siswa SMA dan SMP sudah diumumkan dan sebentarlagi pengumuman kelulusan SD.
Artinya, jika lulus dan tahun ajaran baru digeser maka anak yang lulus tidak akan mendapat pendidikan sesuai jenjangnya.

" Termasuk juga perguruan tinggi yang sudah melakukan seleksi. Ada SNMPTN yang sudah berlangsung dan awal Juli mendatang SBMPTN," kata dia.

 

4 dari 5 halaman

Sistem Belajar Akan Disesuaikan

Kedua, tahun pelajarannya tetap sama tetapi pola pembelajarannya mungkin akan berbeda. Diperkirakan tahun ajaran baru dimulai pada 13 Juli.

" Mengapa 13 Juli, karena memang awal tahun ajaran baru itu minggu ketiga Juli dan hari Senin," ujar dia.

Pembelajarannya pun tergantung zona yang ada di daerah itu. Zona hijau maka pembelajaran tatap muka dapat diselenggarakan. Sementara zona kuning dan merah maka akan melanjutkan pembelajaran daring.

" Nah untuk zona hijau, menurut Gugus Tugas ada sekitar 108 kabupaten/kota yang selama dua bulan terakhir, belum ada satupun kasus COVID-19," ucap dia.

 

5 dari 5 halaman

Dibuat Protokol Kesehatan

Untuk penetapan zona hijau, kuning dan merah ditetapkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dan Kementerian Kesehatan. Pemerintah daerah tidak bisa menetapkannya sendiri. Kalau pun diperbolehkan pembelajaran tatap muka, harus tetap mengikuti protokol kesehatan.

" Untuk mekanismenya, kita menunggu keputusan Mendikbud pekan depan. Itu seperti apa nanti akan dijelaskan. Kemungkinan untuk zona yang ada Orang Dalam Pengawasan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau zona kuning dan merah, tetap menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh," kata dia.

 Murid SD© Shutterstock

Dalam kesempatan itu, dia juga menegaskan bahwa tahun ajaran baru bukan berarti sekolah kembali dibuka untuk semua daerah.

" Kadang-kadang ini menjadi rancu, tahun ajaran baru dikira dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. Itu tidak benar. Tahun ajaran baru yang dimaksud adalah dimulainya tahun pelajaran baru 2020/2021. Untuk pembukaan sekolahnya tergantung zona dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19" kata Hamid.

Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar