Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Ilmuwan Klaim Pasar Wuhan Bukan Tempat Awal Virus Corona Berasal

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 24 Februari 2020 14:00
Ilmuwan Klaim Pasar Wuhan Bukan Tempat Awal Virus Corona Berasal
Pasar Wuhan diklaim hanya menjadi lokasi yang menyebabkan virus corona itu menyebar cepat

Dream - Ilmuwan mencari asal muasal virus corona, Covid-19. Salah satu dugaan, Covid-19 tidak berasal dari Pasar Wuhan, China.

Para Peneliti dari Xishuangbanna Tropical Botanical Garden, Chinese Academy of Science and the Chinese Institute for Brain Research melaporkan Covid-19 diimpor dari lokasi lain.

Tim yang dipimpin Dr Yu Wenbin, mengurutkan data genom dari 93 sampel SARS-CoV-2 yang disediakan 12 negara. Mereka berhipoteses, virus telah menyebar dengan cepat di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di Wuhan, juga telah terjadi dua ekspansi populasi besar pada 8 Desember 2019 dan 6 Januari 2020.

Dilaporkan Express.co.uk, penelitian yang diterbitkan di laman resmi institut itu akhir pekan lalu, analisis menunjukkan Covid-19 sebenarnya diperkenalkan dari luar pasar.

" Pasar yang ramai kemudian meningkatkan sirkulasi SARS-CoV-2 dan menyebarkannya ke seluruh kota pada awal Desember 2019," tulis mereka.

Studi sebelumnya otoritas kesehatan Cina dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklaim pasien pertama yang diketahui menunjukkan gejala Covid-19 pada 8 Desember 2019.

Mereka juga melaporkan sebagian besar kasus berikutnya memiliki kaitan dengan pasar makanan laut Huanan, yang ditutup pada 1 Januari 2020. Para peneliti sekarang percaya bahwa ada kemungkinan virus mulai menyebar dari orang ke orang pada akhir November, mengikuti analisis data genom.

1 dari 5 halaman

Korea Selatan dan Iran Hadapi Masalah Serius

Sementara itu, Xiang Nijuan, seorang peneliti di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, mengatakan, orang-orang yang terinfeksi virus corona baru menular dua hari sebelum mereka menunjukkan gejala.

Dia mengatakan, siapa pun yang telah melakukan kontak dekat dengan seseorang dalam waktu 48 jam dari mereka yang dikonfirmasi terinfeksi perlu mendapat isolasi selama dua minggu.

Saat ini, perkembangan sebaran Covid-19 yang mengkhawatirkan di Korea Selatan, Italia, dan Iran. Korea Selatan telah meningkatkan peringatan coronavirus-nya ke " level tertinggi" karena jumlah kasus yang dikonfirmasi terus meningkat.

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in mengatakan negara itu menghadapi " titik balik yang serius" , dan beberapa hari ke depan akan sangat penting dalam pertempuran untuk mengatasi wabah tersebut.

Sementara itu, Italia dan Iran telah mengumumkan langkah-langkah untuk mencoba menahan wabah virus yang mengkhawatirkan.

2 dari 5 halaman

Aturan Kontroversial di China, Siswa Diminta Bantu Pasien Corona

Dream - Pemerintah kota Datong, Shanxi, China, membuat geger media sosial. Sebab, aturan itu meminta para murid sekolah untuk terjun ke garis depan membantu korban yang terinfeksi virus Corona, Covid-19.

Pemkot Datong mengumumkan bahwa semua siswa yang maju melawan kasus Covid-19 akan mendapat tambahan nilai 30 poin saat ujian masuk perguruan tinggi.

Dilaporkan Shanghaiist, langkah itu terjadi setelah pemerintah provinsi Hubei mengumumkan tindakan serupa awal bulan ini. Pemprov Hubei memberi hadiah kepada semua anak pekerja medis mendapat tambahan 10 poin pada ujian masuk perguruan tinggi.

Poin tambahan selalu menjadi subjek yang sangat sensitif di China. Di mana ada persaingan tinggi untuk tempat yang relatif sedikit di kampus-kampus top.

3 dari 5 halaman

Kritik dari Warganet

Terlepas dari dukungan nasional terhadap para pekerja medis, kasus ini menerima banyak kritik dari pengguna Weibo.

" Apa yang dilakukan anak-anak yang orang tuanya bukan pekerja medis? Bukankah lebih baik memberikan perawatan istimewa kepada para pekerja medis itu sendiri?" ujar seorang warganet.

“ Hadiahnya harus diberikan kepada pekerja medis, bukan memberi anak-anak poin ekstra, terutama begitu banyak. Itu terlalu tidak adil,” kata seorang warganet.

" Mengapa tidak menambah 100 poin?" ucap dia.

4 dari 5 halaman

Virus Corona Mewabah, Kota Daegu di Korsel Dikarantina

Dream - Pemerintah Korea Selatan resmi menyatakan kota Daegu sebagai `zona manajemen khusus`, Jumat 21 Februari 2020, karena disinyalir menjadi lokasi penyebaran virus Corona, Covid-19.

Menurut laman Japan Times, otoritas kesehatan Korea Selatan melaporkan sebanyak 52 kasus baru Covid-19. Angka itu menambah kasus infensi virus Corona di Korea Selatan menjadi 156.

Lonjakan itu, terutama di wilayah Daegu, menimbulkan kekhawatiran wabah itu semakin tidak bisa dikendalikan oleh Negeri Ginseng tersebut.

Di Seoul, pemerintah setempat telah melarang aksi demonstrasi besar-besaran, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Lonjakan infeksi di Daegu dan beberapa kasus di Seoul tidak jelas rutenya. Kasus sebaran ini bahkan baru diakui pemerintah Korsel pada Kamis, 20 Februari 2020.

Perdana Menteri Korsel, Chung Se-Kyun, mengatakan bahwa pemerintah akan berkonsentrasi di wilayah tenggara yang terdampak. Pemerintah akan menyediakan tempat tidur, peralatan, dan staf medis.

Walikota Daegu, Kwon Young-jin, mendesak 2,5 juta orang di kota itu untuk tinggal di rumah dan mengenakan masker bahkan di dalam ruangan jika memungkinkan.

Para pejabat di Pulau Jeju mengatakan, seorang anggota angkatan laut berusia 22 tahun yang berbasis di pulau itu dinyatakan positif terinfeksi virus Corona pada hari Jumat, beberapa hari setelah mengunjungi Daegu untuk berlibur.

Pelaut yang saat ini dirawat di rumah sakit sipil di pulau itu merupakan pasien virus pertama di Jeju.

5 dari 5 halaman

1.000 Orang Beribadah di Gereja Tersebut

Sementara itu, dugaan penyebaran virus berasal mengarah ke sebuah geraja. Dilaporkan Quartz, menurut pernyataan dari pusat kendali dan pencegahan penyakit Korea Selatan, 28 kasus Covid-19 terkonfirmasi terkait dengan Gereja Shincheonji Yesus, Kuil Tabernakel Kesaksian.

Dugaan ini berawal dari ditemukannya seorang perempuan berusia 61 tahun yang mengalami infeksi virus Covid-19.

Tidak jelas bagaimana dia tertular penyakit Covid-19, karena dia tidak melakukan perjalanan ke luar negeri baru-baru ini. Menurut sebuah pernyataan pemerintah, dia dirawat di rumah sakit pada 7 Februari setelah kecelakaan mobil. Dia mengalami demam tiga hari kemudian, dan dikonfirmasi telah dinyatakan positif mengidap coronavirus pada 18 Februari.

Pihak gereja mengonfirmasi bahwa pasien ke-31 Covid-19 telah menghadiri layanan di Daegu. Media setempat melaporkan bahwa sekitar 1.000 anggota gereja telah menghadiri ibadah dengan pasien positif Covid-19.

Sejak saat itu gereja menutup fasilitasnya, memindahkan semua ibadah dan pertemuan online. Daegu sekarang bersiaga, dan telah mengambil tindakan termasuk menutup perpustakaan umum, menangguhkan kelas taman kanak-kanak, dan menunda acara besar.

Sebuah pangkalan militer AS di kota itu telah membatasi akses dan memberlakukan karantina terhadap setiap pasukan yang baru-baru ini menghadiri gereja Shincheonji.

Beri Komentar