Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Jumlah korban tewas akibat infeksi virus corona terus bertambah bahkan sudah menembus angka 2000 orang. Laporan pasien baru yang positif terjangkit virus bernama resmi Covid-19 ini di negeri asalnya, China terus menurun.
Sayangnya, penyebaran virus baru justru mulai banyak ditemukan di luar China. Korea Selatan mendadak menjadi negara nomor dua dengan jumlah laporan warga terpapar virus corona terbanyak.
Data yang dikumpulkan Universitas John Hopkins secara realtime pada Senin, 24 Februari 2020, pukul 10.13 WIB tercatat angka kematian sudah mencapai 2.619 orang.
Provinsi Hubei menempati urutan teratas daerah dengan kasus kematian terbanyak baik di seluruh China maupun dunia. Jumlahnya mencapai 2.495 orang.
Data jumlah kasus kasus infeksi dilaporkan mencapai 79.360 pasien di seluruh dunia dengan jumlah terbanyak di China mencapai 77.150 kasus. Terbanyak kedua ditempati Korea Selatan dengan 763 kasus.

Peta sebaran kasus kematian akibat Covid-19, data John Hopkins University
Infeksi Covid-19 telah menyebar dan menimbulkan kasus kematian di sejumlah negara.
Korea Selatan dan Iran menjadi negara terdekat China yang menerapkan isolasi terhadap warganya menyusul adanya kasus kematian pasien terjangkit Covid-19. Korea menutup kota Daegu agar virus tidak menyebar.
Demikian pula dengan Iran. Negeri Para Mullah itu menutup sebagian besar sekolah dan pusat kebudayaan demi mencegah meluasnya infeksi corona.
Dream - Pemerintah Korea Selatan resmi menyatakan kota Daegu sebagai `zona manajemen khusus`, Jumat 21 Februari 2020, karena disinyalir menjadi lokasi penyebaran virus Corona, Covid-19.
Menurut laman Japan Times, otoritas kesehatan Korea Selatan melaporkan sebanyak 52 kasus baru Covid-19. Angka itu menambah kasus infensi virus Corona di Korea Selatan menjadi 156.
Lonjakan itu, terutama di wilayah Daegu, menimbulkan kekhawatiran wabah itu semakin tidak bisa dikendalikan oleh Negeri Ginseng tersebut.
Di Seoul, pemerintah setempat telah melarang aksi demonstrasi besar-besaran, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.
Lonjakan infeksi di Daegu dan beberapa kasus di Seoul tidak jelas rutenya. Kasus sebaran ini bahkan baru diakui pemerintah Korsel pada Kamis, 20 Februari 2020.
Perdana Menteri Korsel, Chung Se-Kyun, mengatakan bahwa pemerintah akan berkonsentrasi di wilayah tenggara yang terdampak. Pemerintah akan menyediakan tempat tidur, peralatan, dan staf medis.
Walikota Daegu, Kwon Young-jin, mendesak 2,5 juta orang di kota itu untuk tinggal di rumah dan mengenakan masker bahkan di dalam ruangan jika memungkinkan.
Para pejabat di Pulau Jeju mengatakan, seorang anggota angkatan laut berusia 22 tahun yang berbasis di pulau itu dinyatakan positif terinfeksi virus Corona pada hari Jumat, beberapa hari setelah mengunjungi Daegu untuk berlibur.
Pelaut yang saat ini dirawat di rumah sakit sipil di pulau itu merupakan pasien virus pertama di Jeju.
Sementara itu, dugaan penyebaran virus berasal mengarah ke sebuah geraja. Dilaporkan Quartz, menurut pernyataan dari pusat kendali dan pencegahan penyakit Korea Selatan, 28 kasus Covid-19 terkonfirmasi terkait dengan Gereja Shincheonji Yesus, Kuil Tabernakel Kesaksian.
Dugaan ini berawal dari ditemukannya seorang perempuan berusia 61 tahun yang mengalami infeksi virus Covid-19.
Tidak jelas bagaimana dia tertular penyakit Covid-19, karena dia tidak melakukan perjalanan ke luar negeri baru-baru ini. Menurut sebuah pernyataan pemerintah, dia dirawat di rumah sakit pada 7 Februari setelah kecelakaan mobil. Dia mengalami demam tiga hari kemudian, dan dikonfirmasi telah dinyatakan positif mengidap coronavirus pada 18 Februari.
Pihak gereja mengonfirmasi bahwa pasien ke-31 Covid-19 telah menghadiri layanan di Daegu. Media setempat melaporkan bahwa sekitar 1.000 anggota gereja telah menghadiri ibadah dengan pasien positif Covid-19.
Sejak saat itu gereja menutup fasilitasnya, memindahkan semua ibadah dan pertemuan online. Daegu sekarang bersiaga, dan telah mengambil tindakan termasuk menutup perpustakaan umum, menangguhkan kelas taman kanak-kanak, dan menunda acara besar.
Sebuah pangkalan militer AS di kota itu telah membatasi akses dan memberlakukan karantina terhadap setiap pasukan yang baru-baru ini menghadiri gereja Shincheonji.
Dream - Kematian perdana kasus virus corona di Timur Tengah baru saja dilaporkan. Dua orang lanjut usia yang positif terpapar virus bernama Covid-19 di Qom, Iran dilaporkan telah meninggal dunia.
" Dua orang telah meninggal karena virus corona di Kota Qom," kata Menteri Kesehatan Iran, Alireza Vahabzadeh.
Dilaporkan Al Jazeera, dua orang lanjut usia dengan positif Covid-19 tersebut meninggal pada Rabu, 19 Februari 2020.
" Kedua korban menderita infeksi paru-paru akut karena infeksi mereka dengan virus corona," kata dia.
Sebelumnya pada hari itu, Kianoush Jahanpour, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, mengatakan kedua orang itu dinyatakan positif mengidap Covid-19. Penyebab, dua orang tersebut meniggal karena kurangnya kekebalan dan usianya yang sudah menua.
" Tidak ada informasi langsung tentang jenis kelamin dan usia pasti para korban," ucap dia.
Usai peristiwa ini, Qom menyiapkan kondisi gawat darurat. Kondisi ini untuk menyegah penyebaran wabah Covid-19.
" Kami mendesak orang-orang untuk menghindari salaman dan ciuman, demi menjaga kebersihan pribadi lebih baik menghindari kerumuman," ujar Deputi Kementerian Kesehatan Iran, Qasem Jan-Babaei.
Iran saat ini waspada karena kemungkinan sebaran Covid-19 muncul di kota-kota lain. Di kawasan Timur Tengah, kasus pertama Covid-19 dilaporkan terjadi di Uni Emirate Arab, bulan lalu.
Dream - Setelah menjalani serangkaian uji klinis yang panjang, seorang pejabat China mengatakan bahwa para ahli akhirnya mengkonfirmasi obat yang dikenal sebagai Chloroquine Phosphate memiliki efek kuratif tertentu pada virus corona.
Para profesional medis ini telah 'dengan suara bulat' sepakat bahwa obat tersebut dimasukkan dalam pengujian berikutnya untuk perawatan pasien virus corona.
" Sehingga dapat diterapkan dalam berbagai uji klinis yang lebih luas sesegera mungkin," kata Sun Yanrong, wakil kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya