Sebut Wanita Bisa Hamil di Kolam Renang, Komisioner KPAI Minta Maaf

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 23 Februari 2020 18:57
Sebut Wanita Bisa Hamil di Kolam Renang, Komisioner KPAI Minta Maaf
Pernyataan Siit Hikmawatty memicu polemik.

Dream - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Sitti Hikmawatty memohon maaf atas pernyataannya terkait wanita bisa hamil di kolam renang. Dia pun menyatakan mencabut keterangan tersebut.

" Statement tersebut adalah statement pribadi saya dan bukan dari KPAI. Dengan ini saya mencabut statement tersebut," ujar Sitti, dikutip dari Liputan6.com.

Sitti mengakui pernyataan yang dibuatnya tidak tepat. Dia pun meminta semua pihak tidak menyebarluaskan lebih jauh pernyataan tersebut.

Sebelumnya, KPAI juga memberikan klarifikasi mengenai pernyataan Sitti yang dikutip media online. Dalam pernyataan tertulis, KPAI menyatakan pernyataan Sitti merupakan pendapat pribadi.

" Perlu kami sampaikan bahwa pemahaman dan sikap KPAI tidak sebagaimana narasi berita di media online tersebut. Semoga klarifikasi ini dapat meluruskan kesalahpamahaman berita sebagaimana yang beredar," kata Ketua KPAI, Susanto.

Pernyataan Sitti mengenai wanita bisa hamil di kolam renang memicu kegaduhan usai dimuat di media online. Susanto menilai narasi di berita tersebut telah menimbulkan kontroversi.

" Narasi berita tersebut menimbulkan kontroversi di media sosial dan masyarakat. Terkait kebenaran narasi berita tersebut, kami konfirmasi kepada yang bersangkutan," terang Susanto.

Sumber: Liputan6.com/Dyah Puspita Wisnuwardani

1 dari 5 halaman

Heboh Tepuk Pramuka 'Islam Yes Kafir No', Ini Respons KPAI

Dream - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan adanya tepuk yel-yel 'Islam-Islam yes, kafir-kafir no' yang terjadi di SD Negeri Timuran, Yogyakarta. Tepuk itu dilakukan ketika kegiatan ekstrakurikuler Pramuka yang dibawa oleh pembina dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Yogyakarta.

Ketua KPAI, Susanto mengatakan, materi kepramukaan seharusnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan sesuai dengan apa yang terkandung dalam Dasa Dharma Pramuka.

" Nilai-nilai pramuka itu sangat baik utk pembentukan karakter anak. Maka, internalisasi kepramukaan tidak boleh bertentangan dengan Dasa Dharma Pramuka," ujar Susanto kepada Dream, Selasa, 14 Januari 2020.

Susanto berujar, poin pertama Dasa Dharma Pramuka menjunjung tinggi takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, tepuk yel-yel tersebut tidak tepat diajarkan dalam materi kepramukaan.

KPAI juga meminta kepada pembina Pramuka untuk senantiasa mengajarkan anak didiknya bersikap saling menghargai satu sama lain. Bukan memberikan pemahaman yang salah.

" Intinya mesti hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dari peserta didik yang beragama berbeda," kata dia.

2 dari 5 halaman

Heboh Tepuk Pramuka 'Islam Yes, Kafir No', Pembina Dipanggil Kwarcab

Dream - Yel-yel yang diajarkan pembina Pramuka asal Gunungkidul, Yogyakarta mengajarkan para peserta praktik Kursus Mahir Lanjutan pembina Pramuka, menuai kontroversi.

Di depan murid-murid siswa SD Negeri Timuran, dia mengajarkan yel-yel dengan narasi 'Islam-Islam yes, Kafir-Kafir No'.

Dilaporkan Harian Jogja peristiwa itu terjadi Jumat, 10 Januari 2020. Orang tua siswa mengunggah kejadian itu ke aplikasi perpesanan.

Sang orang tua murid juga melempar protes atas munculnya yel-yel tersebut.

Kepala SD Negeri Timuran, Esti Kartini membenarkan kegiatan Pramuka di sekolahnya. Tapi, dia tidak mengetahui secara detail kejadian tepuk SARA.

" SD Negeri Timuran hanya ketempatan, itu semua materi dan pembina dari kwartir cabang (kwarcab) Pramuka Kota Yogyakarta. Kami juga baru mendengar ini dari teman-teman media. Karena, kami Gugus Depan Kota Yogyakarta, maka kami welcome untuk praktik ini, intinya kami hanya ketempatan saja," kata Esti, Senin, 13 Januari 2020.

3 dari 5 halaman

Materi Itu Tak Ada di Kursus

Sementara itu, Ketua Kwarcab Pramuka, Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, peristiwa terjadi secara spontan. Seorang pembina mengajarkan tepuk bernarasi SARA yang pantas mendapat protes.

" Kejadiannya secara spontan. Ada salah satu peserta dari Gunungkidul yang tiba-tiba menyampaikan tepuk yel-yel seperti itu (Islam-Islam Yes, Kafir-Kafir No). Ini dari spontanitas peserta, kalau dari sisi materi pelatihan dan kursusnya tak ada,” kata Heroe.

Sebagai langkah lanjutan, Heroe akan memanggil pembina yang bersangkutan. Dia akan meminta pembina tersebut menjelaskan motif mengajarkan yel-yel SARA tersebut.

“ Secepatnya kami akan panggil di kantor Kwarcab, kita akan luruskan persoalan kemarin. Termasuk bagaimana kejadian kemarin dan konsekuensinya juga,” kata Heroe.

Heroe menyebut dalam materi Pramuka yang ada tidak terdapat tepuk bernarasi SARA, seperti yang disampaikan salah satu pembina tersebut. Peristiwa ini akan menjadi pembelajaran dan evaluasi agar tak muncul lagi di kemudian hari.

Sumber: Harian Jogja

4 dari 5 halaman

NU-Muhammadiyah Kompak Tolak Paham Khilafah

Dream - Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menegaskan penolakannya pada paham khilafah di Indonesia. Dua ormas ini juga akan menghalau upaya pendirian negara khilafah.

Sikap ini dinyatakan dalam pertemuan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu malam, 31 Oktober 2018.

Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, mengungkapkan ada empat sikap yang disepakati bersama antara NU dan Muhammadiyah. Sikap pertama, dua ormas ini berkomitmen kuat untuk menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia berasaskan Pancasila sebagai sistem kenegaraan yang Islami.

" Bersamaan dengan itu, menguatkan dan memperluas kebersamaan dengan seluruh kompinen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa," ujar Helmy, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 1 Oktober 2018.

Helmy mengatakan, sikap kedua, NU dan Muhammadiyah mendukung sistem demokrasi sebagai mekanisme politik kenegaraan. Selain itu, dua ormas ini mendorong seleksi kepemimpinan nasional dijalankan secara profesional, konstitusional, jujur dan beradab.

" Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantif serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai Agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia," kata dia.

5 dari 5 halaman

Kuatkan Komunikasi dan Kerja Sama

Ketiga, meningkatkan komunikasi dan kerja sama konstruktif untuk mencerdaska kehidupan bangsa dan membangun masyarakat yang makmur materiil maupun spirituil. Juga berperan bersama dalam politik kebangsaan melalui pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan lainnya yang strategis.

" Komunikasi dan kerjasama tersebut sebagai perwujudna ukhuwah keumatan dan kebangsaan yang produktif untuk kemajuan Indonesia," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, melanjutkan pernyataan yang disampaikan Helmy.

Sedangkan keempat, Mu'ti mengimbau masyarakat mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan. Hal ini terutama mengingat Indonesia memasuki tahun politik.

Dia melanjutkan kontestasi politik harus berlangsung secara damai dan dewasa. Selain itu, dia mengingatkan masyarakat untuk menjunjung tinggi keadaban serta kepentingan bangsa dan negara.

" Hindari sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama. Kami percaya, rakyat dan para elite Indonesia makin cerdas, santun, dan dewasa dalam berpolitik," ucap Mu'ti.

Sumber: Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra

Beri Komentar